
“Tiga fakta Tama. Pacar Cindy. Pacar Cindy. Bukan pacar Cindy.” Tama menyebut tiga faktanya dengan tegas, dan percaya diri.
Cindy tak tahu harus memberikan reaksi apa. Pacar kulkasnya itu jelas mengulang fakta dan melanggar aturan, tapi di sisi lain, dirinya berbunga-bunga.
“Apa, ya? Susah banget.” Nathan terkekeh mendengar tiga fakta Tama.
“Kalau sudah tahu fakta yang salah, stop ganggu-ganggu Kak Cindy dan bilang-bilang suka.” Tama menanggapi candaan Nathan dengan kesal.
Lia yang dari tadi diam, tertawa kecil dan berbisik ke Nathan, “kakak kamu lucu. Terlihat nggak peduli, tapi cemburuan.”
“Jangan bisik-bisik di depan orang yang lebih tua. Nggak sopan.” Tama melirik Lia tajam, sementara Cindy mulai panik.
“Tam, tenang. Jangan membully anak orang. Kalau mau, bikin aja anak sendiri untuk dibully.” Cindy berbisik pada Tama, tapi tersenyum canggung ke arah Lia.
“Bikinnya sama siapa?” tanya Tama serius. Cindy langsung mendorong Tama menjauh. Pacar Tama itu langsung mengalihkan pembicaraan ke kesimpulan tentang fakta yang salah. Tentu saja, semua pemain menjawab dengan benar.
Setelah permainan selesai, Cindy dan Nathan saling memberi kode. Pacar mungil Tama itu segera menarik kemeja Tama agar mereka menjauh ke dapur.
Awalnya, Tama keberatan, tetapi akhirnya mengiakan setelah Cindy mengeluarkan kartu ke-22.
“Kamu mau masak apa?” tanya Tama sembari melihat tomat, cabe, bawang merah dan terasi di depan mereka
__ADS_1
“Kamu? Kita, kali. Aku nggak masak. Tadi aku udah pesan makanan, tinggal mau tambah sambalnya aja, biar lebih enak.” Cindy mulai mencuci bahan makanan. Tama hanya menggaruk kepala karena tak pernah memasak sebelumnya.
“Kamu boleh bantu iris bawang merah?” tanya Cindy yang sibuk mengulek tomat. Tama mengangguk, lalu mengambil pisau untuk mulai mengiris. Sayang, karena memang tak pernah menyiapkan bahan makanan sebelumnya, tangan Tama malah teriris.
Cindy yang melihat darah bercucuran di jari telunjuk Tama langsung panik dan menarik jari yang berdarah untuk diisap. Wajah Tama bersemu merah saat melihat itu.
“Kamu kenapa?” tanya Cindy yang melepas jari Tama lalu buru-buru mencari plester di tas. Tama menggeleng. Hal-hal kecil yang dilakukan Cindy ini benar-benar membuat dunia Tama kacau balau.
“Kak Tama, kak Cindy. Boleh minta waktunya sebentar?” suara Lia dari pintu dapur mengagetkan Cindy dan Tama.
“Ya? Mau bicara apa? Nggak usah sungkan. Nggak ada hal-hal yang diisap di sini, kok.” Tama menjawab sebisanya, walau dalam keadaan linglung.
Teman Nathan itu mengabaikan kata-kata aneh Tama lalu berkata, “Lia minta maaf karena harus pulang sekarang. Ada urusan mendadak.”
“Oh, oke. Boleh. Silahkan pulang. Hati-hati di jalan.” Tama langsung melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat tinggal. Cindy yang masih keheranan, langsung berjalan ke arah Lia untuk mengantarkannya ke lokasi penjemputan.
Saat melangkah, Cindy melihat Nathan yang tertunduk lesu di sofa. Dekorasi mereka tadi juga sudah terkuak. Dirinya langsung memberi kode pada Tama untuk menemani Nathan.
Tama mengiakan dengan berat hati. Pria kulkas itu masih merasa kalau dirinya dan Nathan belum sedekat itu sampai bisa berbicara dari hati ke hati.
Tama duduk di samping Nathan. Dari wajah Nathan yang tak karuan, sudah jelas terlihat hasil dari pengakuan cinta tadi. “Kamu ditolak?” tanya Tama lembut. Nathan menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
“Boleh sedih, tapi nggak usah lama-lama. Kakak dulu diselingkuhi saja nggak lama-lama sedihnya.” Tama melihat Nathan yang mengusap matanya.
“Menangis saja. Nggak apa-apa. Kakak hanya ingin kamu ingat, kalau ditolak itu bukan berarti ada yang kurang dari diri kamu. Kalian hanya nggak jodoh aja. Masalahnya nggak usah diperbesar kesana kemari.” Pria kulkas itu menghela napas, dan tersenyum lega saat melihat Nathan mulai membaik.
“Nggak selamanya kita bisa punya apa yang kita mau, tetapi kita pasti akan dapat yang kita butuh.” Tama mengeluarkan semua stok kebijaksanaan yang dia miliki, lalu menepuk bahu adiknya.
Nathan masih belum berkata apa-apa. Tama lalu melanjutkan penjelasannya. “Kita akan mengalami banyak hal dalam hidup, dan kebanyakan dari mereka akan membuat kita merasa nggak cukup baik. Kamu harus tahu, kamu tuh selalu cukup dan utuh.”
Nathan akhirnya mengangguk. “Nathan juga selalu merasa seperti itu tentang Kak Tama. Nathan sayang dan hormat banget sama Kak Tama. Kak Tama adalah pekerja keras dan selalu berusaha maksimal. Tak heran, perusahaan kita semakin jaya di tangan kak Tama. “
Tama sedikit terkejut mendengar penjelasan Nathan. Pria kulkas itu tak pernah mengira kalau pembicaraan ini akan berbalik ke dirinya.
“Nathan tahu, Kak Tama pasti kecewa karena selalu dikritik Mama, tapi Kak Tama itu hebat. Kak Tama cukup. Kak Tama utuh. Kak Tama nggak butuh penerimaan dari semua orang. Kak Tama hanya butuh penerimaan dari satu orang.”
Tama mendengar penjelasan Nathan sengan serius, lalu menebak, “Satu orang itu maksudnya, Nathan?"
Nathan menggeleng. “Kak Tama hanya butuh penerimaan dari diri kak Tama sendiri. Kak Tama butuh untuk mencintai diri Kak Tama tanpa syarat.”
Tama mengangguk dan mengelus kepala Nathan. “Kamu sudah dewasa sekarang. Sudah tambah bijaksana.” Nathan yang mendengar itu menggeleng.
“Itu bukan kata-kata Nathan. Itu kata Kak Cindy.” Tama terkesiap mendengar penjelasan Nathan. “Selain itu, ada yang mau Nathan kasih tahu tentang Kak Cindy, tapi ini rahasia. Hanya di antara kita berdua saja, oke?” Tama mengangguk dan mendekatkan telinga untuk mendengar rahasia itu.
__ADS_1
Hayoo, apa yang akan dibilang Nathan. Yuk ditebak di kolom komentar
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤