
‘“Pakai payung?” Cindy menebak dengan ragu-ragu. Tama menggeleng, dan meremas kertas jawaban yang dia pegang dengan gugup.
Pak Timo memang pernah melapor ke ayah Cindy kalau mereka pelukan di bawah hujan, tapi bukan bukan berarti aktivitas mereka harus diumumkan ke semua orang, kan?
Tiba-tiba, Pak Karyo langsung datang merebut, merobek kertas itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Sungguh atraksi luar biasa yang tak akan bisa dilihat lagi dalam jutaan tahun.
"Karyo! Kenapa dimakan kertasnya?” tanya Pak Surya yang berlari-lari panik untuk mengeluarkan kertas dari mulut Pak Karyo. Pria yang memaksa mengunyah kertas kecil itu, langsung tersenyum setelah berhasil menelan kertas.
Selain Tama, Pak Karyo adalah satu-satunya orang yang tahu isi kertas. Si bapak begitu berdedikasi dengan permainan, sampai rela nelan kertas karena takut permainan gagal gara-gara acara peluk-memeluk Tama dan Cindy saat hujan.
“Trus, apa jawaban yang benar, Yo?” Bu Dinah yang mendadak kompetitif langsung bertanya.
“Main Air, Din,” jawab Pak Karyo seadanya.
Bu Dinah langsung tertawa terbahak-bahak. “Nak Tama ada-ada aja. Masa ibu mainin air ke anaknya saat lahir. Ya, pastilah si Cindy nggak bisa nebak.” Tama hanya diam mendengarnya, sembari membentuk mulutnya untuk mengucapkan “maaf” ke Cindy tanpa suara.
Permainan pun kembali berjalan dengan damai, dan berakhir dengan kekalahan Tama dan Cindy. Ironisnya, kekalahan mereka hanya karena kurang satu skor gara-gara “skandal payung di bawah hujan.”
Semua peserta lalu kembali ramai berbincang-bincang akrab sementara anak-anak sibuk bermain. Semuanya bahagia, kecuali Tama yang terduduk lesu.
“Kamu kenapa, Kas?” Cindy duduk di samping Tama. Dirinya sudah minta izin ke ibunya untuk meninggalkan kerjaan di dapur, dan menemani si pacar.
__ADS_1
Tama menggeleng lalu melihat ke depan, dan mencoba untuk tak melihat wajah Cindy. Pacar mungil Tama itu langsung memegang pipi Tama untuk diarahkan ke wajahnya.
“Kamu sedih, karena kalah?” Cindy bertanya dengan lembut. Tama mengangguk seperti anak kecil.
“Bukannya kamu sudah biasa dengan hal menang kalah di dunia bisnis?” tanya Cindy keheranan.
“Tapi, ini lebih penting dari dunia bisnis. Aku sudah bikin malu keluarga kamu. Mana kalahnya sama si Ferdinand lagi.” Tama mengeluh tanpa henti. Pipinya menggembung sementara matanya menolak melihat Cindy karena malu.
Cindy selalu senang melihat Tama dalam versi yang seperti ini. Sejak peristiwa Tama hampir membuat manajer sombong dipecat beberapa waktu lalu, Cindy baru sadar kalau Tama tak ramah ke semua orang.
Di mata orang lain, Tama sangat dingin dan tegas, sementara ketika bersama Cindy dan keluarganya, Tama seperti anak kecil.
Tak lama kemudian, Tama membuka mata. “Kamu sudah nggak sedih?” Si kulkas mengangguk. “Bohong.” Cindy tersenyum karena entah kenapa dia yakin, pacarnya itu masih menyimpan rasa sedih.
“Aku takut kalau kelamaan, tangan kamu capek.” Tama mengangkat tangan, dan mengelus punggung tangan Cindy dengan ibu jarinya.
“Aku nggak capek, kok, tapi kalo kamu mau terusin ngelusnya, aku izinin.” Cindy mengedipkan mata.
“Aku malu, Heat. Hal sekecil ini saja bisa kalah. Aku memang nggak bisa apa-apa.” Kini, Tama menggenggam tangan Cindy erat-erat. Wajahnya terlihat sedih.
Dari situ, Cindy sadar kalau Tama sedih bukan hanya karena masalah kalah di permainan. Perkataan mama Tama ke pria itu benar-benar berefek buruk ke jiwanya.
__ADS_1
“Kamu gagal sekarang, artinya kamu akan jadi orang gagal selamanya.” Cindy berkata pelan. Mata Tama membelalak mendengar perkataan Cindy. Dirinya mulai tersulut amarah, dan lalu menghempas tangan Cindy.
“Itu kan, yang ingin kamu dengar? Itu kan, yang selalu kamu katakan ke diri kamu sendiri?” tantang Cindy. Wanita itu bersuara dengan lembut, tapi dampaknya sampai bisa menghancurkan kepercayaan diri Tama.
“Stop jahat ke diri kamu sendiri, Kas. Jangan biarkan hal sementara menciptakan diri kamu yang permanen. Kamu bukan orang gagal. Kamu hanya nggak menang di permainan ini. Besok-besok, kamu bisa saja menang. Terus, untuk apa kamu sedih sekarang?" Cindy berhenti sebentar untuk meraih tangan Tama, dan melanjutkan,
"Kekalahan kamu kan, hanya sementara. Di mata aku, kamu itu pekerja keras, lembut hati, dan cerdas. Kamu percaya aku, nggak?” Cindy berkata tanpa sadar kalau air mata sudah menggenang di pelupuk mata si pacar.
“Aku percaya kamu. Aku beruntung punya kamu, yang selalu ngingetin aku.” Tama berkata dengan wajah bahagia.
“Aku senang kalo bisa bantu kamu, tapi aku mau kamu jangan nunggu aku untuk ngingetin kamu. Ke depannya, kamu juga harus bisa ngingetin diri kamu sendiri. Kamu ingat kan, yang pernah aku bilang saat kembang api di festival musik? Kamu dilarang jatuh cinta ke aku, kalau belum bisa cinta ke diri kamu sendiri.” Cindy berkata dengan bijak, walau dia tahu, dirinya juga punya luka yang harus dihadapi.
“Hayoo, kalian lagi ngapain? Awas lo, kalo sampe ciuman, Om laporin ke Pak Surya.” Seperti biasa, Pak Timo selalu muncul di saat yang tidak tepat.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan-makan. Setelah makan-makan yang serba ramai, semuanya lalu bersih-bersih dan pulang.
Saat bersih-bersih tadi, Bu Anita, Ibu Cindy, tak sengaja menemukan album foto lama. Setelah melihat-lihat, Bu Anita tiba-tiba terkekeh melihat selembar foto Cindy dan seorang anak laki-laki yang berseragam SD.
“Ini foto kamu saat SD, dengan si bocah gatel.” Sang ibu menunjukkan foto itu ke Cindy dan kembali tertawa karena julukan si anak laki-laki.
Cindy melihat foto itu cukup lama, sampai akhirnya kaget karena wajah anak laki-laki itu mirip dengan seseorang yang dia kenal.
Hayoo, mirip dengan siapa? Coba ditebak di kolom komentar.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤