
“Ada apa lagi, Nathan?” Sejak kembalinya Tama, Nathan menelepon kakaknya itu setiap hari. Walau selalu dijawab dengan kasar dan dingin, Nathan senang karena si kakak selalu menerima panggilannya.
“Kak, ayo kita nonton bioskop.” Tama merengut mendengar pertanyaan Nathan.
“Kamu bukan Cindy. Aku nggak akan ngabulin permintaan kamu.” Nathan tersenyum mendengar penjelasan Nathan. Memang hanya Cindy yang bisa menaklukkan dan mencairkan pria itu.
“Ayolah, Kak. Ini film horror yang sedang hits.” Tama berdecak kesal saat adiknya tak kunjung menyerah.
“Kakak nggak ada pasangan, dan nggak mau jadi nyamuk di antara kamu dan Lia. Nggak usah terlalu bergantung sama orang lain. Sekali-kali, kamu harus pergi berduaan saja dengan si Lia.” Tama mulai merasa pembicaraan mereka tak penting, jadi dirinya mulai menelepon sambil membaca laporan keuangan di depannya.
“Aku nggak pergi sama Lia, kok. Aku mau punya waktu berkualitas dengan kakak yang aku sayang.” Tama berhenti membaca laporan. Sejak dulu, walaupun dia dengan jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada Nathan, adiknya itu selalu sayang dan baik padanya.
“Ya, sudah. Atur aja waktunya. Kakak hanya bisa pergi pada saat weekend.” Nathan berteriak girang saat mendengar perkataan Tama. Setelah itu, dirinya langsung minta izin ke Tama untuk mengakhiri panggilan karena takut Tama berubah pikiran.
__ADS_1
***
“Kakak mau duduk di paling ujung.” Ruang bioskop yang dipilih Nathan dan Tama terdiri dari dua kolom tempat duduk di bagian kiri dan kanan. Kakak beradik itu kebagian tempat di bagian kiri paling ujung yang dekat dengan tangga.
Tama yang terbiasa duduk di ujung agar mudah keluar tanpa mengganggu orang lain, mendadak kesal karena adiknya menolak untuk memberikan kursi di ujung untuknya. Anak itu bahkan langsung berlari ke kursi ujung saat masuk ruangan, untuk mengamankan tempat.
Saat ini, bahkan setelah lampu dimatikan dan mulai muncul iklan di layar bioskop, Tama masih sibuk menarik Nathan untuk berdiri. Entah kenapa, hari ini adiknya itu sangat keras kepala.
Dirinya tak pernah menyangka kalau sedang duduk di kursi terbaik di dunia, yang berada tepat di samping kursi wanita yang dia cintai.
Saat Tama beberapa kali mencuri pandang ke arah Cindy, yang duduk di samping Ferdinand, wanita itu sama sekali tak melihat ke arahnya.
“Baiklah. Kalau Kak Tama memaksa, mari kita bertukar tempat duduk.” Nathan berbisik, karena film akan segera dimulai. Nathan yang bersiap berdiri langsung ditarik Tama untuk kembali duduk.
__ADS_1
“Nggak usah. Kali ini, kakak akan mengalah. Kamu duduk manis saja di situ, dan nggak usah berdiri. Biar kakak terbaikmu ini yang duduk di sini. Oke?” Tama berbisik, tapi langsung dibantah Nathan.
“Jangan, Kak. Nathan jadi nggak enak. Kakak saja yang duduk di sini.” Mendengar itu, Tama langsung meremas pergelangan tangan Nathan.
“Kakak sudah bilang nggak usah. Kakak sudah nyaman di sini. Nggak usah cari masalah. Kamu mau berhenti jadi adik kakak?” Tama berbisik dengan nada mengancam. Nathan lalu mengangguk dengan patuh.
Tak lama kemudian, film pun dimulai. Tama sama sekali tak bisa berkonsentrasi karena kehadiran wanita di sampingnya. Beberapa kali, dirinya ingin menggenggam tangan Cindy, tapi takut wanita itu kaget.
Saat sibuk berpikir, sebuah adegan seram dan mengejutkan muncul di layar. Semua penonton berteriak, termasuk Nathan dan Cindy. Tanpa disangka, Cindy melakukan pergerakan yang membuat Tama kaget.
Kira-kira, apa yang dilakukan Cindy?
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih
__ADS_1