
“Di antara semua tempat untuk kencan, kenapa harus di sini?” Tama mengeluh saat tiba di taman bermain. Pria itu menatap adiknya dengan wajah kesal.
“Ayolah, Kak. Ini pasti mengasyikkan. Ayo, kita pergi ke tempat tiket.” Nathan langsung mengajak Tama, Cindy, dan Lia untuk pergi ke gerbang masuk.
“Berapa harganya, Nathan?” Cindy membuka dompet untuk bersiap membayar, tapi langsung ditepis oleh Tama.
“Bocah itu sudah menyuruh asisten untuk mengambil tiket. Kita tinggal masuk saja.” Cindy mengangguk mendengar penjelasan Tama.
“Pak Tama.” Terdengar panggilan Pak John, pimpinan kantor yang sering dimarahi oleh Tama. Pria yang dipanggil itu hanya tersenyum saat melihat Pak John.
Pimpinan kantor itu agak heran dengan kehadiran Cindy di samping Tama, tapi akal sehatnya membujuk dirinya untuk tak bertanya ke pria yang ditakutinya itu.
“Sayang, ini bos aku.” Pak John menjelaskan ke sang istri yang mengangguk. Selain Pak John, ada juga beberapa pegawai kantor yang lain, termasuk sekretaris Pak John yang kini ditugaskan membantu Tama.
Sekretaris itu datang dengan anak perempuan yang sedari tadi memegang tangannya. Ada sesuatu yang aneh dari mereka berdua, tetapi Cindy tak bisa menjelaskannya. Pacar Tama itu mendekat dan ingin memulai pembicaraan dengan mereka, tapi langsung ditarik Tama.
__ADS_1
“Nggak usah kemana-mana. Kita sudah mau masuk. Nanti hilang.” Setelah mengatakan itu, Tama berbicara dengan Pak John. Dari Nathan, Cindy akhirnya tahu kalau Tama yang membayar tiket semua pegawai yang datang pada hari itu.
Wanita itu tersenyum karena di balik sikap dingin Tama, ada hati yang baik dan hangat untuk semua orang. Sayang, untuk saat ini, hanya Cindy dan keluarganya yang bisa melihat sisi Tama yang itu.
“Kak, kita naik itu, yuk.” Nathan menunjuk ke arah bianglala, lalu berlari riang ke sana. Tama cemberut melihatnya.
“Jangan seperti anak kecil deh…” Tama menghentikan perkataannya, saat Cindy menariknya untuk mengikuti Nathan dan Lia ke bianglala. Pria itu hanya mengikuti dengan pasrah.
Setelah tiba di wahana bianglala, mereka tak perlu mengantri, karena tiket mereka mendapat jalur ekspres. Nathan dan Lia tak henti-hentinya berbicara dengan penuh semangat, begitu pula Cindy. Karena itu, Tama hanya bisa mendengarkan dengan patuh.
“Kamu nggak mau naik?” tanya Cindy heran. Tama justru menatapnya dengan lebih heran.
“Aku bukan nggak mau naik bianglala. Yang aku nggak mau itu, naik sama mereka. Ngapain juga kita harus segerbong sama orang lain. Aku maunya hanya sama kamu aja. Mereka berdua terlalu berisik.” Cindy hanya diam mendengar penjelasan Tama, walau jantungnya berdebar kencang. Wanita itu selalu menyukai versi Tama yang seperti ini.
Setelah akhirnya naik gerbong berdua, mereka mulai melihat pemandangan di bawah yang indah. Cindy sibuk melihat-lihat sampai tak sabar kalau Tama sudah semakin dekat dengan dirinya.
__ADS_1
“Kas, jauhan dikit. Sempit, nih.” Cindy mengeluh karena merasa terdesak ke sudut gerbong. Tama hanya mengacak rambutnya dengan malu-malu.
“Boleh cium?” Cindy langsung mendorong Tama setelah mendengar permintaan pacarnya itu.
“Apaan, sih? Ini tempat umum. Jangan aneh-aneh, ya. Nanti aku laporin ke ayah.” Tama langsung menghentikan aksinya saat mendengar ancaman Cindy.
“Kamu nggak mau karena ini di tempat umum? Kalau nanti di mobil pas antar kamu pulang, bisa?” Cindy tak bereaksi apapun saat mendengar pertanyaan Tama. Pria itu lalu menghela napas, dan melanjutkan,
“Kok diam, Heat? Kamu nggak mau?” Wajah Tama sudah terlihat menahan kecewa, tetapi berubah cerah ceria saat mendengar jawaban singkat Cindy yang diucapkannya seraya melihat pemandangan.
“Mau”
Setelah wahana bianglala, mereka melanjutkan ke wahana lain. Saat itu, Tama tiba-tiba mendapat ide untuk permintaan berikutnya. Dirinya berharap, permintaan itu akan membuat dirinya lebih mengerti perasaan Cindy.
Kira-kira, apa yang akan diminta Tama berikutnya?
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih