Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Putus Asa


__ADS_3

“Susi, ngapain kamu nelpon Cindy? Ini sudah tengah malam, dan besok Cindy dan Om Surya harus kerja.” Suara Pak Timo terdengar kesal saat berbicara dengan Susi. Di dalam kamar Tama, ada Pak Timo, Susi, dan kalau Tama tak salah lihat, Cindy.


Wanita yang sebelumnya menolak untuk dipeluk itu, menempelkan plester kompres penurun demam di dahi Tama, lalu membantunya duduk untuk minum obat.


“Gimana saya nggak nelpon Cindy, Yah? Tama terus mengigau dan menyebut nama Cindy, lalu bilang kalau dia sudah mau mati.” Susi menjawab jujur, karena memang khawatir dengan keadaan Tama.


“Dia cuma demam, nggak akan mati. Besok palingan akan sehat seperti biasa.” Pak Timo melihat ke arah Tama, lalu mengajak Susi keluar untuk menemani Pak Surya yang sedang duduk di ruang tamu.


Cindy menghela napas melihat Tama yang sudah kembali berbaring. “Kamu istirahat saja. Besok kalau masih sakit, baru ke dokter.” Cindy baru akan beranjak, tapi tangannya sudah ditarik Tama. Pria itu kini menguatkan diri untuk duduk dan bertanya,


“Boleh aku peluk kamu?” Tama menunjukkan wajahnya yang paling memelas.


Cindy menggeleng. “Kan aku sudah bilang, untuk itu, kita harus menunggu Ferdi…nand.” Wanita itu lanjut menyebut nama panggilan lengkap Ferdinand agar tak membuat si sakit marah.


“Tapi, aku sudah akan mati. Nanti kamu menyesal kalau harus memeluk aku yang sudah tak bernyawa.” Cindy berusaha menahan tawanya. Kenapa pria ini bisa begitu polos dan menggemaskan di saat sakit?


“Satu, kamu nggak akan mati. Dua…” Cindy terkejut saat Tama memeluknya, tapi tak berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan si sakit.


“Lima menit saja. Aku mohon. Setelah itu, kamu bisa pergi.” Cindy akhirnya mengiakan, lalu menepuk-nepuk pelan punggung Tama seperti anak kecil.


“Ini kuhitung sebagai kartu keenam, dan hanya akan berlangsung selama lima menit. Oke?” Tama mengangguk lemah setelah mendengar perkataan Cindy, dan ternyata tak perlu menunggu sampai lima menit bagi si sakit untuk tertidur di pelukan Cindy.


Setelah beberapa menit, Cindy melepaskan pelukan Tama, lalu membantunya tidur dengan posisi yang lebih nyaman di tempat tidur.


Wanita itu merasa berat untuk meninggalkan Tama, tapi akan aneh jika dirinya menemani Tama sepanjang malam.


Walau begitu, Cindy tak bisa menahan diri untuk mencium kening Tama, dan berbisik, “Ini supaya kamu cepat sembuh dan tidur nyenyak. Mimpi indah, Tama-ku.”

__ADS_1


Tak terdengar tanggapan dari si sakit yang sedang tidur, dan karenanya, wanita itu lalu berjalan keluar kamar untuk pamit pulang ke Pak Timo dan Susi.


***


Tama terbangun jam enam pagi, dan bergegas keluar. Di dapur, seperti biasa, sudah ada ibu-ibu yang ramai bekerja dan bergosip.


“Timo, Pegawai CEOmu sudah bangun.” Seorang ibu memanggil Pak Timo. Tama agak kaget karena dipanggil seperti itu. Dirinya lupa, ibu-ibu itu punya akses informasi melebihi intel, jadi tak mungkin tak tahu tentang dia.


Pak Timo berjalan mendekati Tama, lalu mendorongnya kembali ke kamar. “Kamu istirahat saja dulu. Nanti Om ambilkan bubur ayam untuk kamu makan.” Pak Timo lalu menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi Tama.


“Kamu sudah nggak hot lagi, sudah nggak bisa masuk ke majalah dewasa.” Pak Timo terkekeh mendengar lelucon garingnya sendiri, sementara Tama cemberut karena kata-kata Pak Timo yang tak terduga.


Saat Pak Timo masuk membawa semangkuk bubur, Tama bertanya pelan, “Om, boleh saya bicara?”


“Nggak boleh.” Pak Timo menjawab dengan dingin, tapi lalu melanjutkannya dengan, “bercandyaaa…” . Entah setan apa yang sudah merasuki ayah Susi itu.


“Mau bilang apa? Gosip terbaru?” Pak Timo duduk di tempat tidur Tama dengan penuh semangat.


Tama menggeleng. “Bukan gosip, tapi saya pikir, saya sudah kalah. Cindy nggak akan kembali lagi ke saya.” Pria itu mengusap air matanya dengan punggung tangan.


Sebenarnya, Tama malu untuk menangis, tapi dirinya memang sedikit cengeng ketika sakit. Lagian, Tama sudah menganggap Pak Timo sebagai orang tuanya. 


Pak Timo sudah bersiap menggoda Tama, tapi mengurungkan rencana karena melihat Tama menangis. “Om heran, kok kamu bisa berpikir seperti itu setelah memeluk Cindy? Pelukannya kurang hot?”


“Waktu saya sakit dulu, Cindy mau peluk saya. Sekarang? Bahkan pakai kartu saja susah, mana dibatasi lima menit. Cindy sudah nggak peduli lagi sama saya, tapi dia nggak salah juga. Selain sudah bikin salah, saya juga sudah nggak punya apa-apa. Apa lagi yang bisa saya tawarkan ke Cindy?” Tama merengek seperti anak kecil.


Dalam hidupnya, Tama hampir tak pernah seperti itu. Papa dan mamanya mau dia kuat dan tegar dalam segala situasi.

__ADS_1


Karenanya, Tama dilarang cengeng dan mengeluh, bahkan ketika sakit. Kini, setelah mendapat perlakuan sebagai layaknya anak oleh Pak Timo, Tama ingin juga merasakan curhat pada orang tua.


“Om nggak pernah paham jalan pikiran orang-orang seperti kamu.” Tama kaget mendengar perkataan Pak Timo yang dipikirnya akan membujuk dengan penuh kasih sayang.


"Untuk orang yang moto hidupnya ‘kalo belum happy, berarti belum ending’ seperti Om, Om nggak bisa mengerti mengapa orang seperti kamu selalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum pasti di masa depan.”


“Maksud Om?” Tama bertanya dengan suara pelan.


“Memangnya, Cindy pernah bilang kalo dia nggak akan kembali lagi sama kamu?” tanya Pak Timo.


“Cindy pernah bilang, Om. Setelah kartu ke-24…” Jawaban Tama terpotong oleh pertanyaan susulan Pak Timo.


“Memangnya, sekarang sudah kartu ke-24?” Tama menggeleng sebagai jawaban. “Itu artinya, kamu sudah mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Pak Timo menghela napas, lalu bercerita,


“Setelah Susi lahir, kondisinya kurang baik. Dokter bahkan ragu kalau Susi akan berumur panjang. Setiap hari, tante Dinda, istri Om, menangis, sampai kesehatannya juga ikut terganggu. Padahal, itu kan kata dokter, bukan kata Tuhan.” Pak Timo berhenti sebentar, lalu tersenyum sebentar untuk mengingat wajah sang istri yang sudah berpulang.


“Om mengajak istri Om untuk berhenti menangis lalu, beralih ke mencintai serta membesarkan Susi dengan dagu terangkat. Om ingin mencintai anak Om dengan berani, tanpa takut kehilangan. Paling tidak, kita akan saling mengingat sebagai orang tua dan anak yang saling menyayangi, dan bukan sebagai orang tua yang takut anaknya akan meninggal.” Tama menyimak dengan serius.


“Hasilnya? Semua tangisan dan kekhawatiran di awal hanya berakhir sia-sia. Susi tumbuh sebagai anak yang kuat dan sehat, bahkan lebih lama bertahan hidup dari ibu yang mengkhawatirkannya.” Tama hanya diam sembari menunggu lanjutan cerita.


“Kamu juga harus berani mencintai Cindy dengan dagu terangkat. Cintailah dia dengan berani tanpa takut kehilangan. Om nggak bisa menjamin kalau Cindy akan memilih kamu, tapi Om ingin kamu diingat Cindy sebagai pria yang mencintainya sebaik yang dia bisa, bukan sebagai pria yang memaksa untuk memiliki dia.” Tama mengangguk mengerti.


Hati Tama terasa hangat dengan nasihat Pak Timo. Walau blak-blakan dan terlihat aneh serta hobi menggosip, Pak Timo adalah orang paling baik dan bijak yang dia kenal.


Pembicaraan dua pria itu tiba-tiba terhenti ketika Susi masuk dan bertanya hal yang membuat Tama kembali bersemangat untuk mencintai Cindy dengan berani.


Kira-kira, apa ya, yang ditanyakan Susi?

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2