
“Ayam berkokok, hari mau pagi” Pak Timo tertawa terbahak-bahak, begitu juga Pak Surya. Memang begitulah teman baik yang tahu cara memperbaiki mood satu sama lain.
Pak Surya melihat Cindy yang tertawa paksa karena lelucon yang garing itu. Anaknya terlihat lebih segar dan lebih bahagia. Ayah Cindy itu mulai berpikir kalau yang dikatakan Pak Timo itu benar, bahwa Tama baik untuk Cindy.
“Eh, ada Nak Tama. Kebetulan ada es buah. Cindy, kok cuma diam aja? Sana ambilin es buah untuk Nak Tama “ Bu Anita, Ibu Cindy, meletakkan dua gelas es buah untuk Pak Surya dan Pak Timo di meja, sementara Cindy berjalan ke dapur sesuai instruksi sang ibu.
“Tante senang, Nak Tama masih hidup dan sehat. Tante sempat khawatir saat dulu dengar kalau Nak Tama hampir mati saat tinggal sama Timo. Untungnya nggak, ya.” Bu Anita tersenyum lalu menepuk pelan bahu Tama.
Di rumah Cindy, Tama selalu merasa penuh dan dicintai. Jika dirinya beruntung, Tama berharap bisa menjadi bagian dari keluarga Cindy.
“Nih, es buahnya.” Cindy menyodorkan segelas es buah ke Tama.
“Kamu nggak minum?” tanya Tama. Entah sejak kapan, Tama merasa, apa yang dia punya dan rasa, harus juga dimiliki dan dirasakan Cindy. Bahkan saat melihat video lucu saja, Tama buru-buru mengirimkannya ke Cindy.
Cindy menggeleng, lalu pamit ke para orang tua, dan langsung menarik tangan Tama untuk memenuhi permintaan sang pacar. Saat tiba di lokasi ditanamnya Time Capsule, Cindy lalu mengambil sendok semen untuk mulai menggali time capsule.
Tama langsung buru-buru meletakkan gelas di meja dan merebut sendok semen itu dari tangan Cindy. “Loh, kamu berubah pikiran?” tanya Cindy yang heran karena Tama menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
Pacarnya itu langsung membersihkan tanah yang menempel di tangannya, lalu mulai menggali. “Aku nggak mau tangan kamu kotor. Aku aja.” Cindy melihat es buah Tama yang terbiar, dan merasa kalau harusnya Tama fokus di menghabiskan minuman itu saja.
“Kamu minum es buah saja. Kalau harus nunggu sampai kita selesai baru minum, kamu bakal pulang terlalu malam. Aku khawatir.” Tama menggeleng dan tetap sibuk menggali.
“Aku kerjanya cepat, dan minumnya cepat. Setelah ini semua selesai, aku langsung pulang. Kamu nggak usah khawatir, okay?” Tama tersenyum saat melihat kaleng Time Capsule mereka , lalu menarik dua kaleng itu keluar.
Cindy ingin membersihkan kaleng itu, tapi tangannya ditepis Tama. Pria itu lalu meminta tisu dan membersihkannya sendiri. Tama benar-benar menjaga dan merawat pacarnya dengan baik.
Saat menarik kertas keluar dari kaleng, Tama langsung mengeluarkan kartu ke-14. “Aku ingin baca punya kamu duluan. Okay?” Cindy mengangguk.
Bagi wanita itu, apapun urutannya tak akan berpengaruh. Hal ini berbeda dengan Tama, yang akan celaka kalau miliknya dibaca duluan.
“Halo, Kulkas.
Kadang, kamu seperti musim hujan yang dingin dan tak suka bicara, tapi aku suka.
Kadang, kamu seperti musim kemarau yang panas dan cepat marah, tapi aku suka.
__ADS_1
Kamu dingin ke orang lain, tapi hangat ke aku, dan aku suka.
Kamu suka ikan, aku suka ayam, tapi aku lebih suka kamu.
Aku suka merawat kamu. Aku suka menjaga kamu.
Kalau kamu baca ini dan punya perasaan yang sama,
Mari saling rawat, saling jaga, dan saling suka, untuk waktu yang lama”
“Kas, kamu nggak buta huruf, kan?” Cindy mulai khawatir karena Tama sudah melihat kertas itu selama 15 menit dan hanya tersenyum seperti orang bodoh. Tama menggeleng.
“Kamu pintar nulis, cocok jadi petinju.” Cindy langsung mendorong Tama.
“Stop bergaul sama Om Timo. Makin lama, kamu jadi makin aneh.” Tama terkekeh mendengar perkataan Cindy yang pura-pura kesal.
Wanita itu lalu mengambil kertas Tama dan membacanya. Isinya pendek, dan bikin Cindy bingung entah mau bahagia atau kesal.
__ADS_1
Kira-kira, apa isi kertas di Time Capsule Tama?
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤