
“Nggak usah dijawab, Nak Tama.” Pak Timo mendekati Tama yang badannya sudah tegak dan wajahnya mulai memucat gara-gara pertanyaan kapan nikah. Sungguh pertanyaan dahsyat yang menghancurkan sukacita.
“Yaelah, Tim. Ganggu aja. Eh, anak kamu si Susi juga belum nikah, kan? Kapan, dong?” Pak Karyo menantang Pak Timo. Tama tetap bertanya dan mencatat nama-nama peserta sembari tetap mendengarkan.
Pak Timo mulai kesal karena nama anak perempuan kesayangannya dibawa-bawa. “Sebelum saya jawab, kamu jawab dulu kapan kamu mati.” Suasana jadi makin panas.
“Kok kamu ngegas sih, Tim? Kan Cuma bercanda.” Pak Karyo mencoba membalikkan keadaan.
“Karyo, saya bukannya ngegas. Yang terganggu kalo ditanya kapan mati kan hanya orang hidup. Sama dengan orang yang belum kawin. Lalu, kenapa orang yang ngga mau ditanya kapan mati, dengan beraninya bertanya kapan kawin ke orang yang ngga mau ditanya kapan kawin.” Seketika, situasi berubah hening.
“Bercandyaaa…” Perkataan Pak Timo membuat semuanya tertawa. Tama lega mendengarnya. Orang-orang ini ternyata santai banget pembawaannya.
“Ada-ada aja kamu, Tim. Kayak anak muda aja. Saya jadi ingat istrinya si Barto. Masa pas kita serius main catur, trus tiba-tiba istri Barto manggil ‘Pah’. Widdiiiih…kan sayanya jadi iri.” Pak Karyo menggeleng sementara yang lain tertawa mendengarkan.
“Alaah….kamu iri gara-gara nggak tau kepanjangan ‘Pah’. Ya, kan?” tanya Pak Timo dengan jari telunjuk yang digoyang ke kiri dan kanan dengan ceria, supaya ceritanya tambah hot.
“Bukannya Papah ya, Tim?” Bu Dinah tak mampu lagi menahan rasa penasarannya.
“Bukan. Istri Barto itu paling nggak suka liat si Barto main catur sama kita-kita. Makanya, tiap ketahuan, dipanggil ‘sampah’.” Penjelasan Pak Timo membuat tawa semua orang meledak, termasuk Tama. Hati si Pria kulkas itu hangat dengan kebersamaan para penjual.
__ADS_1
“Selamat siang, semuanya.” Suara sapaan seseorang mengagetkan mereka semua, terutama si Tama. Hati pacar Cindy itu mendadak dipenuhi kekesalan.
“Eh, Nak Ferdinand. Hari ini kita nggak jualan. Semuanya sibuk main. Memangnya mau beli apa?” Bu Dinah bertanya dengan ceria.
Setiap tiga bulan, semua penjual di Persatuan Pedagang Palugada (PPP) punya satu hari untuk kumpul-kumpul. Semua keluarga dibawa dan semuanya bersenang-senang di lokasi jualan yang sudah diubah menjadi lokasi permainan.
“Saya mau beli sambal botolnya Bu Dinah. Enak banget. Saya sekarang nggak bisa makan kalo nggak pake itu.” Ferdinand menjawab malu-malu, lalu duduk setelah dipersilahkan oleh Pak Karyo.
“Kita-kita ini, biar sekolahnya nggak nyampe, tapi tongkrongannya sama para CEO. Hebat juga, ya.” Bu Dinah berkata dengan malu-malu sambil menatap Tama dan Ferdinand yang duduk di depannya.
“Sebenarnya kita semua sama aja, Bu Dinah. Kalo mereka nanya penghasilan, kita minder. Nah, kalo kita nanya kapan kawin, mereka yang minder.” Semuanya langsung tertawa mendengar perkataan Pak Karyo.
“Saya nggak minder kok, Bu. Saya sudah ketemu orangnya, dan mau diperjuangkan.” Perkataan Ferdinand membuat semuanya mengangguk, dan bertepuk tangan. Sementara itu, Tama mulai sibuk sendiri dengan pikirannya.
“Rahasia.” Ferdinand mengedipkan mata saat menjawab, dan membuat Tama tambah gelisah.
“Nah, jawaban seperti ini mantap. Nak Tama, lain kali, kamu juga harus lebih tegas, ya. Cindy itu kesayangan kita semua di sini, dan pantas mendapat pria terbaik.” Pak Karyo menjelaskan secara santai, tapi terasa menusuk di dada Tama.
Ferdinand menatap Tama sambil tersenyum, lalu berbisik, “kalo kamu nggak mau berjuang, aku siap menggantikan kamu.”
Tama kaget mendengar bisikan Ferdinand. Dirinya heran mengapa Ferdinand jadi begitu terbuka sekarang. Pria kulkas itu menebak kalau penyebabnya adalah pertemuannya dengan Dhita tempo hari.
__ADS_1
“Sejak kapan kamu sering belanja di sini?” tanya Tama penasaran. Dia ingin tahu, sudah sejauh mana usaha si Ferdinand. Dirinya tak ingin kalah.
“Rahasia.” Ingin rasanya Tama menarik kerah Ferdinand dan memukulnya, tapi itu bukan langkah yang tepat.
“Nak Ferdinand jangan pulang dulu, ya. Masih ada permainan terakhir untuk hari ini. Nak Tama dan Nak Cindy akan ikut juga, jadi pasti asyik,” ajak Pak Timo. Ayah Susi itu melirik Tama yang tampak kesal. Dirinya melihat kecemburuan Tama sebagai sesuatu yang lucu.
“Ferdinand, ngapain kamu di sini? Hari ini, nggak ada yang jualan.” Tiba-tiba, Cindy datang dan menyapa Ferdinand. Wajah kakak Dhita itu langsung secerah matahari di film teletubbies.
Tama yang kaget dengan kedatangan Cindy, langsung berdiri dan menarik tangan wanita itu menjauh.
"Kenapa, Kas?” Cindy bertanya karena penasaran. Dirinya sibuk mengimbangi langkah Tama yang berjalan di depannya, tapi dengan tangan yang tetap memegang tangan Cindy erat-erat.
“Aku mau kita berlatih.” Tama menjawab tanpa melihat ke arah Cindy. Si pacar mungil tertawa saat mendengar jawaban Tama.
“Nggak ada yang pernah berlatih untuk lomba ini. Kita hanya perlu tampil apa adanya. Kamu nggak perlu khawatir. Kita berdua nggak harus menang. Kalahpun nggak apa-apa.” Cindy berusaha menenangkan pacarnya yang tiba-tiba gelisah.
“Kamu tetap milih aku walau kita kalah, kan?” Cindy mengerutkan dahi karena pertanyaan Tama yang aneh. Kini, Tama sudah berbalik menghadapnya dengan wajah khawatir.
“Kenapa kamu tiba-tiba nanya kayak gitu?” Pertanyaan Cindy tak sempat dijawab Tama, karena Pak Timo datang membawa usulan yang membuat hidup Tama seperti di neraka.
Hayoo..usulan apa itu? Yuk ditebak di komentar
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤