Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Paksa, Sayang!


__ADS_3

“Kamu yakin makanannya enak?” Walau penuh dengan gerutu sepanjang perjalanan, Tama mengikuti permintaan Cindy untuk makan siang di restoran dekat kampus. Kenyataan bahwa Dhita melihat story Tama membuat hatinya senang sepanjang minggu.


Pak Vincent, papa Tama, ingin anaknya kembali bersama dengan Dhita. Berbeda dengan sang mama yang dingin dan marah tanpa solusi, sang papa memberi tips agar Dhita kembali ke pelukan Tama :


"Kamu harus terlihat bahagia dengan pacarmu yang sekarang. Dengan cara itu, wanita dengan ego besar seperti Dhita akan berusaha kembali dan merebut kamu.”


 Kalau dipikir-pikir, Tama tak pernah memiliki perasaan tertentu ketika bersama Dhita. Wanita yang meninggalkannya untuk pria lain itu adalah pacar pertama yang diperkenalkan Bu Riyanti. Dirinya juga sampai setuju untuk menikah dengan Dhita karena itu cara terbaik supaya dicintai papa dan mamanya.


“Makanannya biasa saja, Tam. Yang spesial adalah, kita akan dilayani oleh hantu.” Cindy menjawab dengan bersemangat. Tama melihatnya sebentar, dan menggeleng sembari menahan diri agar tak bersemu merah melihat mata Cindy yang berbinar.


Restoran yang mereka datangi sebenarnya biasa saja, tetapi lokasinya dekat dengan kampus yang akan mereka kunjungi. Sebagai permintaan yang ketiga, Cindy ingin diajak Tama ke festival musik kampus.


Walau berat, Tama mengiakan. Entah karena dia masih ingin memamerkan kebahagiaannya pada Dhita atau karena dia takut berpisah dengan Cindy.


“Restorannya nggak seram kok, Cin. Apanya yang….WAAAH!!”  Tama berteriak saat sosok pucat berambut panjang mendekati mereka. Cindy menahan tawa tapi buru-buru berdehem.


“Selamat siang, nama saya Tuti. Silahkan dibaca menunya.” Tuti menyerahkan buku menu ke dua tamu barunya tanpa ekspresi. Tama yang masih kaget, sibuk mengelus-elus dadanya.


“Baik, Tuti. Terima kasih. Kami akan panggil Tuti setelah siap order, ya?” Cindy berpikir kalau menyingkirkan Tuti adalah cara terbaik untuk memberi waktu Tama menenangkan diri.


“Kalau order sekarang saja gimana, Mbak?” tanya Tuti tanpa ada usaha sedikitpun untuk menggerakkan diri menjauh.


“Kami ingin bicara sebentar, Tuti.“ Cindy tetap bersabar, sementara Tama mulai terlihat kesal.


“Tuti boleh ikut bicara, nggak?” tanya Tuti, dan anggukan pasrah Cindy mengagetkan Tama.


Tingkah pacarnya itu benar-benar di luar nalar. Entah mengapa, Cindy selalu patuh pada orang lain tapi bebal pada dirinya.


“Ini kayak surat cinta ya, Tam?” Cindy yang memegang menu, bertanya ke Tama yang melihatnya dengan bingung. “Soalnya, tertulis Me n U.” Tuti memandang Cindy dengan muram. Terlihat jelas kalau wanita itu jomblo yang sedang menahan murka.


Tama yang mendengar pertanyaan Cindy hanya bisa diam.Sampai saat ini, dia belum bisa mengerti dengan kelakuan random Cindy. Akhirnya, Tama memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. “Kamu mau apa?”


“Aku mau kamu.” Cindy menjawab singkat, tetapi menciptakan keheningan instan di antara mereka bertiga. Tuti mengepalkan tangan erat, berusaha agar tak membalikkan meja di depannya.


Tama terbatuk sebentar lalu bertanya pada Tuti. “Selain penampilan yang sengaja dibuat mendukung, apa ada alasan lain mengapa orang menyebut kamu hantu?”

__ADS_1


Tuti menghela napas. Ini adalah pertanyaan wajib setiap pelanggan yang datang. Waitress itu sampai bertanya-tanya kalau dia sebenarnya dibayar untuk melayani pelanggan atau menjawab pertanyaan yang sama tentang hantu.


“Yang pertama, ini memang style saya, Mas. Penampilan keren ini nggak dibuat-buat. Yang kedua, perkataan dilayani hantu memang benar adanya, karena nama saya Hantuti.”


Tama mengangguk mengerti. Cindy mengamati rasa ingin tahu Tama dan merasa kalau pacar kontraknya itu sangat menggemaskan.


Seolah tak ingin Cindy melanjutkan rayuan yang menyayat hati, Tuti menyambung penjelasannya. “Nama-nama di keluarga saya memang seperti itu, Mas. Kakak saya yang pertama namanya buntuti sementara yang kedua….”


Tama dan Cindy mendekatkan diri untuk mendengar sambungannya lebih jelas dari narasumber “Kentuti.”


Setelah menyebutkan pesanan, tiba-tiba saja datang orang yang menawarkan jasa melukis. Sang seniman bilang kalau Tama dan Cindy tak perlu bayar kalau makanannya datang. Melihat Cindy yang bersemangat 45, Tama mengiakan.


“Mau dilukis berdua?” tanya seniman bernama Mas Anto sembari membuka tas punggung. Cindy mengangguk dan mengiakan dengan bersemangat. “Kalau begitu, saya siapkan buku nikahnya...eh, maksud saya, alat lukis saya dulu,ya. Mbak sama masnya duduk santai saja dulu.”


Mas Anto pun sibuk mengatur berbagai peralatan yang dia ambil dari tas. Tak lama kemudian, pria berusia 40-an itu mulai melukis. Yang lebih mengejutkan lagi, selain tangan, mulutnya juga tak kalah lincah.


“Kalau melihat pasangan seperti mas dan mbak ini, saya jadi ingat mantan pacar saya.” Anto tanpa malu-malu segera mengulurkan foto dan diambil Cindy.


Cindy yang berusaha menghibur, langsung menimpali, “Jangan sedih,mas. Mas berhak dapat yang lebih baik. Lagian, mantan pacarnya juga nggak cantik-cantik amat.” Sayang, jawaban Cindy justru membuat Mas Anto berwajah muram.


Tama melanjutkan penderitaannya dengan berdiri menyaksikan penampilan musik bersama Cindy. Hal ini mengingatkan dirinya pada peristiwa memalukan saat festival musik di SMA-nya.


Lamunan Tama buyar saat Cindy tiba-tiba bersin. Tama bergegas mengulurkan tisu, tapi terhenti saat melihat Cindy sudah menyeka hidungnya dengan tisu.


Pria itu baru akan memasukkan tisu kembali ke celananya, tapi tangannya buru-buru dihentikan Cindy. “Kalau itu dari kamu, baik itu makanan, kertas kosong, tisu, aku mau.”


Tama menggaruk kepalanya yang tak gatal dan segera mengalihkan pandangan ke panggung. Setelah penampilan band tadi, sang MC tiba-tiba menawarkan bagi para penonton untuk bernyanyi sembari menunggu band berikutnya.


Wajah Tama merengut saat melihat kartu remi yang dikipas-kipas Cindy di depan wajahnya. “Permintaan ketiga, aku mau kamu menyanyi lagu romantis untuk aku.”


Mata Tama membelalak. Dia bergegas menggeleng.


“Jadi, kita putus sekarang?” tanya Cindy, yang membuat Tama memikirkan nasihat papanya tentang membuat Dhita cemburu. Dirinya menghela napas dengan berat, lalu mengangkat tangan.


Penonton ramai menyemangati Tama, yang melangkah dengan berat menuju panggung, memilih lagu dan menghadapi mimpi buruk masa lalunya.

__ADS_1


Tama memejamkan mata dan mencari Cindy di tengah kerumunan. Senyum Tama merekah saat melihat Cindy melihatnya dengan penuh semangat. Dirinya jadi lebih percaya diri untuk bernyanyi.


Sayang, suara Tama fals dan gitaris di belakang kelabakan mengikuti nadanya. Penonton mulai menutup telinga. Tiba-tiba, mic-nya tidak mengeluarkan suara lagi. MC pun segera keluar, dan berteriak panik, “Mari beri tepuk tangan yang meriah untuk penampilan Tama!”


Nyanyian Tama terhenti untuk memprotes MC, “Tapi, saya belum selesai...”


MC memberi isyarat pada sang gitaris untuk menarik Tama turun panggung. Sang gitaris yang tubuhnya tak seberapa besar berjuang sekuat tenaga menarik Tama yang melihatnya dengan ketus.


Di bawah panggung, Cindy sudah menunggu Tama dengan senyum terbaiknya. Tangannya segera menarik tangan Tama untuk pergi menjauh dari panggung dengan menggoyangkan satu kartu remi. “Permintaan keempat, melihat kembang api.”


Mereka berdua lalu mencari tempat terbaik untuk menonton kembang api yang akan ditampilkan setelah penampilan band terakhir.


“Kamu puas lihat aku ditertawakan?” Tama bertanya dengan ketus tanpa melihat wajah Cindy.


Wanita yang jadi sasaran kekesalan Tama menggeleng. “Aku benar-benar nggak tahu kalau suara kamu jelek,” sambung Cindy jujur.


Saat ini, dirinya sedang bahagia karena Tama mengabulkan permintaannya walau tahu akan dipermalukan. Apakah mungkin pria kulkas itu mulai menyukainya?


“Kamu tetap berharga buat aku. Mau suara kamu jelek, penampilan panggung di bawah pas-pasan, wajah tanpa ekspresi…” Cindy berhenti sebentar karena melihat wajah kesal Tama, lalu melanjutkan,


"Kamu ingat saja, apapun yang terjadi, akan tetap ada seseorang dengan tiga huruf, yang ada di sisi kamu, dan menerima kamu apa adanya. Seseorang yang huruf depannya A dan huruf belakangnya U.”


Tama menatap penasaran ke arah Cindy. “Huruf tengahnya?” Cindy yang mendengar pertanyaan Tama langsung menjawab “K”.


Tama terkekeh mendengarnya. Perhatian mereka berdua lalu teralihkan dengan letusan kembang api. Cindy sibuk melihat keindahan kembang api, sementara Tama sibuk melihat keindahan ciptaan Tuhan di sampingnya.


Tama kaget saat Cindy berteriak, “Dilarang jatuh cinta!”


Pria yang tak bisa mendengar dengan baik karena keributan kembang api, lalu mendekatkan diri ke Cindy. Cindy kembali berteriak, “Kamu dilarang jatuh cinta sama aku sebelum kamu cinta sama diri kamu sendiri!”


Tak jauh dari mereka berdua, seorang pria bernama Ferdinand melekatkan tatapan pada Cindy seolah dirinya sedang melihat sang belahan jiwa. Kakak Dhita yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka itu, merasa telah menemukan wanita yang bisa membuat jantungnya berdebar kencang.


Saingan Tama akhirnya muncul juga. Kira-kira, bisa ngga ya, Ferdinand merebut Cindy dari Tama?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤

__ADS_1


__ADS_2