Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Bersaing


__ADS_3

“Tama sudah tak mungkin kita pengaruhi. Dia terlalu mencintai Cindy. Karena itu, yang bisa kita pengaruhi adalah Cindy.”  Dhita menjelaskan pada Ferdinand. Pria itu sebenarnya berat untuk melakukan ini, tapi cinta butuh perjuangan, bukan?


“Kalau kamu tahu Tama hanya mencintai Cindy, kenapa kamu masih maksa?” Ferdinand bertanya pada Dhita, dan hanya dibalas santai oleh adiknya itu,


“Jangan naif deh, Kak. Cindy sudah jelas-jelas bilang kalau dia memilih Tama. Kenapa masih maksa?” Ferdinand hanya diam.


Sampai saat ini, Ferdinand masih bertanya-tanya kalau apa yang dia lakukan ini benar. Dia tak ingin menyakiti Cindy, tapi benar-benar menginginkan Cindy sebagai kekasih, bahkan istri.


“Tenang saja. Tangan kakak nggak akan kotor, kok. Aku hanya ingin tahu jam berapa Cindy mendatangi kantor Tama besok. “ Ferdinand mengangguk pelan.


“Apa yang akan kamu lakukan kalo tahu kapan Cindy datang ke ruangan Tama?” Dhita tersenyum mendengar pertanyaan kakaknya. Wanita itu berjalan mendekat lalu berbisik,


“Rahasia.”


***


“Halo, sayang.” Dhita berjalan memasuki ruangan Tama. Pria yang dipanggil hanya mendengus saat melihat siapa yang datang.

__ADS_1


“Dhita, jangan panggil aku sayang. Kita berdua nggak punya hubungan apa-apa lagi.” Tama bahkan tak mau repot-repot mengangkat kepala dari kerjaannya untuk berbicara dengan Dhita.


Dhita tersenyum melihat Tama yang tak peduli dengannya. Semakin Tama cuek, semakin Dhita tertantang. Kali ini, Dhita sudah duduk di meja Tama.


“Jangan aneh-aneh kamu, Dhit. Nanti orang berpikir yang nggak-nggak tentang kita.” Tama menarik Dhita untuk turun dari meja, tapi Dhita menolak.


“Pacar mungilmu itu sering datang dan pastinya duduk di meja juga, kan? Kenapa aku nggak bisa?” Dhita menantang Tama yang kini sudah sangat kesal.


“Satu. Cindy tak pernah duduk di atas meja seperti kamu. Dua. Kalaupun dia mau duduk, aku nggak akan minta dia turun, karena dia pacar aku. Dia bisa berbuat semaunya.” Kini, Tama sudah berdiri untuk menarik paksa Dhita. Tiba-tiba, ada bunyi notifikasi dari handphone Dhita.


Wanita yang ditarik Tama itu, langsung memeluk Tama dan menciumnya. Hal itu terjadi tepat saat Cindy masuk ke dalam ruangan.


“Kamu nakal, sayang. Kamu harus ingat kalau kamu sudah punya pacar.” Dhita tiba-tiba mendorong Tama, lalu tersenyum penuh kemenangan ke arah Cindy. Dhita sangat menyukai situasi seperti ini, dimana dia bisa menang dari saingannya.


“Heat, jangan salah paham. Dengar dulu…” Perkataan Tama dihentikan Cindy dengan mengarahkan telapak tangannya ke Tama.


“Kalau kamu memang milik aku, berjalan ke arahku sekarang, dan tinggalkan dia.” Tepat setelah Cindy selesai mengatakan itu, Tama langsung berlari ke arah wanita itu dan memeluknya.

__ADS_1


Dhita sangat kaget dengan keberanian Cindy. Wanita yang dulunya dia permalukan di pesta hilang entah kemana. Yang ada di ruangan ini adalah wanita yang percaya diri dan siap bertarung.


“Sudah jelas kan sekarang, Tama milik siapa. Aku nggak masalah kalau kamu mengunjungi Tama-ku, tapi tolong jaga perilaku. Dia sudah jadi milik aku, jadi silahkan cari pria lain.” Cindy berkata dengan dingin.


Tama yang kini melepaskan pelukannya, melihat Cindy dengan penuh kekaguman. Akhirnya, Cindy-nya tak lagi rendah diri di depan orang lain.


Dhita melihat Tama dan Cindy dengan kesal, tapi berusaha untuk tenang dan duduk di sofa.


“Aku datang untuk melihat pekerjaan Tama. Bagaimanapun juga, kalau kerja sama perusahaan Tama dan perusahaan papa aku berlanjut, aku harus tahu keadaan perusahaan Tama,kan? Soalnya, kata papa, perusahaan Tama akan hancur tanpa bantuan keluargaku.”


Tama mengacak rambutnya dengan frustasi. Dirinya kesal karena Dhita tak kunjung menyerah. Tama tahu kalau Dhita tak benar-benar mencintainya. Dhita hanya tak terima kalau dirinya kalah dari Cindy.


“Aku nggak peduli kalau perusahaan atau keluarganya hancur. Dia punya aku, dan itu cukup. Jujur saja, aku akan melepaskan Tama kalau tadi dia diam saja, tapi, dia berlari ke arah aku. Itu artinya, semuanya sudah berakhir antara kamu dan Tama. Dia milik aku sepenuhnya.” Perkataan Cindy membuat Dhita kesal setengah mati. Berani-beraninya wanita itu menantang dirinya.


Dhita ingin sekali membalas Cindy, tapi tak punya peluru lagi untuk ditembakkan. Wanita yang dikiranya lemah itu kini sudah berubah menjadi pemburu yang siap memangsa. Dhita lalu menghentakkan kaki dan berjalan keluar lalu membanting pintu.


Cindy menghela napas lega, lalu menatap Tama dengan kesal. “Sekarang, giliran kamu.”

__ADS_1


Kira-kira, apa yang akan dilakukan Cindy ke Tama?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2