
“Saya minta maaf, Bu. Saya memang tak tahu diri. Saya tak bisa melayani customer saya dengan baik. Beri saya kesempatan, Bu. Saya akan memperbaiki diri. Saya mohon, Bu. Ada anak istri yang harus saya hidupi.”
Manajer pria itu terus-terusan bicara dalam keadaan membungkuk. Cindy jadi canggung karena tak tahu apa yang terjadi.
“Kamu masih di sini?” Suara Tama terdengar dingin ketika melewati manajer tersebut. Pria kulkas itu mendecak kesal, lalu berkata, “Gimana sih, si Andrew. Masa mecat satu karyawan aja nggak becus.” Tama menggeleng, lalu mengeluarkan handphone dari kantongnya.
“Pak Tama, saya mohon jangan telpon Pak Andrew. Bisa-bisa beliau bikin saya diblacklist di semua tempat kerja. Saya mohon maaf, Pak Tama.” Manajer itu masih saja membungkuk.
Walau suara sang manajer pelan, beberapa tamu sempat melihat ke meja Cindy dan Tama dengan penasaran. Tama terlihat tak peduli dengan si manajer yang sudah seperti kehilangan harga dirinya itu.
“Saya sudah bilang ke Andrew, kalau kamu masih kerja di sini saat saya datang, kesepakatan saya dan Andrew batal.“ Tama bicara tanpa menatap si manajer yang masih membungkuk. Cindy ingin membuka suara, tapi tak ingin mempermalukan Tama karena membela si manajer.
“Dalam 10 detik, kalau kamu belum menghilang dari hadapan saya, saya akan telepon Andrew.” Perkataan Tama itu langsung membuat si manajer bergegas pergi sembari mengusap air mata.
Tama menggelengkan kepala, lalu mengangkat tangan untuk memanggil waitress. Seorang wanita segera mendatangi Tama dan menyodorkan buku menu dengan hormat. Tama membacanya, lalu melihat Cindy dengan senyum lebar.
__ADS_1
“Kamu suka ayam, kan? Aku pesankan menu ayam paling enak di sini, ya?” Tama lalu berbicara dengan si waitress untuk memesan menu bagi mereka berdua. Setelah si waitress pergi, Cindy tak mampu lagi menahan rasa ingin tahunya.
“Kas, kamu apakan si manajer? Dia salah apa?” Pertanyaan Cindy membuat Tama mengangkat alis.
“Dia salah apa? Pertanyaan macam apa itu? Dia nggak menghormati kamu.” Tama menjawab dengan wajah heran, seakan yang dia lakukan itu adalah hal yang normal. Cindy memejamkan mata dengan kesal.
“Hanya karena dia nggak menghormati aku, bukan berarti kamu berhak menghancurkan hidup dia.” Mendengar perkataan Cindy, Tama mulai menunjukkan kekesalannya.
“Kamu selalu saja begitu, Heat. Selalu mengiakan apa keinginan orang, walau nggak nyaman. Selalu membiarkan orang memperlakukan kamu sesukanya. Selalu diam walau sudah dihina. Aku nggak suka kamu seperti itu. Kamu nggak layak diperlakukan seperti itu. Kamu harus mulai menghormati diri kamu sendiri. Dengan cara itu, orang akan berhenti semena-mena sama kamu.”
Tama menggeleng. “Aku nggak pernah bilang kalo yang aku lakukan itu benar. Aku hanya melakukan yang seharusnya. Kita harus mengajari orang lain cara menghormati kita. Untuk orang seperti manajer tadi, itu adalah pelajaran yang sesuai.”
Cindy memejamkan mata untuk menenangkan diri. Pacar si kulkas itu masih belum terima kalau dirinya dijadikan alasan untuk seenaknya memecat orang lain. Di sisi lain, dia menghargai Tama yang mau membela dia, tapi cara Tama bukanlah cara yang benar.
“Kamu bilang aku nggak menghormati diri sendiri? Bagaimana dengan kamu? Mau dihormati dengan menghalalkan segala cara, bahkan ketika itu menyakiti orang.” Mendengar itu, Tama mulai emosi karena Cindy mengungkit kelemahan dia.
“Heat, jangan terlalu naif. Di dunia ini, nggak ada yang gratis. Untuk mendapatkan cinta dan hormat, ada yang harus kita bayar dan korbankan.“ Tama menggaruk kepalanya dengan kesal karena suasana romantis yang dia bayangkan kini hancur.
__ADS_1
“Iya, Kas. Aku memang naif. Aku juga nggak bilang kalo apa yang aku lakukan selama ini benar, tapi paling nggak, aku nggak merugikan orang.” Cindy berkata pelan saat melihat kekesalan Tama. Bagaimanapun juga, Tama sebenarnya bermaksud baik.
“Masalahnya, yang dirugikan itu kamu Heat.” Tama ikut-ikutan melembutkan nada suara, karena melihat Cindy yang tak berani menatap matanya.
“Aku ingin kamu tahu, kamu pantas dapat segala hal yang terbaik di dunia. Aku mungkin salah, tapi ini cara aku…” Perkataan Tama terpotong saat Cindy mengeluarkan kartu ke-24.
“Aku ingin, kamu batalin pemecatan si manajer.” Cindy menyodorkan kartu ke arah Tama yang cemberut.
“Kamu pake kartu kamu untuk orang lain?” Tama menggelengkan kepala dengan kecewa, tapi tetap mengambil kartu itu. Tangannya lalu mengambil handphone dan mulai mengetik sambil sesekali melihat Cindy dengan kesal.
“Permintaan nona Heater sudah dikabulkan. Puas?” tanya Tama yang kembali ke mode tanpa ekspresi. Cindy langsung tersenyum senang dan mengangguk. Tama merasa lebih tenang, karena akhirnya makan malam mereka akan berjalan lebih baik.
Sayang, keinginan Tama belum bisa terkabul. Ada dua orang yang dari tadi melihat Cindy dan Tama dari jauh. Dua orang tersebut pun berjalan mendekati Tama, dan membuat si kulkas terkejut.
Hayoo, siapa yang mendatangi Tama? Yuk ditebak di komentar.
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤
__ADS_1