Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Rencana


__ADS_3

“Papa ada kabar baik, Tama. Kamu nggak perlu berhubungan dengan Dhita lagi. Saat ini, semua keputusan grup mereka ada di tangan Ferdinand. Kita cukup mendekati Ferdinand saja.” Pak Vincent menjelaskan dengan suara yang tenang seperti biasa.


“Papa mau jodohin Tama sama Ferdinand?” Setelah menanyakan hal itu, dirinya terkekeh. Kebahagiaan dan keceriaan dari pertemuannya dengan Cindy tadi jelas masih tersisa, karena Tama merasa sangat santai saat ini.


“Kamu mabuk? Kenapa bertanya hal aneh seperti itu? Kamu nggak perlu menikah dengan Dhita lagi, tapi kamu harus berhenti berhubungan dengan Cindy.” Pak Vincent menjelaskan dengan santai setelah menyeruput kopi di cangkir mewah.


“Maksudnya, Pa? Apa hubungannya Cindy dengan semua ini?” Tama tak mau terima keputusan papanya yang mendadak dan tak masuk akal itu.


“Itu keinginan Ferdinand. Dia ingin memuluskan jalan untuk mendapatkan Cindy, dan kamu adalah satu-satunya penghalang. Bayangkan Tam, semua masalah kita selesai hanya dengan kamu menjauh dari seorang wanita. Kesepakatan yang cukup adil, bukan?" Pak Vincent bertanya seolah lupa kalau anaknya bahkan sanggup kehilangan segalanya asal bisa bersama Cindy.


“Tama nggak mau, Pa. Ferdinand dan keluarganya bukanlah satu-satunya solusi. Kita masih bisa mencari solusi lain.” Tama menolak permintaan papanya dengan tegas, lalu melanjutkan. “Tapi kalau papa mau memaksa Tama menjauhi Cindy, besok Tama akan berhenti kerja dan keluar dari rumah ini.”


Pak Vincent menghela napas. Papa Tama itu sudah menduga kalau anaknya akan menolak. Dirinya masih bingung dengan alasan Tama dan Ferdinand begitu terikat dengan wanita biasa seperti Cindy.


“Apa kamu tahu, kalau Papa bisa menghancurkan keluarga Cindy seperti di masa lalu?” tanya Pak Vincent, dan membuat Tama terkejut.


“Masa lalu? Apa maksud papa?” Perasaan Tama mulai tak enak.

__ADS_1


“Papa yang menghancurkan bisnis ayahnya Cindy.” Jawaban singkat itu seperti menghancurkan dunia warna warni yang baru saja dihuni oleh Tama.


“Tak sulit untuk melakukannya, bahkan bila itu harus membuat papa melawan youtuber murahan bernama Timo itu.” Pak Vincent menggeleng mengingat pria yang terus-terusan memojokkan dirinya lewat media sosialnya.


“Kenapa, Pa? Kenapa papa melakukan hal itu? Apa salah keluarga Pak Surya ke papa?” Tama masih tak bisa terima kalau papanya yang menghancurkan keluarga wanita yang dicintainya.


“Papa nggak punya dendam pribadi sama keluarga mereka. Sayangnya, partner bisnis papa nggak suka sama mereka. Menghancurkan mereka adalah cara papa memuluskan kerja sama…” Pak Vincent terhenti saat melihat Tama meninju tembok.


“Jangan emosian. Jadi pria itu harus tenang dan kuat, seperti papa. Makanya, walau terlahir dari keluarga biasa saja, papa bisa bersanding dengan mama kamu dan mengembangkan usaha keluarga sampai seperti ini.” Tama menggeleng seolah menunjukkan kalau dirinya tak peduli dengan “kisah sukses” papanya.


“Tapi, kalau Papa menyerang keluarga Cindy, ada Ferdinand untuk membantu mereka. Papa mau melawan Ferdinand?” tantang Tama.


"Justru itu lebih bagus. Ferdinand akan terlihat superior, sementara kamu adalah anak orang yang menghancurkan mereka. Daripada itu terjadi, berhenti dari sekarang. Fokus ke perusahaan."


Pak Vincent melihat Tama yang mengepalkan tangannya dan mendekat. “Tak perlu terlalu dipikirkan. Wanita di dunia ini bukan hanya dia. Karena itu, mulai besok, putuskan hubungan kerja kantor cabang kita dengan usaha katering wanita itu. Jangan lupa, sekalian putuskan hubungan kalian berdua. Kamu mungkin akan sedih selama beberapa hari, tapi semuanya akan menjadi lebih baik. Okay?” Pak Vincent menepuk bahu Tama.


Tama menjauhkan diri dari papanya, lalu berjalan keluar dan membanting pintu. Pria itu tahu kalau papanya serius dan mampu melakukan yang sudah dikatakan sebelumnya. Masalahnya, Tama tak mungkin bisa bertahan jika kehilangan Cindy lagi.

__ADS_1


Akhirnya, Tama memutuskan untuk menelepon Cindy dengan ponsel sekali pakai di dalam mobil. Dirinya putus asa dan menceritakan segalanya ke Cindy, kecuali tentang cerita papanya yang membuat keluarga pacarnya bangkrut dulu. Tama juga tak menyebut kalau syarat itu berasal dari Ferdinand, karena tak mau hal itu dikonfirmasi oleh Cindy dan malah menciptakan masalah yang lebih besar.


“Kamu mau kita pura-pura tak berhubungan lagi, karena takut keluarga aku diganggu?” Cindy menyimpulkan cerita Tama, dan diiyakan oleh si pria.


“Sampai kapan? Apa kita harus pura-pura tak punya hubungan sampai kiamat?” Cindy terkekeh. Wanita itu senang karena Tama tak menyimpan masalahnya sendiri lagi. 


“Aku punya dugaan yang bisa membalas papa, tapi sampai saat ini, belum terbukti. Kamu bisa kan, menunggu sedikit? Mulai besok, aku juga nggak akan menghubungi kamu. Jadi…” Penjelasan Tama dipotong oleh Cindy.


“Perjanjiannya hanya berlaku untuk kamu, kan? Kamu nggak bisa mendekati aku, tapi aku bisa mendekati kamu, kan?” Pertanyaan Cindy membuat Tama mengerutkan kening.


“Kamu bisa istirahat melangkah. Aku yang akan melangkah mendekati kamu, tapi ini nggak gratis.” Tama menggeleng mendengar perkataan Cindy. Dirinya lega karena Cindy bisa mengerti permasalahannya, walau belum sampai pada poin papanya mencelakakan keluarga wanita itu.


“Kamu harus pakai kartu kamu yang ke-15 dan bilang, ‘aku mohon Yang Mulia Cindy Sadja, dekati aku, karena aku nggak bisa mendekati kamu saat ini' .” Tama tertawa, tapi tetap mengikuti keinginan wanita itu.


“Kamu harus hati-hati, Heat. Jangan berlebihan. Jangan sampai papa…” perkataan Tama dipotong oleh Cindy.


“Kamu nggak usah ngatur-ngatur. Aku tahu apa yang harus dilakukan. Sekarang sudah malam. Kamu tidur aja. Mimpi indah, dan sampai ketemu di kantor.”

__ADS_1


Kira-kira, apa yang akan dilakukan Cindy?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2