
“Setiap kali teleponan sama Nathan, Kak Cindy selalu nanya-nanya tentang Kak Tama. Kak Tama suka makan apa? Kak Tama suka olahraga apa? Kak Tama suka baca buku apa? Kak Tama beruntung banget punya pacar kayak Kak Cindy.” Nathan menjelaskan dengan penuh semangat, seakan lupa kalau dirinya baru ditolak Lia.
“Kak Cindy nanya tentang Kak Tama?” Tama bertanya tak kalah semangat, dengan mata yang berbinar-binar. Tanpa sadar, tangannya sudah merangkul bahu Nathan.
“Trus, memangnya kamu tahu apa yang kakak suka?” tanya Tama penasaran. Nathan mengangguk dan tersenyum ke arah Tama.
“Nathan tahu banyak tentang Kak Tama. Nathan selalu perhatiin Kak Tama setiap kakak pulang ke rumah, “ jelas Nathan bangga. Tama merasa sedikit bersalah karena selama ini, dia tak dekat dengan adiknya itu.
Tama dan Nathan baru akan lanjut bicara, tapi terhenti karena kehadiran Cindy di depan mereka. “Kalian pasti sudah lapar,kan? Yuk makan.” Cindy menarik tangan Tama dan Nathan. Tama yang melihatnya langsung buru-buru melepas tangan Cindy dari Nathan.
Si kulkas itu mengangkat telunjuk dan menatap Nathan tajam, seolah memperingatkan adiknya untuk tak mendekati Cindy. Nathan tertawa dan menggelengkan kepala.
“Gimana? Enak?” Cindy bertanya dengan antusias. Nathan mengangguk sementara Tama masih berbunga-bunga dengan penjelasan Nathan.Tak ada lagi yang membicarakan soal Lia.
Nathan jelas masih kecewa, tapi kenyataan kalau dirinya semakin dekat dengan Tama berhasil mengobati lukanya untuk sementara.
“Coba ini, Kas. Kamu suka sup ikan, kan? Sup ikan di restoran ini enak banget.” Cindy mengambil mangkuk lalu menuangkan sup dan memberikannya ke Tama. Si kulkas mengangguk malu-malu lalu mengambil mangkuk dengan wajah memerah.
__ADS_1
“Dari mana kamu tahu kalau aku suka sup ikan?” tanya Tama sembari melihat sup agar tak perlu melihat Cindy. Pacar mungil Tama itu langsung gugup dan menatap Nathan.
“Aku hanya asal tebak aja. Biasanya, kalau ada yang suka ikan bakar, pasti suka sup ikan juga kan?” Cindy tertawa gugup sementara Nathan memaksa diri ikut tertawa supaya calon kakak ipar kesayangannya itu tak malu. Tama yang melihat mereka berdua tersenyum senang.
“Kas, kamu sakit? Muka kamu merah banget.” Cindy mulai khawatir dengan wajah Tama yang semakin merah. Pria yang ditanya hanya menggeleng dan meneruskan makan agar tak perlu banyak berkata-kata lagi.
Nathan melihat mereka berdua dan merasa hatinya hangat. Adik Tama itu bahagia karena sang kakak akhirnya mendapatkan kehangatan yang tak pernah dimiliki di rumahnya sendiri. Walau Nathan ditolak oleh cinta pertamanya, dia berharap bisa menemukan wanita seperti Cindy sebagai kekasihnya di masa depan.
Saat Nathan ke toilet, Cindy tiba-tiba menyodorkan kartu ke-23 ke arah Tama, “Aku mau kita candle light dinner.” Pacar mungil si kulkas itu sudah siap mendengar keberatan Tama, tapi tak disangka, langsung diiyakan.
“Aku mau, asal restorannya aku yang pilih. Oke?” Tama mengambil kartu Cindy dan tersenyum. Walau merasa aneh dengan sikap Tama, Cindy cukup senang karena Tama tak mengeluh lagi saat disodori kartu.
Tepat pada hari Tama dan Cindy akan candle light dinner, Tama tiba-tiba ada urusan mendadak di kantor. Si kulkas lalu mengutus sopir kepercayaannya untuk menjemput.
Restoran yang dipilih Tama benar-benar nggak kaleng-kaleng, beda dari semua tempat yang dipilih Cindy. Walau hari itu Cindy memakai gaun yang cukup mahal, dirinya masih merasa minder dengan tampilan tamu lain dan dekorasi mewah restoran.
__ADS_1
Saat datang, sang sopir segera menyebut nama Tama dan manajer yang bertugas melihat Cindy dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ada sedikit tatapan merendahkan, tapi dirinya tetap mengantar Cindy ke meja yang sudah dipesan.
Setelah duduk, manajer pria itu segera membawa menu. Wajahnya ogah-ogahan karena penampilan Cindy tak semewah tamu lainnya. Cindy yang mengambil menu jadi sedikit gugup saat melihat isi menu.
Semua nama menu susah disebut, dan harganya juga mahal minta ampun. Cindy menghela napas sebentar, lalu mau membuka suara, tapi segera dipotong si manajer.
“Mbak, daripada bingung, kita tunggu Pak Tama saja, ya. Memang kalau nggak biasa ke sini, agak susah. Ini pertama kalinya Mbak kemari, ya?” tanya si manajer dengan wajah kesal. Cindy mengangguk malu.
“Pantesan. Ya sudah, saya layani tamu yang lain dulu ya. Mbak lihat-lihat saja dulu. Kapan lagi bisa datang ke sini, kan?” manajer tersebut terkekeh, lalu bergegas meninggalkan Cindy.
Cindy hanya bisa diam dengan perlakuan tadi. Dirinya menyesal karena mengikuti permintaan Tama untuk datang ke restoran di atas levelnya. Pacar mungil Tama itu berharap kalau makan malam hari ini segera berakhir, karena dirinya sudah merasa tak nyaman.
Tak lama kemudian, manajer tadi mendekati meja Cindy dengan tergopoh. Wajahnya memucat dan dirinya membungkuk untuk meminta maaf pada Cindy.
Apa gerangan yang sedang terjadi? Yuk ditebak di kolom komentar.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤