Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Berjuang


__ADS_3

“Om Timo!” Tama memanggil Pak Timo yang sibuk membawa pesanan kue. Si pria kulkas bergegas mendekat dan mengambil semua bungkusan untuk dibawa masuk ke penginapan.


Pak Timo jelas bahagia karena tak harus susah payah mengangkat pesanan, dan berjalan santai di samping Tama.


“Ngapain kamu di sini, Nak Tama?” Pak Timo bertanya, karena penginapan sederhana di depan mereka bukan tipe tempat yang dikunjungi orang seperti Tama.


“Mau pesan kamar, Om.” Tama menggaruk kepalanya dengan malu-malu. Melihat itu, Pak Timo lalu berpikir kalau Tama sudah bosan dengan kehidupan orang kaya dan mau merasakan hidup biasa-biasa saja.


Setelah mengantar pesanan, Pak Timo menemani Tama check-in. “Mohon maaf, Pak Tama. Untuk hari ini, tak ada kamar yang tersisa. Ada pesan juga dari atasan saya, kalau kamar khusus akan segera tersedia jika Pak Tama mau kembali ke Pak Vincent dan meminta maaf.”


Perkataan resepsionis itu membuat Tama menghela napas, dan mengacak rambut dengan frustasi. Dirinya juga sedikit malu karena penolakan dirinya dilihat oleh Pak Timo. Tama sudah mengira kalau Pak Timo akan menggodanya, tapi beliau hanya diam.


“Tama, kamu pulang sama Om saja, ya.” Ayah Susi itu langsung berjalan keluar dari penginapan, dan diikuti oleh Tama.

__ADS_1


Di mobil Pak Timo, Tama menceritakan segalanya. Mulai dari pertemuan pertama di lokasi Bang Ipul, sampai di pesta ketika perkataan Dhita membuat Cindy marah dan meninggalkannya. Tiba-tiba, Pak Timo menjitak kepalanya.


“Dasar anak bodoh! Kamu meninggalkan wanita terbaik keempat di dunia untuk wanita seperti Dhita?” Tama mengusap kepalanya yang sakit karena dijitak.


“Kok keempat, Om? Bagi saya, Cindy itu yang nomor satu.” Tama berusaha menantang pernyataan Pak Timo.


“Gini, Nak Tama. Yang pertama, istri saya. Yang kedua, anak saya…” Penjelasan Pak Timo berhenti karena Tama sudah memotong.


“Ternyata kamu hebat juga ya, berkata-kata. Memang cocok jadi petinju.” Tama cemberut mendengar pujian aneh Pak Timo.


“Yang ketiga, itu kalau seandainya saya terlahir sebagai perempuan. Nah, yang keempat baru Nak Cindy.” Pak Timo menjelaskan dengan wajah puas. Tama mendengarkan sembari mengangguk dengan berat hati.


“Nak Tama, semua orang pernah berbuat salah, tapi nggak usah dijadikan beban masa lalu yang memberatkan. Selama kamu memang nggak sengaja, dan mau memperbaiki semuanya, kamu bisa punya masa depan yang lebih baik.” Tama tersenyum mendengar kata-kata penghiburan dari Pak Timo.

__ADS_1


“Dulu, sebelum menikah dengan Tante Dinda, ibunya Susi, Om punya pacar cantik yang namanya Mira. Pokoknya, tercantik di kota kami. Ayahnya juga orang kaya, sampai Om minder karena belum punya apa-apa. Akhirnya, Om menyerah dan membiarkan cinta Om pergi. Om menghabiskan bertahun-tahun untuk melupakan wanita itu, sampai bertemu Tante Dinda.” Pak Timo berhenti sebentar untuk tersenyum karena menyebut wanitanya yang sudah berpulang itu.


“Dinda juga berasal dari keluarga kaya, tapi Om sudah belajar dari kesalahan. Om nggak akan melepaskan yang ini. Akhirnya, setelah perjuangan panjang, Om menikah dengan Tante Dinda dan hidup bahagia.” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Pak Timo.


“Kamu juga harus belajar dari kesalahan. Om tahu benar, Nak Tama dan Nak Cindy saling mencintai. Karenanya, kamu harus perjuangkan. Lepaskan cengkeraman masa lalu dan minta maaf, lalu habiskan seumur hidupmu untuk membahagiakan serta merebut cintanya setiap hari.” Kini, mobil Pak Timo sudah berhenti di depan tokonya.


“Di dunia ini, nggak semua orang bisa beruntung untuk merasakan mencintai dan dicintai. Om mau, kamu dan Cindy jadi orang beruntung itu.” Pak Timo tersenyum lalu mengajak Tama turun dari mobil dan masuk ke toko yang merangkap rumah itu.


Di ruang tamu, ternyata sudah ada orang yang menunggu Pak Timo dengan wajah kesal.


Hayoo, siapa coba?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤

__ADS_1


__ADS_2