
Sebuah batu tergeletak sebagai penyebab bunyi pecahan kaca jendela. Tama yang melihat itu langsung pucat. Dirinya tahu kalau Pak Vincent tak akan berhenti sampai dirinya kembali ke rumah dan meminta maaf.
Bagaimana mungkin dia tega melihat Pak Timo dan Susi terluka hanya karena dirinya keras kepala dan memilih Cindy?
Pria kulkas itu menghela napas, dan memutuskan bahwa semuanya sudah berakhir bahkan sebelum dirinya mulai berusaha merebut cinta Cindy.
Tama baru akan mendekati Pak Timo untuk menyampaikan keputusannya, tapi secara aneh, Pak Timo justru tersenyum senang. “Nah, ini bagus untuk konten saya yang baru.”
“Konten apa, Om?” tanya Tama penasaran.
“Om kamu ini punya channel khusus untuk bicara-bicara hal aneh, seram dan unik. Nah, hari ini, Om cuma perlu bahas pecahnya kaca jendela toko sambil pake rekaman CCTV. SUSI, REKAMANNYA ADA NGGAK?!” Pak Timo berteriak dengan semangat. Ayah dan akan ini benar-benar tak ada duanya.
“ADAAA, YAH! NANTI SAYA EDIT BIAR JADI VIDEO BAGUS!” Susi yang sering ketiban rejeki dari komisi view video sang ayah, menjawab dengan tak kalah semangat.
“Om Timo, papa saya bukan orang sembarangan. Saya takut kalau nanti Om Timo, Susi dan toko ini nanti kenapa-kenapa.” Tama berkata dengan wajah khawatir, tapi Pak Timo hanya terkekeh mendengarnya.
“Tenang saja, Nak Tama. Toko ini sudah diasuransi. Sejak istri om meninggal, om hanya bearktivitas untuk mengisi waktu sebelum meninggal. Kalau Susi, rasanya di dunia ini, hanya Mike Tyson yang bisa ngalahin dia. Itupun di dalam ring, ya. Kalau di luar ring, Om nggak yakin. Anak itu sungguh sekuat banteng.” Pak Tama berkata santai seraya memeriksa kaca yang tadi pecah.
“TIMO!!” teriak Pak Surya yang berlari masuk dengan panik. Ada Cindy yang mengikutinya dari belakang.
“Apaan, sih? Bikin kaget aja.” Pak Timo mengerutkan kening melihat sahabatnya yang khawatir.
“Kamu nggak apa-apa? Bang Sat bilang ke saya kalau ada suara pecah dari rumah kamu.” Pak Surya begitu kebingungan sampai tak melihat keberadaan Tama di situ. Yang memperhatikan tentu saja si Cindy.
“Susi mana?” tanya Cindy dingin.
__ADS_1
“Lagi ngeliat CCTV. Mau aku antar?” tawar Tama ramah dengan senyum lebar penuh kebahagiaan.
“Memangnya kamu tahu tempatnya?” pertanyaan Cindy dibalas Tama dengan gelengan kepala. Cindy melihatnya sinis lalu berjalan masuk untuk mencari Susi. Walau dingin di permukaan, hati Cindy masih belum bisa berkompromi.
Saat pertama kali melihat Tama di rumah Pak Timo, wanita itu serasa ingin memeluk Tama, dan memeriksa kalau dia baik-baik saja. Apalagi, sejak tadi pagi, wajah Tama sudah terlihat kusut. Sayang, Cindy masih belum bisa melupakan kemarahannya karena cintanya “dimanfaatkan” oleh Tama.
Setelah berbincang beberapa saat dengan Pak Timo, akhirnya Pak Surya sadar dengan keberadaan Tama di situ.
“Ngapain kamu di sini?” Tama sudah hampir muntah mendengar pertanyaan ini. Sebelum Pak Surya berjalan ke arah Tama, Pak Timo langsung menarik sahabatnya untuk masuk ke dalam gudang.
“Kamu tega ya, Tim. Kita sudah sahabat sejak lama dan kamu nyimpen musuh kita di rumah kamu?!" Pak Surya berteriak dengan marah.
“Musuh kita? Sur, dia itu musuh kamu, bukan musuh saya. Lagian, apa dosa besar yang anak malang itu lakukan ke kamu? Dia melakukan satu kesalahan, dan kini harus mengorbankan segalanya.” Pak Timo berusaha tetap tenang di depan Pak Surya.
“Korbanin apa? Berapa yang sudah dia bayar ke kamu? Hah?!” Pak Timo ingin sekali bilang kalau Tama sudah meninggalkan semua yang dia punya untuk kembali bersama Cindy, tapi Tama melarangnya.
“Surya, kamu tenang dulu. Kamu tahu kan, kalau uang itu nggak terlalu penting buat saya. Saya hanya hidup untuk menunggu waktu bertemu kembali dengan Dinda. Sekarang, kamu jujur aja ke saya. Jauh di dalam hati kamu, kamu tahu kan, kalau Tama adalah yang terbaik untuk Cindy?" Pak Timo bertanya dengan lembut.
“Tapi dia ninggalin anak kesayangan saya. Dia bikin anak saya sedih. Dia itu seperti anak-anak jahat yang membully Cindy di sekolah. Berani-beraninya mereka menyakiti anak yang sangat saya kasihi. Saya nggak rela!” Pak Surya berteriak dengan air mata yang kini mengalir di pipi. Rasa sakit dan penyesalan itu selalu menggerogoti dirinya. Pak Surya lalu berlutut dan menutupi wajah dengan kedua tangan.
Pak Timo mendekati Pak Surya dengan sedih. “Surya, sudah waktunya kamu memaafkan diri kamu. Kamu hanya satu kali gagal melindungi Cindy, bukan berarti kamu ayah yang gagal. Kamu lebih dari seorang ayah yang terlambat melindungi anaknya bertahun-tahun yang lalu.” Pak Timo mengusap punggung Pak Surya yang bergetar karena tangisan.
“Kamu adalah ayah yang baik. Suami yang penyayang. Sahabat yang setia. Pimpinan yang perhatian dan bertanggung jawab. Kenapa kamu hanya fokus ke kegagalan kamu? Soal Cindy yang tak mau terbuka, semuanya memang butuh waktu. Kamu sudah tahu kesalahan kamu dan itu cukup. Yang kamu bisa saat ini adalah menuntun dia dengan perlahan. Biarkan dia sembuh dengan caranya sendiri.” Pak Surya masih diam, tapi lalu berkata,
“Kamu pintar berkata-kata, Tim. Cocok jadi tukang pukul.” Dua sahabat itu lalu tertawa terbahak-bahak bersama.
__ADS_1
“Biarkan Cindy menyelesaikan masalahnya dengan Tama. Sudah waktunya dia berdiri untuk dirinya sendiri, dan menurut pengamatan saya, Tama akan menjadi ‘guru’ yang baik untuk dia.” Pak Timo berkata dengan bijak, dan dibalas dengan anggukan temannya. Mereka berdua lalu keluar gudang.
Di ruang tamu, Tama duduk dengan gelisah. Dirinya merasa canggung karena ditinggal sendiri di rumah yang masih asing.
Tiba-tiba saja, kegelisahannya hilang saat melihat Cindy. Sayang, Cindy malah mengabaikannya dan memilih berbincang dengan Pak Surya dan Pak Timo, lalu pulang.
“Tam, tangkap!” Susi melempar plester luka, tapi justru mendarat di dahi Tama. Susi menggeleng kecewa melihat pria kesayangan Cindy ternyata tak sekompeten yang dia pikir.
“Tempel di kaki kamu. Katanya ada luka kecil. Tadi ada yang uring-uringan cari plester luka karena takut kaki kamu kenapa-kenapa. Benar-benar bikin repot,” keluh Susi. Tama tersenyum senang mendengarnya.
“Itu dipakai, jangan dijadikan suvenir. Nanti aku diceramahin lagi sama orangnya, kalo kamu nggak pake.” Susi lalu kembali untuk mengedit video.
Pak Timo menggeleng melihat Tama yang terus-terusan melihat plester luka itu. Pria bodoh itu sangat senang mendapat perhatian kecil dari Cindy lagi. Hanya hal seperti itu saja, bikin Tama merasa bersyukur dengan keputusannya meninggalkan segalanya.
“Jangan terlalu banyak senyum, Nak Tama. Om nggak mau ada yang lebih ganteng dari Om.” Tama mengangguk patuh dan merapatkan bibir saat mendengar perintah Pak Timo. Di saat dirinya bahagia seperti ini, rasanya disuruh lompat ke jurang juga, pria bodoh itu mau.
“Om sudah mutusin buat ngangkat kamu jadi karyawan di sini. Kamu bisa tidur di kamar tamu, makan tiga kali sehari, dan dapat gaji UMP.” Pak Timo berkata dengan bijak. Tama mengangguk dengan penuh semangat.
“Saya mau, Om. Makasih banyak. UMP itu Upah Minimum Provinsi, ya?” tanya Tama dengan semangat.
“Bukan. Itu Upah Minimum Pak Timo. Saya gaji kamu dengan jumlah sesuka saya. Gimana? kamu masih mau?” Tama mengangguk tanpa lelah. Dalam keadaan ini,bisa punya tempat tinggal dan dikasih makan saja dia sudah bersyukur.
“Tapi Om, saya masih khawatir kalau anak buah Papa datang mengganggu lagi.” Pak Timo menggeleng sembari terkekeh.
“Jangan takut, Nak Tama. Om kenal pihak yang lebih berkuasa dari papa kamu. Mau tahu?”
__ADS_1
Hayoo, siapa coba?
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤