Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Pesta


__ADS_3

“Maaf, Bu. Saya harus cepat ke mobil untuk nganterin Pak Alan pulang.” Beno berkata dengan gugup, apalagi ketika melihat Pak Alan masih sibuk belanja dagangan PPP, dan tak butuh tumpangan dalam waktu cepat.


“Nggak usah bohong, Beno. Apa yang dikatakan Tama? dia ngancem Pak Alan ya?” Cindy bertanya dengan penuh kecurigaan. Dirinya selalu tak suka ketika Tama menggunakan posisinya untuk mendapat hormat dan ketakutan berlebihan dari orang lain.


“Bukan, Bu. Pak Tama nggak pernah ngancem Pak Alan. Pak Tama cuma suruh saya bilang, kalau sampai Pak Alan bikin Bu Cindy nggak nyaman, dia akan langsung dipecat saat itu juga.” Beno akhirnya keceplosan karena terus-terusan dicecar pertanyaan oleh Cindy. Wajah tanpa ekspresi yang selalu dipasangnya, kini berubah pucat.


“Bu Cindy, jangan bilang ke Pak Tama ya, kalau saya bilang seperti ini.” Beno menempelkan kedua tangannya dan memohon.


“Nggak, lah. Kamu harusnya nggak perlu khawatir. Kamu kan orang kepercayaan Tama. Nggak mungkin dia ngapa-ngapain kamu hanya karena kamu bilang soal ini.” Cindy mulai kasihan pada Beno dan menenangkannya.


“Bu, saya percaya diri kalau ini tentang orang lain, tapi kalau tentang Bu Cindy, saya menyerah. Bu Cindy terlalu penting untuk Pak Tama. Tiap hari, di mobil, Pak Tama cuma cerita tentang Bu Cindy. Kalau sampai Bu Cindy kesal ke Pak Tama gara-gara saya, bisa habis saya. Eh…” Beno baru sadar kalau dia bicara terlalu banyak.


“Aku nggak akan bilang ke Tama. Okay?” Perkataan Cindy sedikit menenangkan Beno. Setelah permisi pulang, sopir kepercayaan Tama itu langsung lari menjauh, dan menarik Pak Alan untuk masuk ke dalam mobil.


Cindy menggeleng melihat kelakuan Beno. Walaupun begitu, hatinya bahagia karena Tama sering cerita tentang dirinya ke orang terdekatnya.


Ternyata begini rasanya dicintai dengan benar. Diberikan rasa aman, dihormati, dan diperlakukan dengan baik. Walau Cindy tak begitu setuju dengan Tama yang masih hobi mengancam , tapi siapa sih yang tak suka diperlakukan spesial seperti itu?


*** 


“Kerjaan kamu aman, Nak Tama?” Pak Surya bertanya untuk mengisi keheningan di ruang tamu saat menunggu Cindy selesai bersiap.


“Aman, Pak. Semuanya teratasi dengan baik.” Tama mengangguk sopan. Posisi badannya tegak, dan terus-terusan melihat ke arah kamar Cindy. Saat Pak Surya berdehem karena dirinya hanya sibuk melihat ke kamar Cindy, si pria kulkas mulai membicarakan hal lain.

__ADS_1


“Mobilnya enak dikendarai, Om?” Tama bertanya soal hadiah ulang tahunnya yang spektakuler. Pak Surya menghela napas saat mendengar itu.


“Enak, Nak Tama, tapi untuk sementara, nggak diparkir di sini. Om nggak mau jadi bahan pembicaraan orang-orang, dan nggak ingin Cindy dianggap yang nggak-nggak gara-gara hadiah mobil. Nggak apa-apa kan, Nak Tama?” Pak Surya berkata dengan jujur.


Baginya, tak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi, karena Tama sudah dianggapnya sebagai bagian dari keluarga.


Tama bergegas menggeleng. “Nggak apa-apa, Om. Itu sudah jadi milik Om. Terserah mau diapakan. Om mau hancurin juga boleh.” Si pria kulkas benar-benar habis-habisan dalam merebut hati calon mertua. Pak Surya terkekeh mendengarnya.


 


“Ada-ada aja kamu, Nak Tama.” Pak Surya baru akan melanjutkan perkataannya, tapi terhenti karena pintu kamar Cindy dibuka.


Tak sia-sia Tama mengutus Pak Alan untuk mengurusi outfit Cindy. Dua pria yang sedang duduk di ruang tamu itu menganga melihat Cindy yang didampingi sang ibu.


Rambut panjangnya yang biasa diikat kini diurai. Gaun hitam yang menutupi kaki dengan bagian atas yang memamerkan sebagian punggung Cindy membuat Tama tak bisa berpaling.


“Hey, itu istri saya.” Pak Surya menggoda Tama, dan langsung dikoreksi oleh pacar Cindy itu.


“Bukan, bukan. Maksud saya, pacar saya, anak bapak, si Cindy.” Tama berkata dengan gugup dan dibalas anggukan Pak Surya. Tama bergegas berdiri dan berjalan mendekati Cindy.


“Kesayangan dan kebanggaannya Tama benar-benar cantik hari ini.” Tama berbisik dan membuat Cindy tersipu malu.


Bila kata-kata itu keluar dari orang lain, Cindy mungkin akan merasa itu norak, tapi lain halnya kalau diucapkan oleh orang yang dia sayangi.

__ADS_1


“Nak Tama, jangan pulang lebih dari jam setengah delapan, ya.” Bu Anita langsung mencubit lengan Pak Surya karena pesan aneh sang suami itu.


“Jangan aneh-aneh deh, kamu. Ini aja udah jam 7 malam. “ Pak Surya tertawa melihat wajah kesal istrinya. Tama tersenyum menatap pasangan di depannya. Suatu saat nanti, jika dirinya beruntung, dia akan bisa seperti itu dengan Cindy.


Setelah pamit pergi, Tama dan Cindy lalu memasuki mobil. Ada Beno yang standby di belakang kemudi.


“Beno, coba kamu lihat Bu Cindy. Cantik, kan?” tanya Tama, seolah tak rela kalau hanya dirinya yang memuji sang pacar.


“Cantik, Pak.” Beno menjawab dengan senyum.


“Hanya cantik?” Tama bertanya dengan nada yang sedikit mengancam.


“Nggak, Pak. Bu Cindy hari ini begitu mempesona, menawan jiwa seluruh makhluk ciptaan Tuhan sampai dipuji para dewa dewi.” Kali ini, Cindy yang mencubit lengan Tama karena jawaban berlebihan Beno gara-gara dipaksa Tama.


Pacar Cindy itu terkekeh lalu mengangguk karena puas mendengar jawaban Beno. Setelah pujian Beno, Tama mengijinkan Beno untuk membawa mereka berdua ke lokasi acara.


Sesampainya di lokasi acara, sudah ada begitu banyak tamu yang berjalan menuju ke pintu masuk. Tama masih tersenyum-senyum melihat Cindy. Tangannya menggandeng tangan Cindy dengan bangga.


Sayang, wajah bangga itu berubah datar saat Tama melihat orang yang paling tak diinginkannya di pesta itu.


Hayoo, siapa coba yang dilihat Tama? yuk ditebak di kolom komentar.


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤

__ADS_1


__ADS_2