
Cindy merangkul Tama, lalu berteriak. Jantung Tama seperti hampir berhenti karena sentuhan wanita yang sangat dirindukannya itu. Saat sadar, wanita itu melepaskan tangan. Tama ingin sekali menahan tangan itu, tapi ada Ferdinand di samping Cindy.
Walaupun begitu, sebagai manusia yang berakal sehat, tentu Ferdinand bertanya-tanya mengapa wanita yang datang bersamanya itu lebih memilih penonton di samping kanannya daripada dia.
Ferdinand melongok sebentar untuk melihat sosok di samping Cindy, tapi wanita itu malah mendorong dirinya ke depan dan menghalangi pandangan Ferdinand. Setelah beberapa kali gagal melihat, Ferdinand kembali bersandar dan berusaha menikmati film.
Pikiran Tama kacau. Pria itu merasa sudah kehilangan harga diri karena begitu takut pada kompetitornya. Walaupun begitu, pikiran kalau keluarga Cindy akan hancur karena dirinya, membuat dia tetap bertahan.
Pertahanan Tama juga terus diuji. Cindy lalu menggenggam tangan Tama, tanpa mengalihkan perhatian dari layar. Ibu jari wanita itu mengelus perlahan tangan Tama, seperti ingin menenangkan pria itu dari pikiran ruwetnya.
Hanya dengan sentuhan sederhana itu, Tama langsung tenang. Sayang, ketenangan Tama kembali terusik karena film akhirnya selesai dan lampu dinyalakan. Ferdinand langsung melihat ke arahnya dengan wajah dingin.
__ADS_1
“Ngapain kamu di sini?” tanya Ferdinand tanpa ekspresi. Tama yang ingin menjawab, langsung dihentikan oleh Nathan. Adik Tama itu menolak untuk diam seperti sebelumnya. Dia ingin membela kakak kesayangannya.
“Nathan mengajak Kak Tama nonton. Ada yang salah dengan itu?” Tama sedikit kaget saat mendengar suara tegas Nathan. Seumur hidupnya, dia tak pernah mendengar Nathan bersuara tinggi. Anak itu selalu tersenyum, bersikap sopan, dan berbicara dengan tenang.
“Aku nggak percaya. Kalian sengaja memilih tempat duduk di sini, kan?” Kali ini, Tama yang kaget karena suara Ferdinand. Pria itu sangat jarang bersuara kasar, tapi memang cinta bisa mengubah seseorang.
Tama menghela napas dan akan menjawab, tapi Nathan kembali menjawab tanpa mau kalah. “Nathan juga nggak percaya. Kalian sengaja memilih tempat duduk di sini untuk mengganggu kami, kan?” Sungguh jawaban menantang dari si adik berjiwa malaikat
Tama hanya bisa tertawa dalam hati. Dirinya 99.99% yakin kalau Cindy terlibat dalam hal ini. Karenanya, rasa kesalnya menguap entah kemana dan terganti menjadi rasa kagum ke wanita itu. Dirinya tak pernah menyangka kalau Cindy begitu pintar bersiasat.
“Sudah, sudah. Jangan bertengkar. Kita akhiri saja di sini. Okay? Mari kita keluar secara terpisah.” Tama menarik tangan Nathan, tapi si adik menolak.
__ADS_1
“Nathan nggak terima kalau Kak Tama diperlakukan seperti itu. Kakak harus minta maaf ke Kak Tama.” Nathan menatap Ferdinand dengan kesal. Dia tak rela kalau kakak yang sangat disayanginya itu dituduh tanpa alasan.
Hati Tama terasa hangat karena sang adik melindungi dirinya mati-matian. Pria itu jadi merasa bersalah karena sering memakai nada suara kasar ketika sang adik menelepon. Dia berjanji akan memperlakukan adiknya dengan lebih baik ke depannya.
“Nathan, cukup. Sebelum kita diusir oleh para staf, lebih baik kita keluar”. Tama berkata sembari menunjuk staf yang sudah menunggu dengan tak sabar untuk membersihkan ruangan. Nathan lalu mengangguk dan berjalan lebih dulu.
Tama tak ingin menjatuhkan harga diri Nathan dengan bersikap sopan pada “musuh”, jadi dirinya mengikuti langkah Nathan tanpa melihat ke arah Cindy dan Ferdinand.
“Kamu sudah jagoan sekarang. Makasih ya, sudah membela kakak.” Tama berkata sembari mengacak rambut sang adik. Nathan tersenyum senang, apalagi ketika dirinya memikirkan rencana selanjutnya yang sudah diatur dengan Cindy.
Kira-kira, apa rencana mereka selanjutnya?
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤