Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Dari Nol


__ADS_3

“Surya Sadja.” Bu Riyanti menyebut nama itu, lalu tiba-tiba tersadar dan menutup mulutnya sendiri. “Tapi sudahlah ya, sekarang ini sudah tak penting lagi. Mari kita lanjut makan.”


“Ma, Surya Sadja itu nama ayah Cindy. Jadi, selama ini mama sudah tahu kalau Tama dan Cindy sudah kenal sejak kecil?” Tama menolak mengabaikan fakta yang baru saja terungkap.


Dengan banyaknya mata-mata Bu Riyanti, kalau Bu Riyanti tahu nama Surya Sadja, tak mungkin mama Tama itu tak tahu kalau Cindy adalah anak gadis yang sering dikejar Tama saat SD.


“Tama, kalau mama sudah bilang lanjut makan, ya lanjut makan. Nggak usah bicara soal topik tak penting itu. Lagian, wanita kelas bawah itu juga bukan pacar kamu lagi, kan?” Bu Riyanti berusaha mengalihkan topik dengan gugup karena sang suami mulai menatapnya tajam.


“STOP MENYEBUT CINDY WANITA KELAS BAWAH!” Tama membanting sendoknya karena marah. Semua ada yang ada di meja itu terkejut. Sepanjang hidup, Tama tak pernah bersikap seperti itu di depan orang tuanya, tapi hari ini adalah pengecualian.


Pria kulkas itu tak terima kalau sang mama menghina wanita yang sangat berharga dalam hidupnya. Cindy adalah satu-satunya wanita yang membuat dia merasa berharga, dan tak pantas disebut seperti itu.


Dalam amarahnya, Tama memutuskan hal yang sudah berulangkali muncul di pikirannya sejak kemarin malam. “Pa, Ma, Dhita, Tama minta maaf. Tama nggak bisa melanjutkan hubungan dengan Dhita. Cindy sangat penting bagi Tama, dan Tama bisa mati perlahan kalau tak berjuang untuk hidup bersamanya.”


Dhita membelalak mendengar itu. Dirinya merasa sangat terhina dengan perkataan Tama.


Bagaimana mungkin Tama menganggap seorang wanita kelas bawah lebih berharga dari dia? Apa pria bodoh itu lupa kalau tanpa Dhita, keluarga mereka akan semakin terperosok dalam masalah?

__ADS_1


“Kamu nggak bisa seenaknya seperti ini, Tama. Bagaimana nanti papa dan mama menghadapi orang tua Dhita? Kamu jangan bikin papa dan mama malu. Sekarang, minta maaf sama Dhita karena sudah bicara sembarangan.” Bu Riyanti sudah mulai emosi karena tindakan gegabah sang anak.


“Nggak, Ma. Tama nggak akan menarik kata-kata Tama. Keputusan Tama sudah bulat. Tama minta maaf, tapi Tama harus pergi sekarang.” Anak sulung Bu Riyanti itu berdiri dengan sopan, lalu berjalan keluar.


“Tama, kalau kamu sampai melangkah keluar dari rumah ini, kamu akan kehilangan segalanya.” Papa Tama berkata dengan singkat, namun dingin.


Di dalam rumah, walau Bu Riyanti yang lebih banyak bicara dan mengomel, tapi semuanya tahu kalau sang Papa adalah pemimpin dalam rumah.


“Tama sudah kehilangan segalanya kemarin. Cindy adalah segalanya bagi Tama, dan kali ini, Tama akan berusaha merebutnya kembali.” Kakak Nathan itu berjalan keluar rumah dengan yakin, sementara Bu Riyanti memanggilnya dengan panik.


“TAMA! Jangan kurang ajar kamu! Kembali!” Pak Vincent yang mendengarkan teriakan sang istri, mengelus punggung tangan Bu Riyanti, lalu menggeleng. Sang istri mengangguk dengan patuh.


Tak ada tanda-tanda kekhawatiran di wajah Pak Vincent, dan itu menenangkan Bu Riyanti serta Dhita.


Sementara itu, Nathan mulai khawatir dengan keberadaan sang kakak. Sehormat-hormatnya dirinya pada Pak Vincent, Nathan tak rela kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan ke sang kakak kesayangan.


Tama segera mengendarai mobil dan menuju ke apartemennya sebelum pergi ke rumah Cindy. Sayang, sebelum masuk ke apartemen, Tama malah dicegat oleh Pak Satpam.

__ADS_1


“Mohon maaf, Pak. Sesuai instruksi atasan, Pak Tama dilarang masuk ke area apartemen. Untuk masuk, bapak diminta untuk kembali ke Pak Vincent dan meminta maaf.” Tama mendengus mendengar penjelasan Pak Satpam.


Dirinya tahu, percuma memaksakan diri, karena kekuasaan papanya memang tak main-main.


Baru saja dirinya akan naik ke mobil, tiba-tiba saja Beno muncul dan menghalangi Tama untuk masuk ke mobil. “Maaf, Pak Tama. Bapak tak bisa mengakses mobil ini sebelum kembali ke Pak Vincent, dan meminta maaf.” Tama mengacak rambutnya dengan frustasi.


“Pak Tama, saya mohon maaf. Saya terpaksa melakukan ini, tapi saya sudah meletakkan tas hitam di dekat pot bunga. Di situ ada titipan dari Nathan untuk Pak Tama.” Beno berbisik, lalu mengarahkan matanya ke pot bunga yang dimaksud. Sopir kepercayaan Tama itu lalu masuk ke mobil dan membawanya pergi.


Tama berjalan lesu ke arah pot bunga yang dimaksud. Kalau dia tak punya apa-apa, apakah Cindy masih akan menerima dia? Apalagi, lawannya adalah Ferdinand, yang keluarganya lebih berkuasa dari keluarga Tama.


Tama mengambil tas yang disebut Beno, lalu membuka isinya. Matanya membelalak melihat titipan Nathan.


Ada beberapa emas batangan kecil yang dimasukkan ke dalam tas itu. “Terima kasih, Nathan.” Tama lalu pergi ke rumah Cindy dengan taksi memakai uang yang masih tersisa di dompet.


Di rumah Cindy, semuanya sedang berbincang di meja makan. Saat melihat Tama, Pak Surya langsung berjalan mendekat dan mengulurkan tangan. “Kebetulan Nak Tama ada di sini. Ada yang mau Om berikan.”


Apa ya, yang mau diberikan Pak Surya?

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2