Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Tempat Tinggal


__ADS_3

“Ngapain kamu di sini?” Susi, anak Pak Timo dan juga sahabat Cindy, menatap Tama dengan kesal.


Cindy memang tak menceritakan apa yang terjadi malam itu, tapi cerita bahwa Cindy tak kembali bersama Tama membuat semua orang kesal pada pria itu.


“Loh, kok malah nggak sopan ke tamu ayah? Dipersilahkan masuk, kek.” Pak Timo mempersilahkan Tama masuk sembari diperhatikan dengan dingin oleh Susi.


Ayah Susi itu terkesan dengan Tama yang dari tadi membantu dirinya mengangkat pesanan dengan rajin.


“Ayah kan sudah dengar cerita dari Om Surya. Kenapa masih baik aja sama dia? Ayah lupa, kalau Om Surya itu teman baik ayah?” Susi masih tak terima karena Tama masuk ke dalam rumahnya.


“Biarpun teman baik, apa kita harus mendukung semua keputusan dia, walau kita nggak setuju? Enggak, kan?” Susi masih tetap memasang wajah kesal yang semakin menjadi-jadi saat Tama duduk di sofa ruang tamu mereka. Sahabat Cindy itu langsung menarik Tama untuk berdiri kembali.


“Cindy itu kesayangan kita semua. Keluarpun selalu diawasi dan dicari-cari, tapi kamu selaku pacar tak berguna, justru membiarkan dia pulang sendiri. Kamu masih belum dipukul saja seharusnya bersyukur.” Susi tetap konsisten mengeluarkan kata-kata kasar.


“SUSI! CUKUP! Ayah nggak pernah ngajarin kamu untuk jadi kurang ajar. Tama adalah tamu ayah, dan setelah mendengar cerita dari pihak Tama, ayah bisa mengerti posisi dia. Semua manusia pernah berbuat salah, dan selama mereka sadar dan mau memperbaiki, apa hak kita yang sama-sama berdosa ini untuk menghakimi?” Pak Timo kehilangan kesabarannya pada Susi yang dari tadi kasar pada Tama.


“Ayah sudah pinter ya, merangkai kata. Cocok kerja di bengkel.” Susi membalas karena tak mau kalah. Tama hanya diam melihat pertengkaran ayah dan anak itu, sambil berpikir kalau mereka berdua seperti pinang dibelah dua.

__ADS_1


“Begini saja, ayah akan mandi sebentar dan meninggalkan kalian berdua. Sebelum kamu menjambak rambut Nak Tama, ada baiknya kamu dengar cerita dari sisi Tama dulu.” Pak Timo lalu meninggalkan mereka berdua.


Tama yang takut akan dijambak Susi, segera mulai bercerita. Susi hanya diam selama cerita. Tak ada tanda-tanda terkesan dengan perjuangan Tama yang meninggalkan segalanya demi Cindy.


“Trus, hanya karena kamu meninggalkan semua milik kamu sampai nggak punya tempat tinggal, aku harus dukung kamu kembali sama teman kesayangan aku?” Tama menghela napas kecewa karena ternyata Susi tetap galak walau tahu cerita Tama.


“Kamu nggak perlu mendukung, cukup jangan menentang saja. Aku memang salah, tapi aku ingin memperbaikinya, seperti Om Timo, tante Mira, dan tante Dinda." Tama berusaha membela diri.


“Tante Mira? Yaelah, semuanya bohong. Ingat kata-kata aku ya, bahkan aku sebagai anaknya saja, lebih percaya sama lemari kayu daripada ayah. Apa pekerjaan si Mira yang diceritakan ayah? Bangsawan? Pilot? Ilmuwan?”  Susi berdecak kesal setelah mengetahui kebohongan sang ayah.


“Katanya, orang kaya.” Kepercayaan diri Tama mulai runtuh. Cindy menggeleng mendengar jawaban Tama.


“Sudah, sudah. Kamu nggak usah bongkar aib ayah lebih lanjut lagi. Itu bukan bohong, tapi bumbu cerita aja.” Pak Timo yang beru selesai mandi, segera bergabung 


“Hey Tama, kamu mau tahu cerita sebenarnya? Ayah dari kecil sampe sekarang hanya punya satu wanita di hatinya, ibu aku. Nggak ada yang namanya pacaran sana sini. Sampai saat ini juga ayah menolak menjalin hubungan dengan wanita lain. Jadi nggak ada tuh yang namanya Tante Mira dan putri duyung. Kesimpulannya, ayah nggak pernah bikin kesalahan fatal kayak kamu. Sepanjang hidup, ayah nggak pernah nyakitin ibu. Kalau nyakitin aku, sering.” Mira menjelaskan sembari curhat colongan. Pak Timo cemberut mendengarnya.


“Terserah kamu aja, Sus. Pokoknya, malam ini, Tama akan tidur di kamar tamu, baik kamu setuju atau nggak.” Pak Timo akhirnya memutuskan, dan hanya diiyakan dengan berat hati oleh Susi.

__ADS_1


“Tenang aja, Om Timo, Susi. Saya nggak akan tinggal gratis. Saya akan bayar.” Tama bergegas mengeluarkan beberapa emas batangan kecil dan menyodorkannya ke Pak Timo dan Susi. Ayah dan anak itu menunjukkan keterkejutan yang sama dengan Pak Surya saat dihadiahi mobil.


“Kalau emas yang ini, Om nggak mau. Om hanya suka foil emas biar bisa dipakai menghias kue.” Pak Timo terbahak-bahak, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.


“Mobil kamu kan dititip di garasi Om. Om mau itu….” Susi segera menutup mulut sang ayah. Wanita itu tahu kalau ayahnya hanya bercanda, cuma khawatir saja kalau bercandaan ayahnya semakin kelewatan sampai nanti minta pulau pribadi.


“Nggak usah nggak tahu malu kayak gitu, Yah. Kita nggak butuh barang apapun dari Tama. Hidup kita sudah berkecukupan.” Susi menolak pemberian Tama. 


“Kamu itu, gayanya selangit. Sudah hampir nggak punya apa-apa tapi pakai mau ngabisin emas cuma untuk tempat tinggal. Omong-omong, tadi ada kejadian menarik. Om ditelepon sama seseorang yang minta untuk mengusir kamu dari sini. Sebagai gantinya, dagangan om akan dibeli semuanya selama setahun ke depan. Wow, ayah kamu kaya banget ya.” Pak Timo terkekeh dengan peristiwa unik yang baru saja dia alami.


Tama segera berdiri. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya nggak mau ngerepotin dan jadi masalah buat Om Timo dan Susi.” Pria itu sudah akan melangkah tapi malah ditarik oleh Susi.


“Kamu memang salah, tapi adalah satu-satunya pria yang bisa membahagiakan teman bodohku itu.  Aku 100% nggak akan mendukung kamu, tapi supaya Cindy nggak sedih karena kamu celaka, kamu tinggal saja di sini untuk sementara." Pak Timo mengangguk puas melihat tindakan anaknya yang bijaksana.


“Tapi Om, saya nggak mau kalau nanti ada masalah dengan tempat ini. Bagaimana kalau Om Timo bangkrut karena saya?” Tama mulai khawatir.


“Bangkrut? Jangan khawatir, Om Timo selalu beruntung. Pelanggan selalu ada, rejeki selalu mengalir, asal tetap berbuat baik saja. Kamu…” Om Timo menghentikan ucapannya, saat mendengar kaca jendela depan toko yang pecah.

__ADS_1


Kira-kira, apa yang terjadi, ya?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2