Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Kakak Adik


__ADS_3

“Kamu itu, sudah dewasa tapi masih seperti anak-anak,” gerutu Tama pada Cindy dalam perjalanan menuju tempat hiburan arkade.


Wajah pria itu muram melihat kelompok orang yang sibuk mencoba berbagai permainan mulai dari lempar bola basket, dance mengikuti video sampai game menembak zombie.


Cindy mengabaikan Tama, dan berbisik pada Nathan, “Tunggu sebentar ya, Kakak beli kartu permainannya dulu di kasir.” Tama yang mencuri dengar, malah langsung buru-buru ke kasir duluan.


“Biasanya perlu berapa untuk main? 10 juta cukup?” tanya Tama serius sambil memperhatikan hadiah-hadiah penukaran tiket di bagian kasir.


Cindy terkekeh mendengar pertanyaan Tama. “Kamu mau topup kartu atau beli tempat hiburan ini?”  Tama langsung merengut.


“Aku…nggak pernah main seperti ini, makanya nggak tahu.” Tama menggaruk kepalanya, lalu menyodorkan dompetnya ke arah Cindy. “Kamu aja yang beli.”


Awalnya, Cindy tak mau mengambil dompet Tama, tapi sekali-kali dalam hidupnya, dia pengen juga dimanjakan seperti itu oleh pacar. Lagian, ini kan untuk keperluan adik Tama.


Selesai membayar, Cindy memberikan kartu ke Nathan, dan memberi tanda agar adik Tama itu pergi bermain dengan Lia. Nathan berterima kasih dengan semangat, lalu mengajak temannya menjauh dari Tama dan Cindy.


Setelah Nathan tak kelihatan, Cindy menarik tangan Tama sambil menggoyangkan kartu permainan. “Kamu mau apa dengan kartu itu? Bukannya kita cuma perlu duduk ngawasin Nathan dan Lia?” 


Cindy tersenyum mendengar pertanyaan polos Tama. “Kita ini kakaknya Nathan ya, bukan baby sitter dia. Kalau dia main, kita juga main lah.” Mata Cindy sibuk mencari permainan yang tepat untuk Tama.

__ADS_1


“Kalau karaoke, nggak mungkin lah ya. Nanti anak-anak pada nangis dengar suara kamu.” Tama melirik Cindy tajam saat mendengar penjelasan pacar mungilnya itu, tapi tak berkata apa-apa. Pandangan Cindy terhenti pada permainan basket, dan langsung menarik Tama mendekat dengan penuh semangat.


Pacar mungil si kulkas itu langsung menggesek kartu permainan di bagian depan permainan basket. Bola-bola basket segera digelindingkan ke depan untuk dimainkan. Tama yang melihatnya hanya diam.


“Kenapa diam? Dimainin, dong. Kamu kan tinggi, pasti bisa.” Cindy mengambil satu bola dan menyerahkannya ke Tama. Tama mengambilnya dengan berat hati, lalu melempar seadanya. Tembakan pertama, tak masuk keranjang.


Cindy menggeleng melihatnya, dan berdecak. “Ternyata nggak ada gunanya punya badan tinggi. Entah apa yang bisa aku banggakan dari kamu. Sudah suara jelek, ngga bisa main basket.” Tama mulai panas dengan kata-kata Cindy.


SI kulkas lalu mengambil lagi bola kedua dan melempar bola ke arah keranjang. Tembakan kedua, masuk. Begitu pula tembakan-tembakan berikutnya. Akhirnya, Tama mendapat skor tinggi dengan tiket hadiah yang cukup banyak.


Kedua tangan Tama diletakkan di pinggul sambil terengah-engah. Pria kulkas itu menganggukkan kepala ke arah Cindy lalu mengarahkan tangan ke papan skor untuk mengejek si pacar mungil.


Tama menggaruk kepala dengan pipi yang memerah. Tangan kanannya diulurkan ke Cindy. “Pinjam kartunya.” Kata singkat itu membuat Cindy tersenyum.


Tampaknya, Tama sudah kecanduan bermain. Cindy masih memegang kartu dan tak mau menyerahkannya pada Tama yang kini salah tingkah.


“Sejak kecil, aku nggak pernah main hal-hal seperti ini. Kata mama, ini bikin aku nggak belajar. Ternyata, kalau dicoba, asyik juga.” Tama membuang muka. Cindy tahu kalau si pria tinggi pasti sangat malu saat mengatakan itu.


Cindy menyerahkan kartu dan berbisik, “Main sepuasnya, Tama kecil. Aku ada di bangku panjang di belakang, ya?” Tama mengangguk patuh. Senyum lebar terulas di wajahnya. Si pria tinggi itu lalu bergegas menggesek kartu untuk kembali bermain.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Nathan dan Lia datang mendekat. Mereka ikut menonton Tama yang sedari tadi masih asyik melempar bola ke keranjang. Nathan yang berdiri di samping Tama terlihat kagum.


Cindy yang melihat itu, berjalan mendekat dan berbisik ke Tama, “Orang dewasanya berhenti dulu, ya. Tuh, Nathan kelihatan banget mau main.” Cindy menganggukkan kepala ke arah Nathan.


Tama yang baru sadar kalau permainannya ditonton orang lain, langsung mengangguk dan mundur. Cindy segera mempersilahkan Nathan untuk main. Remaja itu menggaruk kepalanya dengan malu. Benar-benar persis seperti sang kakak.


Sayang, permainan Nathan sangat buruk, seburuk suara Tama. Nathan terlihat gugup dan sangat malu, walau kakaknya tak berekspresi apa-apa saat menonton.


“Maaf, Kak. Nathan mainnya jelek. Ini pertama kalinya Nathan main.” Remaja itu berkata dengan khawatir, karena takut dirinya akan dimarahi. Tak disangka, Tama justru menepukkan tangannya ke pundak Nathan.


“Nggak apa-apa. Sini, Kakak ajarin.” Perkataan Tama itu membuat hati Cindy hangat.


Tak ada yang tahu mengapa Tama tiba-tiba mau mengajari Nathan, tapi Cindy punya tebakan sendiri. Mungkin, Tama merasa kalau Nathan mirip dirinya di masa lalu, yang jarang sekali diijinkan bermain.


Kakak beradik itu mulai akrab membicarakan strategi permainan. Nathan sangat senang dan bersemangat, begitu pula si pria kulkas. Saking semangatnya, Tama sampai mengeluarkan kata-kata yang membuat Nathan melongo.


Hayoo, apa yang dikatakan oleh Tama? Ditebak yuk, di komentar.


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤

__ADS_1


__ADS_2