
“Nak Tama, ini beneran hadiahnya mobil?” tanya Pak Surya yang masih melongo melihat mobil hitam yang diturunkan dari truk. Tama mengangguk, dan tersenyum puas karena mobil yang dibelinya cepat diantar. Pacar Cindy itu sibuk mengibas tangan untuk mengarahkan mobil ke lokasi yang benar.
“Cin, si Tama ini ngasih hadiah ulang tahun atau door prize sih? Kaya amat,” bisik Susi tanpa melepaskan pandangan dari mobil hitam yang kini diparkir di depan rumah Cindy. Si pacar Tama tak menjawab pertanyaan Susi karena masih shock dengan hadiah dahsyat yang baru datang itu.
“Selamat ulang tahun, Om.” Tama tersenyum sangat lebar. Dirinya puas karena bisa membalas budi Pak Surya yang merayakan ulang tahunnya beberapa waktu yang lalu.
Pak Surya lalu mendekat dan berbisik, “Nak Tama, hadiah Nak Tama kemahalan. Om nggak bisa terima...” Pak Surya berhenti bicara saat melihat senyum Tama berangsur-angsur berubah menjadi kemuraman.
“Waduh, Nak Tama, kasih hadiah kok nanggung. Kasih rumah aja sekalian,” canda Pak Timo sambil terkekeh saat melihat wajah Pak Surya yang pucat pasi.
“Om sukanya rumah? Nanti besok saya…” Pak Surya langsung menutup mulut Tama dengan tangannya.
“Jangan dengarkan kata-kata budak iblis itu. Dengar kata Om saja. Om merasa nggak enak terima hadiah semahal ini. Om Timo saja yang sudah jadi teman Om bertahun-tahun, cuma ngasih hadiah handuk diskonan.” Pak Surya menjelaskan dengan gugup, sambil sesekali menatap tajam ke Pak Timo yang tersenyum manis.
“Saya ikhlas dan senang ngasihnya, Om. Lagian, yang ngasih juga kan bukan orang lain. Saya pacar anak Om.” Penjelasan Tama masih belum bisa meyakinkan Pak Surya, tapi ayah Cindy itu mulai bersimpati dengan wajah sedih Tama.
Bukannya tak mau menghargai hadiah, tapi apa normal ngasih hadiah mobil seperti ini dengan gampangnya?
Akhirnya, kegigihan Tama membuahkan hasil. Pak Surya menyerah. Tama menyodorkan kunci mobil dengan gembira sementara Pak Timo mengajak semua orang mengambil foto.
***
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, tapi Cindy harus bangun untuk menerima panggilan telepon. Nama penelepon yang tertera di layar adalah “Sayang”.
“Tama? Tumben dia menelepon pagi-pagi begini?” Cindy lalu menerima panggilan Tama. Selama ini, mereka hanya bertemu pada saat weekend, karena keduanya sibuk di hari kerja. Walaupun begitu, Tama tak pernah mengganggu Cindy sepagi ini di hari minggu.
“Ya, Kas?” tanya Cindy seraya mengucek-ngucek mata.
“Cin, aku butuh kamu. Datang ke apartemenku sekarang, ya. Nanti aku kirim lokasi.” Panggilan pun ditutup. Suara Tama terdengar serak dan putus asa.
Cindy segera memeriksa lokasi yang dikirim Tama, dan bersiap-siap pergi dengan khawatir. Selama perjalanan, dirinya berdoa agar si kulkas baik-baik saja.
__ADS_1
***
“Selamat siang. Saya Cindy. Apa ini apartemen Tama?” tanya Cindy saat seorang pria dengan pakaian rapi menyambutnya di depan pintu.
“Benar, Bu. Pak Tama sudah pesan kalau pacar cantiknya yang bernama Cindy akan datang. Silahkan masuk, Bu. Pak Tama sudah menunggu di dalam,” jawab pria itu dengan tenang. Tangannya mempersilahkan Cindy untuk masuk.
Cindy menarik tangan pria itu untuk menanyakan sesuatu yang penting, “Pak Tama bilang pacarnya yang cantik? Kamu nggak salah dengar?” Sang pria yang kaget karena ditarik, mengangguk dengan gugup. Cindy bertanya-tanya, apakah si kulkas sedang mabuk sampai mengeluarkan kata-kata seperti itu?
Di kamar Tama, ada seorang pria lain yang berbicara dengan Tama di tempat tidur. Stetoskop melingkar di leher si pria. Karenanya, Cindy berasumsi kalau beliau adalah dokter.
Saat melihat Cindy, pria tersebut menghentikan pembicaraan, dan tersenyum. Beliau lalu meminta waktu Cindy untuk berbicara sebentar di luar kamar.
“Pak, apa Tama sekarat?” Cindy bertanya sembari menahan tangis. Pak dokter menggeleng mendengar pertanyaan itu, dan mencoba menenangkan Cindy.
“Tama hanya demam, tapi memang agak lebay kalau sakit.” Jawaban si dokter bikin Cindy kaget. Baru kali ini ada dokter yang membicarakan keburukan pasiennya. Dokter tersebut terkekeh melihat reaksi Cindy.
“Saya sudah jadi dokter Tama dari sejak dia remaja. Kalau dia sakit, seperti dunia mau kiamat saja. Tadi pas telepon, kalau saya nggak kenal dia, pasti mengira dia sudah hampir mati.” Cindy mengingat panggilan telepon Tama tadi, dan mengangguk setuju.
“Kamu jaga Tama dengan baik, ya. Dia memang terlihat dingin di luar, tapi hatinya baik. Kamu juga harus banyak sabar dengan kelakuan manja dia saat sakit, ya. Saya sudah mengalami, dan rasanya sangat mengganggu.” Sang dokter berkata dengan nada bercanda. Mereka berdua tertawa, tapi kemudian terhenti karena panggilan Tama.
“Dokter, Heater, tolong….” Tama memanggil dengan suara lemah. Si dokter mengernyitkan dahi saat mendengar panggilan “heater”, tapi mengabaikannya.
“Akhirnya, saya tak perlu lagi mengurus si manja itu. Waktunya kamu kerja, Nak.” Dokter itu memberi tanda pada pria yang tadi menyambut Cindy di pintu, dan mereka bersiap pergi.
“Loh, kenapa pergi? Kamu nggak kerja di sini?” tanya Cindy heran. Dia pikir, pria tadi adalah asisten Tama. Pria itu menggeleng.
Pak dokter yang melihat kebingungan Cindy, langsung menjelaskan, “Dia ini asisten saya. Tama hanya tinggal sendiri. Dia nggak suka ada orang lain menemani dia. Kamu yang pertama, Cin.” Dokter itu tersenyum lalu pergi.
Di dalam kamar, Tama yang berwajah pucat, sedang bersandar di kepala tempat tidur dan berkata lemah, “Tolong, Heat, kepalaku sakit banget.” Tama lalu mengulurkan tangan, seakan minta dipeluk.
Saat kecil, Tama pernah melakukan hal yang sama ke Bu Riyanti, tapi ibunya menolak, karena Tama tak boleh cengeng. Tama harus tumbuh kuat.
__ADS_1
Karenanya, Tama kaget saat permintaan pelukannya disambut baik oleh Cindy. Pacar mungilnya itu lalu menepuk punggungnya dengan lembut.
“Jangan takut, kesayangannya Cindy. Aku ada di sini. Kamu nggak sendiri.” Tanpa sadar, air mata menggenang di pelupuk mata Tama. Pacar Cindy itu mengangguk penuh terima kasih. Ternyata begini rasanya disayang saat sakit.
“Aku mungkin akan mati, Heat. Kepalaku kayak mau pecah. Tenggorokan sakit banget. Kamar juga serasa di kutub utara. Aku minta maaf ya, kalo ada salah semasa hidup."
Cindy mengingat peringatan dokter tadi, dan setuju sepenuhnya kalau Tama manja seperti anak-anak kalau sakit.
Tama tiba-tiba mengangkat kepala dari bahu Cindy. Wajah mereka berdekatan, dan semakin lama, jaraknya semakin menipis. Cindy yang tersadar, langsung melepaskan diri dari pelukan Tama.
“Aku nggak bisa dapat ciuman sebelum mati?” tanya Tama merajuk.
“Pertama, kamu nggak akan mati. Kedua, kita belum sampai di tahap ciuman,” jelas Cindy dengan wajah yang semerah kepiting rebus.
Tama mengangguk patuh. “Tapi, kalau cuma pelukan, boleh, kan?” Si kulkas merentangkan tangannya lebar-lebar. Cindy langsung melihat puzzle di meja kamar dan mengeluarkan kartu ke-16 dari tas.
“Aku mau kita main puzzle,okay?” tanya Cindy.
Wajah Tama langsung cemberut. “Aku sudah mau mati, Heat. Aku maunya dipeluk, bukan main Puzzle.”
Cindy sebenarnya tak keberatan memeluk Tama, tapi dia harus mengatur detak jantungnya yang tak karuan ini terlebih dulu.
Kini, mereka berdua duduk di tempat tidur dan mengelilingi Puzzle yang dilihat Cindy tadi.
Sayangnya, Puzzle adalah pilihan yang buruk. Tak banyak ruang kosong yang tersisa, jadi cepat selesai. Cindy berpura-pura untuk berpikir supaya lebih lama, tapi Tama sudah buru-buru menyelesaikan dengan tangannya sendiri.
“Sekarang, peluk.” Si kulkas memeluk Cindy dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Cindy.
Tiba-tiba, notifikasi handphone Cindy mengalihkan perhatian wanita itu. Cindy mengambil handphonenya, dan terlihat notifikasi yang bikin Tama kesal. Si kulkas lalu mengambil handphone dari Cindy, dan menyembunyikannya.
Kira-kira, itu notifikasi apa? Yuk ditebak di komentar
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤