
Mood Tama seminggu ini rusak gara-gara panggilan telepon Bu Riyanti. Mama yang selalu tegas padanya itu, memarahi dirinya habis-habisan gara-gara melihat video bernyanyi fals saat berada di festival musik kampus.
Ada begitu banyak hal yang disebutkan Bu Riyanti, dan beberapa di antaranya terkait image perusahaan, image keluarga, dan bahkan potensi kerugian perusahaan gara-gara penampilan Tama.
Tak satu kalipun beliau bertanya mengenai perasaan Tama. Yang penting bagi Bu Riyanti hanya perusahaan. Tama juga disebut menghabiskan uang perusahaan gara-gara mamanya harus membayar sejumlah uang untuk memastikan tak ada video dirinya yang tersebar luas.
Dari dulu, selalu saja seperti itu. Tama dianggap tak bisa menjadi penerus ideal, dan selalu dikritik. Rasa sayang yang diperoleh pria tanpa ekspresi itu juga tak pernah bertahan lama. Selalu saja, ada kesalahan yang bikin dirinya kehilangan rasa sayang yang selalu dirindukannya itu.
Karena itu, Tama masih tak percaya kalau Cindy memperlakukannya dengan baik tanpa alasan. Pasti ada sesuatu di baliknya. Tama hanya belum tahu saja alasannya saat ini. Perlakuan yang dia peroleh selama ini, mengajarkan kalau tak ada yang tulus mencintai dia apa adanya, dan kebahagiaan tak pernah berlangsung lama.
Hal itu membuat Tama cenderung mengiakan permintaan Cindy yang dianggapnya aneh tapi menyenangkan. Pria itu tahu kalau hal bersenang-senang ini nantinya akan berakhir. Apalagi, dia masih harus membuat Dhita kembali padanya.
“Yuk, masuk,” ajakan Cindy membuyarkan lamunan Tama. Mereka berdua masuk ruangan menonton. Hari ini, Cindy menggunakan kartu ketujuh untuk meminta Tama menemaninya ke bioskop.
“Kamu marah?” Cindy bertanya dengan penasaran karena sedari tadi, Tama terus-terusan merengut.
“Nggak. Aku kalo senang memang mukanya gini. Kadang kalo senang banget, sampe nampar orang,” jawab Tama sembari meletakkan popcorn di antara kursi mereka berdua.
“Oh gitu. Beresiko banget ya, kalo bisa bikin kamu senang.” Cindy masih tak menyerah untuk melanjutkan pembicaraan. Tama hanya mengangkat bahu. Cindy lalu melanjutkan, “Kalo begitu, selama ini, kamu senang ngga, bareng aku?”
Tama baru akan menjawab, tapi tiba-tiba ada kumpulan cewek ABG yang tertawa genit dan mengambil foto Tama. Cindy kesal melihatnya, dan meminta mereka untuk berhenti. Seakan ditantang, mereka malah mengabaikan Cindy dan langsung bertanya pada Tama.
“Om, boleh nggak kalo kita ngefans sama om? Soalnya om ganteng.” Setelah mengatakan itu, mereka tertawa cekikikan.
Tama tiba-tiba menunjuk Cindy. “Minta ijin dulu sama tante yang ini.” Cindy sudah siap-siap protes karena tak mau dipanggil tante, tapi terdiam karena mendengar penjelasan Tama, “Soalnya Om ngefansnya ke tante ini."
Sungguh pria luar biasa yang bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu tanpa ekspresi. Para ABG pun berteriak histeris mendengar jawaban Tama. Syukurlah, setelah itu, film dimulai dan bioskop kembali hening. Tak ada hal spesial yang terjadi saat menonton. Karenanya, Cindy memakai kartu kedelapan untuk makan di kafe.
Secara mengejutkan, mereka bertemu dengan Ferdinand. Kakak Dhita itu melihat mereka dengan penuh semangat. Setelah memperkenalkan diri, dia bahkan tak ragu-ragu ingin ikut makan di kafe.
__ADS_1
Cindy sedikit kecewa karena harus makan dengan orang lain selain Tama. Di sisi lain, Tama justru senang dengan adanya Ferdinand, karena Dhita akan semakin marah dengan kebahagiaan Tama sekarang.
Saat memesan makanan, seorang waitress tak sengaja menumpahkan minuman ke celana Ferdinand. Pria yang selalu memasang senyum itu malah tak marah dan menghibur si waitress agar tak menangis di depan mereka.
“Kamu nggak marah?” tanya Tama, setelah si waitress meninggalkan meja mereka.
Ferdinand menggeleng. “Kan dia ngga sengaja?”
Tama masih tak puas dengan jawaban Ferdinand. “Tapi, kamu berhak marah. Dia sudah numpahin air ke celana kamu.”
Ferdinand tersenyum mendengar kegigihan Tama. “Berhak, kan? Bukan wajib? Aku memilih untuk nggak marah. Dia juga palingan ngga sengaja…atau…”
Tama dan Cindy menatap Ferdinand dengan penasaran. “Bisa saja dia adalah mata-mata yang sedang menyamar, dan tumpahan air itu kode biar temannya batal meledakkan kafe ini. Gimana menurut kamu? Masuk akal?”
Cindy terkekeh mendengarnya, lalu menyambung, “atau…temannya minta dia numpahin air ke tamu yang paling keren di kafe ini.” Ferdinand tersenyum senang karena jawaban anehnya ditanggapi oleh sang pujaan hati.
“Ih, beruntung banget ya aku. Tapi, lama-lama jadi dingin juga. Pas aku lagi butuh celana baru. Aku pergi beli dulu ya.” Ferdinand berdiri dan pergi keluar.
“Mbak, Masnya kemana?” tanya waitress yang tadi menumpahkan air.
“Beli celana yang baru,” jawab Cindy yang tiba-tiba sadar kalau pacarnya sedang cemberut.
“Aduh, saya jadi ngga enak banget. Ini semua gara-gara saya.” Si waitress menggaruk kepalanya yang tak gatal, tapi Cindy menenangkannya sambil menggelengkan kepala.
“Santai saja, dia nggak marah,kok. Lagian, kamu kan nggak sengaja.” Tama tambah kesal karena pacar mungilnya itu memakai kata-kata Ferdinand saat menghibur
Wajah waitress itu terlihat lebih lega. “Mbaknya beruntung banget bisa punya pacar kayak Mas yang tadi.” Tama yang mendengar itu, tak mampu lagi menahan rasa kesalnya,“Kamu juga...beruntung banget, ngegosip sama tamu tapi belum dipanggil-panggil sama manajer.”
Waitress itu kaget dan bergegas kembali kerja. Setelah itu, Ferdinand kembali dan mereka makan tanpa hal aneh yang terjadi. Setelah makan, walau ada Ferdinand, Cindy memutuskan untuk memakai kartu kesembilan dan menyebutkan permintaannya pada Tama. “Aku mau kita beli baju bareng.”
__ADS_1
Tama mengiakan, dan pergilah mereka ke butik yang menjual outfit mewah. Sayang, Cindy justru canggung di dalamnya. Harga setiap outfit sangat mahal sampai dirinya enggan melihat label setiap outfit.
"Kamu nggak nyaman? Apa karena banyak orang? Pakai kartu kredit aku aja ya, biar kita tutup toko dan cuma kamu yang beli." Ferdinand menawarkan diri saat melihat Cindy yang salah tingkah.
Tama yang mendengar itu, langsung bergegas mendekat dan mengeluarkan kartunya yang berwarna hitam. "Nggak usah. Pakai kartu aku aja. Dia pacar aku, bukan kamu." Tama lalu memanggil seorang pegawai, tapi segera dihentikan Cindy. Pacar Tama itu menggeleng untuk menolak.
Cindy lalu melihat sepasang remaja berbaju couple lewat di depan mereka, dan tiba-tiba punya ide untuk kartu ke-10. "Aku mau baju couple."
Tama langsung menggeleng, tapi terdiam saat melihat Ferdinand. Pacar Cindy itu melihat hal ini sebagai kesempatan untuk lebih menunjukkan kebersamaan mereka.
Dari semua pilihan keren yang bisa dipilih sebagai baju couple, Cindy malah memilih dua kaos putih bertuliskan “Hepi Hepi Enjoy”. Sampai saat ini, Tama masih tak habis pikir dengan kerangka berpikir pacarnya itu. Ferdinand yang melihat mereka berdua merasa agak iri.
Cindy yang melihat Ferdinand, jadi merasa kasihan dan menawarkan untuk menambah satu kaos “Hepi Hepi Enjoy” lagi. Hal itu buru-buru ditolak Tama. “Ini khusus untuk kita berdua, okay? Nanti Ferdinand bisa beli lagi kalo datang sama pacarnya.”
Mendengar penjelasan Tama, Ferdinand langsung menatap Cindy dan bilang kalau dirinya tak punya pacar. Tama melihat mereka berdua dengan menahan murka.
Saat melakukan pembayaran, ternyata ada photobooth khusus couple di toko itu buat pembeli baju couple. Cindy langsung memakai kartu ke-11 dan meminta berfoto bersama di photobooth. Tama mengiakan tanpa ekspresi. Cindy menarik tangan Tama untuk masuk, sementara Ferdinand mengikuti mereka.
Kakak Dhita itu bertanya dengan polos, “boleh ikut?”
Tama menggaruk kepalanya dengan kesal. Melihat cara Cindy memperlakukan orang lain selain dia, Tama merasa kalau Cindy akan mengiakan. Pacar Cindy itu merasa kalau hari ini, Ferdinand sangat aneh. Dirinya ingin Ferdinand melihat kemesraannya dan Cindy, tapi mengapa Ferdinand malah terkesan mendekati wanita miliknya.
Tama berpura-pura melihat ke layar sambil menunggu jawaban Cindy. “Maaf, Ferdinand. Untuk kali ini, aku mau foto sama Tama saja. Nggak apa-apa,kan?”
Tama seperti mendengar suara merdu dari surga. Cindy yang selalu mengiakan orang lain, mau menolak untuk bisa bersama dia? Dirinya memejamkan mata kegirangan, lalu bersiap mengambil foto bersama dalam photobooth. Setelah itu, mereka bersiap pulang.
Ferdinand yang tahu kalau rumah Tama dan Cindy tak searah, lalu menawarkan tumpangan. Mendengar itu, Cindy menatap Tama dan bertanya, “boleh, Kas?”
Apakah Tama akan mengiakan? Yuk ditebak di kolom komentar
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤