
“Dhita?” Pertanyaan Tama saat menerima panggilan, membuat Cindy berhenti menulis di kertas. Cindy menatap Tama sebentar, menghela napas, lalu kembali menulis.
Walau terlihat tenang, dalam hatinya sudah kacau. Pikiran bahwa pria yang dicintainya akan segera pergi, membuatnya takut setengah mati.
“Nomor kamu masih sama.” Dhita terkekeh sembari melihat Ferdinand yang sedang menyetir. Kakak Dhita itu tak nyaman dengan perlakuan adiknya yang seenaknya. Karena dimanja setelah berlebihan, Dhita tumbuh jadi pribadi yang egois dan tak peduli dengan orang lain.
Tama berdehem sebentar lalu menjawab, “nomor aku memang nggak pernah ganti.” Si kulkas melihat ke arah Cindy yang sibuk menulis.
Tama ingin segera memutus panggilan, tapi selalu teringat dengan papanya yang ingin bisnis mereka bisa lebih berkembang dengan bantuan keluarga Dhita.
“Karena kamu menunggu panggilan dari aku?” goda Dhita. Adik Ferdinand itu menikmati pembicaraannya dengan Tama.
Sejak mereka berpacaran, Dhita belum pernah merasakan ketertarikan seperti ini pada Tama. Entah mengapa, pria tanpa ekspresi itu terlihat lebih menarik sekarang.
“Bukan. Nomor ini sudah dikenal banyak kenalan. Menggantinya berarti harus ribet dengan urusan kontak.” Tama menjawab dengan tatapan yang tak lepas dari Cindy. Wanita yang dari tadi sibuk menulis sesuatu di kertas itu, tak mengangkat wajahnya sama sekali.
Tama yakin kalau Cindy sama sekali tak menulis lirik atau hal yang berarti di lembaran kertasnya. Walau tak menunjukkan kekesalan, Tama tahu kalau pacarnya itu tak suka mendengar nama Dhita.
“Sudah dulu, ya. Aku mau lanjut makan sama Cindy.” Tama bergegas mengakhiri pembicaraan dan diiyakan oleh Dhita. Setelah itu, meja kembali hening. Cindy akhirnya mengangkat kepala dan menatap Tama tanpa ekspresi.
“Aku nggak mau bicara apapun soal wanita itu. Aku hanya ingin kita lanjut membuat lirik untuk lagu kita,” kata Cindy dingin.
Tama yang mendengar itu, mengangguk dengan gugup. Walau Tama ingin sekali menyalahkan Dhita karena sudah merusak makan malam mereka, pria kulkas itu sadar kalau dirinya yang sebenarnya salah, karena mau menerima panggilan wanita itu.
“Walau harus ada hati yang tersakiti.” Cindy berkata seraya menatap Tama tajam.
“Tersakiti? Kamu marah soal tadi?” Tama tak mampu lagi menahan rasa ingin tahunya. Dia ingin membicarakan ini, tapi berulang kali ditolak Cindy.
__ADS_1
“Ini hanya lirik, Tam.” Cindy kembali menulis sesuatu di kertasnya.
“Kenapa nggak panggil aku kulkas lagi?” tanya Tama sedih. Cindy yang melihat itu menjadi sedikit luluh. Dirinya selalu lemah dengan si pria kulkas. Hanya dengan wajah sedih saja, Tama sudah berhasil mengubah mood Cindy.
“Itu nggak ada hubungannya dengan kita, Oke? Sekarang giliran kamu, Kas.” Tama senang karena nama panggilannya kembali dipakai. Pria itu segera menulis sesuatu di kertas.
“Tapi selalu ada yang siap menyembuhkan.” Tama tersenyum saat mengatakan itu. Cindy juga tersenyum melihat wajah sumringah Tama. Suasana romantis akhirnya tercipta lagi. Lagu pendek versi mereka pun selesai dibuat.
Setelah makan malam selesai, Tama mengantar Cindy pulang. Saat mengecek playlist lagu yang diputar dalam mobil, Cindy menemukan folder “Me, Myself and I”.
“Me, Myself and I ini lagu-lagu apa, Kas?” tanya Cindy penasaran. Tama langsung gugup mendengar pertanyaan Cindy.
“Playlist nggak penting itu. Abaikan aja. Cari folder yang lain. Nggak usah dibuka…Nggak usah…” Perkataan Tama terhenti saat suara jeleknya menggema di seantero mobil. Cindy tertawa terbahak-bahak melihat wajah Tama yang memerah.
“Kamu bikin playlist yang isinya lagu-lagu yang kamu cover? Keren banget!” puji Cindy sambil tertawa.
Saat mendekati rumah Cindy, mobil Tama mogok. Sialnya, itu terjadi saat hujan deras. “Aku pikir, mobil mewah jarang mogok. Kok mobil kamu mogok melulu?” tanya Cindy, lalu melanjutkan, “Kamu sengaja bikin mogok biar bisa lebih lama berduaan sama aku?”
Senyum terulas di bibir Tama. Si pria kulkas senang karena Cindy yang suka menggodanya telah kembali. “Kalau iya, kenapa?” tantang Tama.
“Kalau iya, nggak apa-apa. Aku juga suka berduaan sama kamu.” Tama terdiam mendengar itu. Cindy tersenyum melihat pria yang membuatnya jatuh hati berulang kali itu. Dalam hatinya, dia berharap kalau mereka berdua bisa seperti ini selamanya.
Karena hujan tak kunjung berhenti, Cindy mengeluarkan kartunya yang ke-25. “Aku mau kita pelukan di bawah hujan.”
Wanita itu ingin momen romantis yang tak akan dia lupakan seumur hidupnya. Lagipula, mereka berdua juga sudah pernah berpelukan sebelumnya. Bedanya, kali ini, Cindy yang minta, dan Tama nggak dalam keadaan sakit.
Tama tersenyum dan mengiakan. Mereka berdua keluar dari mobil dan Tama membuka tangan. Cindy segera memeluknya. “Terima kasih sudah mau ngabulin permintaan aku,” kata Cindy tulus.
__ADS_1
Tama yang terbawa suasana, lalu mencium kepala Cindy. Tiba-tiba, Tama dan Cindy dikejutkan oleh payung yang diletakkan di atas mereka.
"Berbuat mesum juga harus tahu tempat. Masa di jalan, pas hujan pula." Pak Timo berkata sambil terkekeh. Tama dan Cindy segera memisahkan diri.
"Cindy, jangan selalu ikutin maunya dia. Om juga pernah muda. Om kenal pria-pria seperti Tama ini. Sedikit-sedikit mau nyentuh, sedikit-sedikit mau peluk. Lama-lama, minta cium juga."
Payung yang dipegang Pak Timo kini beralih hanya ke Cindy dan membiarkan Tama basah di bawah hujan.
"Om salah paham. Bukan saya yang mau, tapi... Mmpphhh...." Cindy segera menutup mulut Tama dan menatap Pak Timo dengan gugup.
"Iya, Om. Saya akan lebih berhati-hati dengan Tama." Pak Timo mengangguk puas.
"Kalau begitu, mari jalan ke rumah kamu. Kalian ngga berniat untuk pelukan di sini sampai kiamat, kan?" goda Pak Timo. Tama dan Cindy menggeleng, lalu mengikuti langkah Pak Timo dengan patuh.
Di rumah, Pak Surya dan Bu Anita heboh melihat Tama dan Cindy basah kuyup. "Surya, anak kamu pelukan sama pacarnya di tengah hujan. Untung ketemu sama saya. Kalo nggak, entah hal kreatif apalagi yang akan mereka lakukan di bawah hujan."
Cindy merengut mendengar laporan Pak Timo. Ternyata nama panggilan budak iblis yang diberikan ayahnya ke Pak Timo punya alasan yang kuat.
Bu Anita bergegas mengambil handuk dan memberikannya ke Tama dan Cindy, sementara Pak Surya memperhatikan mereka berdua dengan seksama.
Tama hanya diam dan sok sibuk dengan proyek mengeringkan rambut, sementara Cindy tak berani menatap sang ayah.
"Kebetulan Tama dan Cindy ada di sini. Ada yang ingin ayah bilang ke kalian berdua."
Apa gerangan yang ingin dibilang Pak Surya? Yuk ditebak di kolom komentar 😊.
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤
__ADS_1