Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Boros


__ADS_3

Tama mengeluarkan kartu remi miliknya dengan tergesa-gesa. “Untuk kartu ke-10, aku mau kamu jangan marah. Aku nggak mau bertengkar sama orang yang aku sayang.” Cindy mengambil kartu itu lalu memeluk Tama.


“Kalau begitu, kita begini dulu sebentar sampai marahku hilang. Okay?” Tama mengangguk patuh. Dirinya lega karena tak harus bertengkar dengan Cindy. “Makasih ya, kamu sudah memilih aku.”


Tama langsung melepaskan pelukannya. “Kenapa bilang makasih? Aku yang harus makasih karena kamu percaya sama aku. Aku ini milik kamu sepenuhnya.” Cindy tersenyum mendengar kata-kata Tama yang diucapkan dengan penuh keseriusan, sampai wajah pria itu merah.


Kalau saja Tama cukup beruntung untuk bisa menjadikan Cindy istrinya, dia jelas akan menjadi dewan kehormatan dari Ikatan Suami Takut Istri.


Tak lama kemudian, terdengar pintu diketuk. Cindy langsung menjauhkan diri dari Tama, dan membuat pria itu cemberut. Pak John, pimpinan kantor yang mengantar Cindy ke kantor Tama pada hari pertama, masuk dengan gugup.


“Maaf mengganggu, Pak Tama.” Tama hanya diam dan memperlihatkan wajah kesal. Karenanya, Pak John berinisiatif untuk melanjutkan perkataan, “Laporan yang bapak minta masih dicari. Untuk hari ini, mungkin belum bisa ketemu.”


“Laporan ini sama dengan otak kalian. Susah dicari.” Cindy langsung meremas tangan Tama agar jangan terlalu kasar. Bagi Tama, ini hal yang biasa, jadi agak susah untuk mengubah dirinya. Dia hanya lembut ke Cindy dan keluarganya.


“Maaf, Pak. Kami memang salah. Pokoknya, kami nggak akan pulang kalau laporan itu belum ketemu hari ini.” Tama mengangguk dengan puas. Pak John lalu bergegas keluar ruangan dengan wajah pucat.

__ADS_1


“Kas, kamu terlalu keras sama pegawai kamu.” Cindy menasihati Tama dengan lembut. Tama hanya menggeleng.


“Mereka harus diperlakukan seperti itu, Heat. Kalau nggak, laporannya nggak akan ketemu. Ada orang yang mengerti kalau diperlakukan dengan baik, tapi ada juga yang nggak mengerti. Yang ada, mereka justru memandang rendah dan tak mau mengikuti perintah.” Tama menjelaskan dengan nada lembut sembari memainkan beberapa helai rambut Cindy.


Cindy menghela napas dan mengiakan. Jujur saja, wanita itu masih tak setuju dengan perlakukan Tama, tapi dia juga tak mungkin mempermalukan Tama di depan pegawainya.


Tama jelas lebih menguasai keadaan perusahaan dan tahu bagaimana cara menjalankan tugasnya sebagai pimpinan.


“Kalau begitu, aku pulang dulu.” Cindy mengambil tasnya untuk pulang, tapi segera ditahan Tama.


“Kamu marah?” Tama bertanya dengan khawatir. Cindy menggeleng untuk menenangkan pacarnya yang kini sudah gelisah itu. Tama lalu mengeluarkan kartu ke-11 dengan ragu-ragu.


“Bapak Tama yang saya hormati, jadi menurut Pak Tama, saya memegang tangan dan memeluk Pak Tama itu perilaku seorang teman?” Tama kaget dengan pertanyaan Cindy. Dirinya sangat menyukai Cindy yang sekarang.


“Kalau begitu, kita sekarang pacaran lagi, kan?” Tama bertanya dengan girang, dan dijawab dengan anggukan Cindy. Rasanya, hari ini Tama akan menjalani hari dengan penuh keceriaan. Pria itu lalu langsung mengeluarkan kartu ke-12.

__ADS_1


“Apa lagi, Tam?” tanya Cindy yang merasa kalau hari ini, Tama sangat boros dalam memakai kartu reminya.


“Nathan sering nanyain kamu. Kita double date yuk, dengan si bocah dan pujaan hatinya.” Tama berkata dengan sedikit terkekeh. Cindy terkejut karena Nathan ternyata punya pujaan hati yang baru.


“Pujaan hati yang baru? Nggak, lah. Nathan masih menunggu Lia. Selama Lia belum ada pacar, Nathan maju terus pantang mundur, seperti kakaknya.” Cindy mencubit pelan tangan Tama dan mereka berdua tertawa.


***


“Om, kayaknya Tama nggak akan kembali ke Dhita. Kerja sama keluarga kita tak akan terjalin…” Perkataan Dhita segera dipotong Pak Vincent, papa Tama.


“Panggil saya Papa, bukan Om. Bagi saya, hanya kamu menantu saya. Karena itu, saya akan pastikan kalau satu-satunya wanita yang menikahi anak saya adalah kamu.” Pak Vincent berkata dengan tenang. 


“Tapi, bagaimana caranya, Pa? Tama sudah cinta banget sama wanita itu.” Pak Vincent terkekeh saat mendengar keluhan Dhita.


“Nanti kita lihat saja bagaimana kelanjutan hubungan mereka kalau tahu rahasia yang akan saya ungkap.” Pak Tama lalu mengungkapkan rahasia itu, dan membuat Dhita menutup mulutnya karena kaget.

__ADS_1


Kira-kira, apa ya, rahasianya?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2