Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Kuitansi


__ADS_3

“Kunci?” Tama bertanya saat Pak Surya memberikan benda itu ke tangan Tama.


Wajahnya kebingungan, sambil tak lupa melihat ke arah Cindy yang sedang makan dan tak melihat ke arahnya sama sekali. “Kenapa dikembalikan, Om? Ini hadiah tulus saya untuk Om.”


“Jumlahnya terlalu besar, dan saya nggak mau punya hutang budi sama Nak Tama.” Pak Surya menjawab dengan wajah datar.


Wajah ramah dan murah senyum yang selalu ditunjukkan ke Tama sudah hilang entah kemana. “Kalau saya hutang budi, saya jadi nggak bisa kecewa sama kamu, karena ninggalin anak saya pulang dengan orang lain.”


“Om bisa kok, kecewa sama saya. Saya memang bodoh. Kemarin malam itu…” Perkataan Tama terhenti karena tangannya sudah ditarik dengan kasar oleh Ferdinand.


“Nggak usah bilang apa-apa soal kemarin. Pak Surya masih nggak tahu soal kesalahan kamu. Cindy masih belum cerita ke Pak Surya dan Bu Anita.” Ferdinand berbisik sembari tersenyum gugup ke arah Pak Surya.


“Cindy belum cerita? Makasih, Ferdi…” Ferdinand melepas tangan Tama dengan kesal.


“Aku nggak melakukan itu untuk kamu. Aku melakukan itu untuk Cindy. Dia pasti nggak ingin orang tuanya tahu dari orang lain, terutama dari orang yang menyakitinya.” Setelah mengatakan hal itu, Ferdinand kembali tersenyum ke Pak Surya, lalu kembali ke meja makan.


“Kamu bisa ambil kuncinya di rumah Timo. Saya menitipkan mobil itu di sana. Pergi dan jangan berani kembali lagi.” Sampai saat ini, Cindy masih tetap melanjutkan makan tanpa menatapnya sama sekali.


Tama sadar, perkataan Dhita bahwa si kulkas “memanfaatkan” Cindy untuk kembali bersama Dhita, sangat menyakiti wanita kesayangan Tama itu. Walaupun  begitu, dia tetap bertekad untuk menjelaskan segalanya.


“Om, boleh saya bicara dengan Cindy?” tanya Tama seraya menempelkan kedua tangannya.


“Nggak boleh. Berani-beraninya kamu melepas kesempatan berharga yang saya berikan ke kamu, dan membiarkan anak saya pulang dalam keadaan sedih. Pergi dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini.” Pak Surya berkata dengan menahan rasa kesal, lalu berjalan ke meja makan.

__ADS_1


Ayah Cindy itu tak terima kalau anak perempuan yang begitu dia kasihi, disakiti oleh pria tak berguna seperti Tama.


Tama mulai putus asa. Karenanya, pria itu lalu mengeluarkan kertas kuitansi yang bertuliskan hadiah ulang tahun Tama dari kantongnya “Cindy, kamu sudah janji kan, kamu akan kabulin permintaan apapun kalau aku pakai ini.”


Cindy yang mendengar itu, berhenti menyendokkan makanan ke mulut, dan akhirnya menatap Tama. Pria itu tersenyum seperti orang bodoh saat wanita yang dipujanya menatap ke arahnya.


Cindy menghela napas, lalu berdiri dan berjalan ke arah Tama. Pak Surya dan Bu Anita memperhatikan, sementara Ferdinand segera berjalan mengikuti Cindy. Kakak Dhita itu sudah berjanji kalau dirinya tak akan membiarkan Cindy disakiti oleh Tama lagi.


Cindy segera mengambil lembaran kuitansi yang dilambai-lambaikan oleh Tama, lalu bertanya, “Oke. Kamu mau apa?” Tak ada suara ceria dan mesra seperti sebelumnya.


Tama mengutuk dirinya sendiri karena telah menyakiti wanita yang dicintainya sebegitu dalam. Pria itu bertekad untuk menebus kesalahan bodohnya sepanjang sisa hidup.


“Aku mau kita menghabiskan sisa 24 kartu remi aku.” Cindy mengerutkan kening saat mendengar permintaan Tama.


“Tapi, aku ada syarat.” Wanita itu menatap Tama dengan wajah menantang. “Aku mau, Ferdinand ada setiap kali kita menyelesaikan setiap kartu.”


Wanita itu yakin, Tama nggak akan minta hal-hal yang terlalu aneh selama ada Ferdinand di sampingnya.


“Aku punya syarat lainnya. Dilarang menyentuh dan disentuh Ferdinand selama penyelesaian 24 kartu.” Ferdinand melotot mendengar permintaan Tama.


“Apa maksud kamu? Aku bahkan bukan bagian dari permainan. Ini nggak masuk akal.” Sanggahan Ferdinand cukup masuk akal, sehingga diterima Tama dan Dhita.


“Namanya juga usaha, kan? Ya sudah, kita sepakati semuanya sekarang.” Tama mengulurkan tangan ke arah Cindy, tapi diabaikan karena masih ada yang ingin ditambahkan wanita itu.

__ADS_1


“Setelah kartu ke-24, aku ingin kamu hilang dari hadapan aku. Kalaupun suatu hari kita ketemu, nggak perlu saling menyapa. Anggap saja, kita adalah orang asing.” Tama terdiam mendengar perkataan Cindy.


Sepanjang hidupnya, ini adalah rasa sakit paling puncak yang hampir membunuhnya. Seolah tak cukup berkata-kata seperti tadi, Cindy kembali melanjutkan,


 “Aku ingin kamu ingat kalau kita bukan siapa-siapa lagi. Kamu bukan pacar aku, karena sudah memilih wanita lain. Jadi, yang kita lakukan sekarang hanya menghabiskan kartu saja.” Tama segera menggeleng.


“Dhita bukan pacar aku lagi…” Cindy menghentikan Tama dengan memperlihatkan telapak tangan di depan wajah pria itu.


“Aku nggak peduli dan nggak percaya lagi dengan semua kata-kata kamu. Untuk saat ini, yang aku tahu, kamu adalah pembohong yang memanfaatkan aku.” Untuk kalimat terakhir, Cindy sengaja memelankan suara. Walau tersakiti, dirinya juga tak mau Tama dikasari oleh sang ayah.


Tama mengangguk. Kenyataan bahwa Cindy mau menghabiskan 24 kartu dengannya saja sudah cukup membuatnya bahagia.


Nanti, kalau seandainya keberuntungan berpihak padanya, Tama berencana memakai kartu ke-24 untuk meminta Cindy menjadi istrinya.


Saat ini, Tama tahu kalau situasi tak begitu berpihak padanya, dan dia masih harus mencari tempat tinggal. Karenanya, setelah semuanya disepakati, pria itu permisi pulang dengan wajah yang frustrasi, saat Cindy berkata,


"Untuk setiap permintaan, supaya selalu ada Ferdinand, tolong diinfokan dulu sehari sebelumnya. Kalau Ferdinand nggak bisa hadir, aku nggak mau ngabulin permintaan kamu.”


***


Berbekal uang yang tersisa di dompet, Tama pergi ke penginapan terdekat. Pria itu tahu kalau menginap di hotel sudah tak memungkinkan.


Saat ini, pasti papanya sudah memastikan semua hotel menolak dia. Selain itu, dia harus hemat dulu sambil putar otak mencari penghasilan yang tak bisa diganggu sang papa. Saat akan masuk ke salah satu penginapan, dia tersenyum saat melihat wajah yang sudah cukup familiar.

__ADS_1


Siapa ya, yang dilihat Tama?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2