
“Dari dulu, Bu Dinah selalu ingin ikut permainan. Sayang, anaknya nggak pernah bisa ikut karena sibuk. Suami dan besan tak bergunanya itu juga malas ikut. Nah, tadi saya sudah bicara dengan Bu Dinah. Dia setuju kalau Ferdinand yang mewakili lapaknya dia.” Pak Timo menjelaskan sembari menahan tawa saat melihat wajah Tama yang tak karuan.
“Boleh sih, Om. Nanti, Ferdinand main tebakannya sama siapa?” tanya Cindy dengan santai. Dirinya tak sadar kalau pacarnya sedang gelisah. Tama takut kalah, dan bikin para penjual nggak suka dengan dirinya lagi.
Sebenarnya, Tama tak begitu masalah kalau dirinya kalah dengan penjual lain. Bagaimanapun juga, dia adalah orang baru kan? Masalahnya, akan sangat memalukan kalau dia kalah dari Ferdinand. Pacar Cindy itu tak bisa terima kalau nanti Ferdinand merebut cinta para penjual yang dia miliki saat ini.
“Ferdinand mainnya sama Bu Dinah. Tadinya mau saya pasangkan sama pohon, tapi boro-boro nebak, bicara saja dia nggak bisa.” Pak Timo tertawa sendiri dengan penuh keceriaan, tanpa peduli kalau orang lain menganggapnya garing.
Tak lama kemudian, permainan dimulai. Ada total tiga pasangan yang mengikuti permainan. Permainan menebak ini cukup sederhana.
Juri akan memberikan satu kata untuk dideskripsikan peserta 1 dan ditebak peserta 2. Ada tiga kesempatan untuk memberi deskripsi dan menebak. Apabila salah tiga kali, tak akan mendapat nilai.
Dulu, permainan menebak ini banyak pesertanya. Sayang, semua berubah saat pasangan Pak Barto dan Bu Manis ikut serta.
Ceritanya, saat mendekati final, kata yang mereka terima adalah manis. Bu Manis dengan percaya dirinya mendeskripsikan "manis" sebagai “wanita tercantik di dunia.”
Pak Barto pun langsung menjawab “Dewi Yull”. Sejak saat itu, hubungan mereka jadi renggang. Bapak-bapak yang lain juga jadi takut ikutan, termasuk suami dan besan Bu Dinah. Akhirnya, hari ini, pesertanya hanya : Tama dan Cindy, Ferdinand dan Bu Dinah, serta Pak Timo dan Susi.
Dulu, saingan terkuat orang tua Cindy adalah Pak Timo dan istrinya. Sayang, istri Pak Timo kemudian meninggal karena sakit.
__ADS_1
Setelah itu, Pak Timo memilih Susi sebagai pasangan main, dan tak pernah menang. Sebenarnya, mereka bisa saja menang, tapi pasangan ayah dan anak itu lebih suka main-main dengan jawaban tebakan daripada menang.
Untuk memulai permainan, Pak Karyo memberikan kartu ke masing-masing peserta. Tebakan pun dimulai dari Pak Timo dan Susi.
“Benda yang ngga pernah kamu pegang setelah lulus SMA.” Pak Timo berkata dengan serius.
“Tangan ayah?” Susi menebak dengan wajah yang tak kalah serius. Sementara itu, semua penonton menatap mereka tanpa keseriusan. Mereka sudah belajar dari pengalaman, kalau ayah dan anak itu tak pernah serius.
“Bukan. Yang kita beli setiap kamu naik kelas.” Pak Timo menggeleng lalu memegang kepalanya seolah berpura-pura frustasi.
“Apa ya? Permen karet?” Tebakan tak masuk akal pun terus berlanjut sampai semua penonton lelah. Jawabannya? buku pelajaran.
Tak perlu menunggu lama, semua penonton menuntut agar mereka berdua segera didiskualifikasi. Ayah dan anak itu hanya tertawa mendengar tuntutan semua orang, dan bersedia mengundurkan diri.
“Rasa sambal Bu Dinah.” Ferdinand memulai dengan percaya diri. Kakak Dhita itu merasa kalau kata yang dia punya termasuk mudah.
“Enak.” Bu Dinah menjawab dengan penuh semangat. Ini barangkali pertama dan terakhir kalinya dia bisa ikut permainan ini. Kalau tak ada Ferdinand, tak ada lagi yang bisa dijadikannya pasangan.
“Bukan, Bu. Ini aja. Mulut Bu Tini pas ngegosip.” Ferdinand mulai panik karena takut kalah.
__ADS_1
“PEDAS!” Bu Dinah berteriak dengan penuh percaya diri. Jawabannya sih benar, tapi Bu Dinah harus menerima resiko ditatap tajam oleh Bu Tini yang adalah besannya. Sekali lagi, permainan ini berpotensi merusak hubungan cinta dan kekeluargaan para pesertanya.
Tama yang melihat kemenangan Ferdinand, mulai gelisah. Kali ini, dia yang menjadi si pemberi deskripsi. Cindy mendekati Tama untuk berbisik, “Kamu pasti bisa, Kas. Kebanggannya Cindy pasti bisa.” Senyum Tama merekah mendengarnya.
Pria kulkas itu tak tahu sejak kapan kata-kata Cindy mulai membuat dunianya berwarna dan penuh kebahagiaan. Bukan hanya itu, hal-hal kecil yang dilakukan Cindy juga membuat dunianya kacau balau.
“Hey, ngapain kalian dekat-dekatan? Mau main curang, ya?” teriak Pak Timo seraya terkekeh. Cindy cemberut lalu menjauh beberapa langkah. Permainan pun dimulai. Kata yang harus ditebak : memeluk.
“Yang dilakukan sang ibu ke anaknya saat baru lahir.” Tama memulai dengan cukup baik.
“Yang baru lahir itu ibu atau anaknya, Kas?” tanya Cindy, yang membuat Tama menggaruk kepalanya dengan frustasi.
“Cindy, ada ada aja pertanyaan kamu. Ya ibunya lah.” Pak Karyo jadi ikut-ikutan kesal. Cindy mengangguk patuh. Dirinya memang kurang konsentrasi karena kelelahan.
“Nggak apa-apa, Heat. Kita coba lagi. Yang dilakukan ketika orang yang disayang bersedih.” Tama berkata sambil menyemangati si pacar mungil.
“Menghibur?” jawaban Cindy membuat Tama menggeleng frustasi. Tama mulai panik karena takut kalah. Dia hanya punya satu kesempatan lagi untuk memberikan deskripsi. Kalau salah, mereka akan kalah.
“Yang kita lakukan di bawah hujan.” Perkataan Tama membuat Cindy terdiam. Dirinya tahu apa jawabannya, tapi, nggak mungkin kan, kalau menjawab itu.
__ADS_1
Apa yang akan dijawab Cindy? Yuk, ditebak di kolom komentar.
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤