Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Boneka


__ADS_3

“Om itu teman tante?” Seorang anak perempuan menarik kemeja Cindy dengan wajah cemberut.


“Iya. Memangnya Om itu kenapa?” Cindy menahan senyum saat melihat anak itu menggembungkan pipinya karena kesal.


“Om itu main lama banget, Tante. Tiara kan juga mau main. Padahal, Om itu sudah punya satu, masa mau lagi?” Cindy terkekeh melihat Tama yang serius memainkan mesin di depannya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya memeluk satu boneka. 


Sejak Cindy datang, sudah beberapa kali capit yang digerakkan Tama gagal mengambil boneka yang diinginkan.


“Tante, jangan cuma senyum saja. Tolong marahin Om itu. Bilang kalo yang lain juga mau main. Jangan seenaknya saja, mentang-mentang datang duluan.” Cindy mengangguk, lalu berjalan mendekati Tama.


Cindy baru akan membuka suara, tapi dikagetkan dengan teriakan Tama, “YES!” Dua tangan pria itu diangkat ke atas dengan puas.


“Tama?” Pria yang dipanggil segera berbalik ke arah Cindy, lalu tersenyum seraya mengusap peluh di dahinya.


“Cindy? Kebetulan sekali kamu ada di sini. Ini.” Tama menyodorkan boneka kelinci putih yang sedari kemarin diinginkan oleh Cindy. Wanita itu sempat ragu, tapi lalu mengulurkan tangan untuk mengambil boneka.


“Terima kasih.” Cindy menjawab pelan. Dirinya mau berkata lebih banyak, tapi sudah dipotong si anak kecil yang tadi protes.


“Makasih ya, Tante. Akhirnya, Tiara bisa main juga.” Anak itu segera berlari ke arah mesin mainan capit yang sedari tadi dikuasai Tama.


“Siapa dia?” tanya Tama heran.

__ADS_1


“Anak yang dari tadi mau main, tapi nggak bisa gara-gara mesinnya kamu kuasai.” Cindy terkekeh saat melihat wajah Tama yang memerah.


“Kok ambil dua? Satunya buat siapa?” tanya Cindy, saat melihat boneka yang sama di tangan Tama. Tama menggaruk kepalanya dengan malu-malu.


“Untuk aku.” Cindy akhirnya tak bisa menahan tawanya.


“Sejak kapan kamu suka boneka?” Tama bergegas menggeleng, lalu menjawab,


“Bukan suka boneka. Aku suka semua yang kamu suka.” Jawaban itu langsung menciptakan suasana hening di antara keduanya.


“Kamu kenapa di sini? Mau nonton?” Tama berusaha memperpanjang waktu pembicaraan mereka dengan penuh semangat.


“Sambil menunggu teman kamu, boleh aku pakai kartu kedelapan? Aku pengen minum milkshake sama kamu di kafe bioskop.” Cindy terdiam saat mendengar permintaan Tama.


“Oh iya, aku lupa. Harus ada Ferdinand biar kamu lebih nyaman. Maaf sudah bikin kamu nggak nyaman. Nanti kita tunggu Ferdinand saja biar…” Omongan Tama yang diucapkan dengan nada kecewa, buru-buru dipotong oleh Cindy.


“Aku nyaman, kok. Sebagai hadiah atas usaha kamu dapetin boneka ini, kita nggak harus nunggu Ferdinand. Cuma milkshake, kan?” tanya Cindy untuk memastikan.


“Milkshake…Cindy style. Satu gelas untuk kita berdua.” Jawaban Tama yang nekat itu cukup mengejutkan Cindy, tapi akhirnya diiyakan.


Hati Cindy benar-benar tersentuh oleh perhatian dan usaha Tama untuk mendapatkan boneka itu. Sayang, tiba-tiba ada pengganggu.

__ADS_1


“Om, Tante, Tiara boleh ikut, nggak? Mama Tiara masih dalam perjalanan.” Anak kecil yang tadi protes kini mendekati mereka berdua seolah sudah kenal lama.


Cindy yang memang dasarnya suka anak kecil, mengiakan. Dunia Tama serasa hancur saat mendengar itu.


***


“Om miskin, ya? Kok cuma pesan satu gelas untuk dua orang?” Tama menahan diri untuk tidak mencubit pipi gembul anak yang lancang itu.


“Om nggak miskin. Om hanya ingin berbagi minuman dengan orang yang Om sayang.” Tama mencuri pandang ke arah Cindy  seraya membuka plastik dari dua sedotan.


“Wah, asyik banget. Kalau begitu, boleh Tiara coba juga?” tanya Tiara dengan mata berbinar. Tama langsung menjauhkan gelas milkshake dari anak itu.


“Nggak. Karena Om nggak sayang sama kamu. Kita baru kenal. Lagian, kamu sudah pesan minuman lain, jadi nggak usah ambil minuman Om dan Tante.” Cindy terkekeh melihat Tama yang seperti anak kecil, tapi tiba-tiba pandangannya teralih ke temannya yang melambaikan tangan ke arahnya.


Cindy langsung memegang sedotannya dan menyedot milkshake lalu permisi pergi, dan meninggalkan Tama bersama Tiara. Walau sangat keberatan, Tama pun menemani anak itu menunggu sampai ibunya datang.


Setelah itu, Tama berdiri untuk pulang, tapi satu chat dari Nathan membuat dirinya terkejut, dan langsung menelepon adiknya itu.


Kira-kira, apa isi chat dari Nathan?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤

__ADS_1


__ADS_2