Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Bubur Ayam


__ADS_3

“Masih hidup?” Susi bertanya dengan wajah mengantuk. Tama mengangguk untuk menjawab pertanyaan wanita yang masuk ke kamarnya dengan kesal.


“Kamu yang sakit, aku yang nggak bisa tidur. Mana setiap satu jam ditanyain keadaan kamu. Lain kali, kalo hujan, cari payung, jangan nari-nari di bawah hujan kayak film India.” Tama hanya diam mendengarkan keluhan Susi sambil makan bubur.


“Om, bubur ayamnya enak banget. Cindy suka bubur ayam. Boleh nanti saya bawa semangkuk ke rumah dia?” tanya Tama malu-malu.


“Kalo untuk keluarga Surya, kamu bawa sebelanga juga boleh. Kamu yakin, sudah sehat?” Pak Timo kembali bertanya, mengingat kemarin Tama terus-terusan bilang kalau dia akan segera mati. Tama mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Pak Timo.


Setelah selesai makan bubur, Tama memindahkan bubur ayam ke kotak styrofoam untuk dibawa ke rumah wanita kesayangannya. Saat berjalan kembali ke kamar, Tama dipanggil ibu-ibu untuk menggosip.


“Eh, kamu yang kemarin katanya hampir mati, ya? Ajaib ya, udah bisa jalan. Tuh, Timo dari kemarin nggak tidur karena takut kamu kenapa-kenapa.” Seorang ibu bertubuh tinggi memberikan informasi yang lengkap dan terpercaya seperti biasa.


Tama terharu mendengarnya. Walau penuh dengan kata-kata tajam dan tak masuk akal, Pak Timo memang sangat perhatian. Tama merasa sangat beruntung dipertemukan dengan Pak Timo pada titik terendah dalam hidupnya.


“Anak muda zaman sekarang ternyata kuat-kuat, ya. Selain kuat, ternyata aneh juga. Kamu tahu nggak, di samping rumah saya ada pasangan muda. Suaminya selalu pulang malam, trus, kalo telepon untuk buka pintunya nggak diangkat, selalu berteriak, ‘Babi, buka pintunya.’ “.


Ibu-ibu yang ada di situ sampai menutup mulut karena kaget dengan kekasaran sang suami. “Tapi jangan salah, loh. Istrinya malah balas, ‘Tunggu sebentar, Anjing.’ “


Situasi semakin memanas, dan Tama kini mengerti mengapa Pak Timo serius menenggelamkan diri ke dunia pergosipan ini.


“Saya kan nggak nyaman ya, kalo dengar hal-hal seperti itu. Karena itu, sebagai tetangga yang baik dan benar, saya datang untuk bicara baik-baik.” Sang ibu yang menjadi narasumber, diam sebentar untuk melihat reaksi teman-temannya yang memuaskan.


“Ternyata oh ternyata, kenyataannya di luar nalar. Mereka berdua pakai shio masing-masing sebagai panggilan kesayangan.” Semua orang tertawa geli mendengarnya, termasuk Tama.


“Tama, pergi mandi sana. Jangan kelamaan bawa bubur ayamnya. Nanti bisa-bisa ayamnya hidup lagi.” Tama mengangguk, lalu berdiri untuk digantikan posisinya oleh Pak Timo.

__ADS_1


Tama bergegas mengambil handuk untuk ke kamar mandi, dan bertemu Susi yang sementara duduk dalam keadaan kesal karena kurang tidur.


Saat ini, wajah Susi sungguh menyeramkan, sampai Tama terpikir untuk mencetak kertas peringatan “Awas Susi Galak!” dan menempelkannya di pintu depan. 


“Susi, di rumah ini ada sumur sama ladang nggak?” Pertanyaan Tama membuat Susi mengerutkan kening.


“Nggak. Memangnya kenapa?” Tanya Susi tanpa ada sedikitpun tanda kasih sayang di suaranya.


“Soalnya kalau ada sumur di ladang, bolehkah kita menumpang mandi?” Tama memberikan senyum terbaik untuk menandingi wajah cemberut terbaik Susi. Ternyata, hasilnya gagal. Tama lalu berjalan takut-takut menuju ke kamar mandi karena takut digigit.


Setelah mandi, Tama menguatkan diri untuk kembali melewati Susi. “Aku sudah selesai mandi, Tuan putri. Makasih.” Tama berkata sembari menggaruk kepalanya.


“Mandinya lama banget, Tam. Sekalian ambil S2?” tanya Susi sembari memincingkan mata.


"Jangan lama-lama kalo di kamar mandi. Banyak yang pernah mati di situ."  Tama bergidik mendengarnya.


"Memangnya, siapa yang pernah mati di situ?" tanya Tama dengan gugup.


"Pake nanya lagi. Macam-macam lah. Nyamuk, semut, cicak..." Tama lalu memejamkan mata, dan mulai memikirkan kata-kata yang tepat untuk bisa kembali ke kamar dengan selamat.


“Kamu tuh sudah cantik, pintar, lucu…cocok jadi petinju.” Susi menatapnya dengan galak, sementara Tama sudah melarikan diri ke kamar. Anak Pak Timo itu hanya menggeleng karena semakin lama, Tama semakin mirip dengan ayahnya.


***


Tak lama kemudian, Tama sudah duduk di ruang tamu keluarga Pak Surya bersama Cindy, Bu Anita, dan Ferdinand. Menurut kakak Dhita itu, dia menyempatkan diri singgah ke rumah Cindy sebelum ke kantor.

__ADS_1


“Tante dengar, kemarin katanya Nak Tama sudah hampir mati?” Ibu Cindy itu, memulai pembicaraan agar situasi tidak terlalu tegang.


Tama hanya bisa menggaruk kepalanya dengan malu, dan berpikir, “kenapa semua orang tahu tentang kemarin? Apakah saat ini orang-orang di Afrika juga tahu kalau aku hampir mati kemarin?”


“Nggak usah ditanya lagi, Bu. Itu orangnya sudah sehat, sampai bisa-bisanya bawa bubur ayam ke sini, dan bukannya istirahat di rumah.” Cindy sedikit kesal karena Tama tak beristirahat lebih lama supaya bisa pulih total.


“Saya sudah sehat kok, Bu. Terima kasih sudah bertanya….” Penjelasan Tama terhenti karena panggilan seorang wanita yang berdiri di depan mereka.


“Tama? Ngapain kamu di sini?” Tama terkejut mendengar suara itu. Wanita itu langsung memeluk Tama karena senang, sementara Cindy berusaha menahan kekesalannya.


Setelah Tama akhirnya berhasil melepaskan diri dari pelukan, si wanita memperkenalkan diri sebagai Jessica, yang datang ke situ untuk mengambil pesanan.


“Kamu kenal Tama?” Cindy bertanya singkat.


Jessica mengangguk penuh semangat, dan berkata kalau mereka berteman baik saat belajar di Amerika. Tama yang melihat wajah kesal Cindy, langsung memotong cerita Jessica yang dirasanya terlalu berlebihan.


“Kenapa dipotong, Tam? Nggak sopan. Kalian kan dekat.” Cindy berkata dengan dingin, sementara Ferdinand tak berani ikut dalam pembicaraan yang seperti bom waktu itu.


“Kita bicara yang lain saja, ya. Mumpung ada Ferdinand di sini, aku mau pakai kartu ketujuh. Aku mau kita nonton film di bioskop.” Cindy menatap Ferdinand, yang mengangguk untuk mengiakan.


Tak disangka-sangka, sebelum Cindy mengiakan permintaan Tama, Jessica langsung berkata penuh semangat, “aku ikut, ya?”


Bagaimana nasib Tama setelah ini?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤

__ADS_1


__ADS_2