
“Jadi gini, Om mau kamu dan Cindy yang mewakili lapak om di permainan besok.” Pak Surya berkata dengan wajah serius. Tama menyikut Cindy untuk meminta penjelasan.
“Tahun ini, ayah dan ibu saja yang ikut. Cindy dan Tama nanti kapan-kapan saja. Kasihan nanti Tama terbeban, apalagi ayah dan ibu selalu juara satu setiap tahun.” Cindy berusaha menolak permintaan sang ayah.
“Nggak usah takut, Cin. Lawan terkuat ayah dan ibu kamu ngga hadir besok. Kemungkinan menang jadi lebih besar.” Pak Timo berkata dengan penuh semangat.
“Lawan terkuat? Maksudnya keluarga Suminto?” tanya Cindy yang berusaha mengingat-ingat peserta permainan. Pak Timo mengangguk. Cindy cukup heran karena keluarga itu tak berpartisipasi. “Kenapa sampai nggak hadir?”
“Katanya sih, si istri lagi ada jadwal urus ganti nama, jadi nggak bisa datang.” Pak Timo menjawab santai, seolah ganti nama adalah kegiatan normal seperti mencuci pakaian.
“Eh iya, kenapa sampai ganti nama, Mo? Nama Girang Suminto kan bagus?” Kali ini, Bu Anita yang penasaran. Pak Timo menggeleng karena pertanyaan ibu Cindy itu dianggap aneh.
“Nama Girang itu oke pas kita kecil sampai remaja. Pas sampe tante-tante, coba tebak apa nama panggilannya?” Pak Surya dan Bu Anita mengangguk paham. Nggak semua orang mau dipanggil “Tante Girang” oleh semua orang, kan?
Tama menyimak dengan serius, seolah-olah hidupnya bergantung pada pembicaraan absurd barusan.
Di mata Cindy, keseriusan Tama itu sangat menggemaskan. Pria itu serius dengan semua hal, dan menganggap semuanya harus baik dan sempurna. Benar-benar anak hasil didikan yang terlalu keras dari orang tua.
“Kamu mau ikut, Kas?” bisik Cindy, sementara orang tuanya dan Pak Timo sibuk bergosip tentang penjual lainnya di tempat mereka.
Cindy sedikit khawatir kalau Tama akan menolak. Karenanya, wanita itu langsung mengeluarkan kartu terakhir. Tama mengangkat alis saat melihat kartu ke-26 Cindy.
__ADS_1
“Kamu rela pakai kartu terakhir kamu cuma untuk minta aku ikut permainan?” tanya Tama, tapi dengan tangan yang mengambil kartu tersebut.
“Cuma? Permainan ini penting banget buat ayah dan ibu aku. Yang aku minta bukan hanya ikut. Aku minta kita menang.” Tama mengerutkan kening. Dirinya yang sudah lama berada di dunia bisnis, tahu jelas kalau tak ada yang bisa menjamin 100% menang.
“Aku nggak bisa jamin kalo kita akan menang,” Tama berbisik dengan sedikit malu, karena tak mampu memenuhi permintaan Cindy.
“Ya, sudah. Kalo ikut aja, boleh?” Cindy bertanya dengan wajah memohon. Permainan yang akan mereka ikuti hanya menebak kata, tapi Cindy bertanya seolah mereka akan ikut olimpiade.
Cindy menghela napas saat Tama akhirnya bertanya mengapa permainan ini seolah masalah hidup dan mati untuk keluarga Cindy.
“Kas, besar kecilnya sesuatu itu tergantung kita. Bagi keluargaku, ini permainan penting, karena itu artinya mereka memperkenalkan kamu sebagai bagian dari keluarga.”
“Nggak masalah, Heat. Aku suka,” jawab Tama lembut. Cindy tersenyum mendengarnya.
“Kalian berdua lagi bisik-bisik apa? Lagi merencanakan perbuatan mesum lainnya?” tanya Pak Timo yang tiba-tiba mendekatkan diri. Cindy langsung mendorong ayah Susi itu karena kesal.
“Enak saja. Nggak kok, Yah. Om Timo ada-ada aja. Kita lagi bicara soal permainan nanti,” jelas Cindy yang menatap Pak Timo dengan kesal. Pak Surya mengangguk karena paham betul sifat tengil temannya.
“Kalian jadi ikut, kan?” Pertanyaan Pak Surya itu dijawab dengan anggukan Tama dan Cindy.
__ADS_1
***
Pada hari lomba, halaman rumah Pak Surya penuh dengan rekan-rekan penjualnya. Walau kemarin kurang tidur karena ada masalah laporan keuangan, pria kulkas itu tetap datang untuk menepati janji.
“Tama, boleh bantu Om nyatet nama peserta yang di sana?” Pak Surya menunjuk sekumpulan bapak dan ibu yang duduk santai di bawah pohon rindang. Tama mengiakan dengan patuh.
“Selamat siang, Bapak dan Ibu sekalian. Saya Tama dan diminta Pak Surya untuk mencatat nama peserta…” Tama belum selesai bicara tapi langsung ditarik duduk untuk ikut nongkrong.
“Santai aja dulu, Nak. Nggak usah terlalu resmi. Oiya, nama kamu siapa?” tanya seorang bapak botak bernama Karyo.
“Nama saya Tama, Pak. “ Tama mengangguk dengan hormat. Walau sedikit canggung, dirinya merasa cukup nyaman bersama mereka.
“Nak Tama ini CEBAN yang memborong barang kita dulu, kan? Makasih ya, Nak. Semoga rejeki kamu mengalir terus, seperti aliran air kran WC yang lupa dimatikan.” Sungguh perumpamaan yang dahsyat.
“Enak aja CEBAN. Dia CEO, yang punya perusahaan mi. Benar kan, Nak?” tanya seorang Ibu yang bernama Dinah. Tama mengangguk mengiakan.
“Tama ini contoh anak yang permintaannya jelas. Lah, anak saya mintanya pekerjaan yang dapat uang hanya dengan goyang-goyang kaki. Eh, malah jadi penjahit, tapi syukurlah laku keras jahitannya” Pak Karyo menjelaskan sambil terkekeh.
“Yaelah, kalau begitu, sama dengan anak saya, si Siti. Maunya dapat kerjaan yang uangnya datang hanya dengan ngipas tangan, eh malah jadi tukang sate. Bukan cuma itu, nikahnya malah sama si goyang kaki. Tanda-tanda cucu saya bakal jadi penari disko nih.” Semuanya tertawa mendengar penjelasan Bu Dinah.
“Jadi, Nak Tama, rencananya, kapan nikah sama Cindy?” tanya Pak Karyo. Semua mata memandang ke arah Tama.
__ADS_1
Hayoo, apa jawaban Tama? yuk ditebak di kolom komentar.
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤