
Anak laki-laki di foto itu mirip sekali dengan Tama waktu kecil. Cindy ingat betul, soalnya ada foto Tama kecil di rumah Tama saat Cindy berkunjung.
“Kok bocah gatel, Ma?” Cindy coba memancing ibunya, supaya tahu lebih banyak tentang anak laki-laki yang dicurigainya sebagai Tama.
“Itu julukan buatan ayah kamu. Ayah, boleh ke sini dulu bentar? Aku mau nunjukkin sesuatu.” Panggilan Bu Anita membuat Pak Surya segera meninggalkan piring yang sementara dicuci.
“Ada apa, Anitaku sayang?” Bu Anita menunjukkan album foto, dan Pak Surya mendekatkan wajah untuk melihat foto itu lebih jelas.
“Ini si bocah gatel kan?” Pak Surya mendengus kesal. Terlihat jelas masih ada dendam dan kekesalan di hatinya.
“Ini kakak kelas kamu yang bikin ayah kamu ketar ketir.” Bu Anita terkekeh sementara Pak Surya duduk untuk melihat foto-foto yang lain sembari tetap mendengarkan. Beliau tak rela kalau ada penjelasan Bu Anita yang merugikan dirinya.
“Dulu, waktu ayah kamu masih pemilik perusahaan, dia kan nggak pernah ada waktu buat kamu.” Penjelasan Bu Anita mengundang dehem dari Pak Surya.
“Iya deh, penjelasannya direvisi. Bukannya nggak ada waktu, tapi sebagian besar waktunya dipakai untuk memberi hidup yang terbaik untuk kamu. Yah, walaupun pada akhirnya bangkrut.” Bu Anita tertawa melihat Pak Surya yang cemberut.
Ibu Cindy itu sudah berdamai dengan masa lalu mereka, sementara Pak Surya masih menyimpan luka karena kegagalannya di masa lalu.
“Suatu hari, ada anak laki-laki yang tiba-tiba muncul, dan melekat terus sama kamu. Anak itu bilang kesana kemari kalo kamu calon istrinya di masa depan. Dia selalu bantu ngangkat semua bawaan kamu, bawain bekal tambahan biar bekal kamu lebih banyak, sampai nemenin kamu kalo ibu telat jemput. Pokoknya, kamu tuh diperlakukan kayak tuan putri. Ibu aja sampe iri.”
Pak Surya masih konsisten dengan kecemberutannya saat mendengar cerita Bu Anita. “Nggak usah dengerin cerita ibu kamu. Anak itu cuma bocah gatel yang suka deketin kamu. Waktu itu, ayah sampe mikir, kalo nggak bisa dibina, mau ayah binasakan aja.”
“Huss…anak orang loh itu, Yah. Lagian, dia juga baik banget sama Cindy. Sopan pula. Ah, ibu lupa namanya. Pokoknya, anak itu bikin ayah kamu jadi rajin antar jemput kamu. Biar kata ada rapat penting, tetap disempetin, karena takut kalah pamor sama si bocah gatel.” Bu Anita bercerita sambil mencoba mengingat-ingat nama anak itu.
__ADS_1
Cindy tak berkata apa-apa. Yang ada di pikirannya adalah mendapat informasi sebanyak-banyaknya, supaya bisa mengkonfirmasi hal ini dengan jelas ke Tama. Bu Anita yang melihat keseriusan Cindy saat mendengarkan, melanjutkan kembali penjelasannya.
“Sayang, perusahaan ayah kamu tiba-tiba bermasalah, dan kita harus pindah. Sejak itu, kalian sudah nggak saling kontak lagi. Apalagi, sejak ibu si anak laki-laki tahu kalo Bapak kamu sering manggil anaknya bocah gatel. Memang ayah kamu itu kalo soal hal-hal jahat, selalu terdepan.”
Bu Anita masih sibuk tertawa sementara Cindy seperti mendapat jawaban mengenai cintanya yang tiba-tiba pada Tama.
Tama adalah anak laki-laki yang memperlakukannya dengan sangat baik, sebelum dirinya diperlakukan sangat buruk oleh teman-teman sekelasnya di sekolah yang baru.
Awalnya, Cindy pikir kalau itu hanyalah cinta pada pandangan pertama, tapi ternyata alasannya karena hatinya langsung mengenali sang pemilik saat bertemu kembali.
Setelah itu, penjelasan Bu Anita tentang cerita masa kecil yang tak berhubungan dengan si bocah gatel, tak lagi mendapat perhatian penuh dari Cindy. Dalam pikirannya, dia hanya ingin ibunya segera puas bercerita supaya dirinya bisa menelepon Tama.
Akhirnya, setelah semuanya selesai, Cindy bergegas mengambil handphonenya. Pacar mungil itu membuka kontak untuk mencari nama Tama, tetapi terhenti karena ada panggilan dari Nathan.
“Kata kak Tama, Kak Cindy dan Kak Tama kalah di permainan tadi, ya?” tanya Nathan dengan suara khawatir. Cindy tersenyum mendengarnya. Seperti biasa, Nathan sangat perhatian.
“Iya, tapi nggak apa-apa, kok. Itu hanya permainan. Sekarang, Nathan jadi sering teleponan sama Kak Tama, ya?” Cindy senang karena hubungan Tama dengan Nathan semakin membaik.
“Iya, Kak. Kak Tama lucu, deh. Kalo telepon, kerjaannya nanya tentang Kak Cindy melulu. Kak Cindy sukanya apa, nonton film apa aja, hobi ngerjain apa. Kenapa nggak ditanya langsung aja, ya?” Nathan menggoda Cindy yang pipinya merah mendengar pertanyaan adik Tama itu.
“Mau tahu yang lebih lucu lagi? Kak Tama itu sering banget pamer kalo dirinya pacar Kak Cindy. Nathan juga sering diancam supaya nggak usah bilang-bilang suka sembarangan sama kak Cindy.” Nathan menjelaskan tanpa rasa berdosa karena sudah membongkar rahasia kakaknya.
“Pamer gimana, Nathan?” tanya Cindy penasaran. Dirinya baru tahu kalau Tama seperti itu di belakang dia.
__ADS_1
“Tadi, Kak Tama bilang kalo Kak Cindy sampe luangin waktu dari kerjaan beres-beres cuma untuk menghibur Kak Tama, si pacar kesayangan. Kak Tama senang banget karena diperlakukan spesial sama Kak Cindy. Nathan jadi iri. Nathan juga mau punya pacar kayak Kak Cindy nanti.”
Cindy tersenyum mendengar penjelasan Nathan. Dirinya tak pernah menyangka kalau Tama sering memamerkannya ke sang adik.
Karena mendapat pertanyaan dan dukungan dari Cindy, Nathan semakin semangat membongkar rahasia-rahasia Tama. Cindy sampai tersenyum memeluk bantal membayangkan kembali pembicaraannya dengan Nathan, setelah panggilan selesai.
Kebahagiaan Cindy tak hanya selesai di situ, karena ternyata tak lama kemudian, ada panggilan masuk dari Tama.
“Kenapa, Kas?” Cindy memakai nada suaranya yang paling lembut, hanya untuk pria yang paling dicintainya di seluruh dunia. Tak ada jawaban dari si penerima.
“Kas, kamu nggak apa-apa?” Cindy mulai panik. Dengan modelan Tama yang cukup dingin ke orang lain dan punya kekayaan yang seakan tak ada habisnya, Cindy jadi takut kalo Tama sedang diculik.
“Nggak apa-apa, Heat. Aku kaget dengar nada suara kamu yang seperti itu. Aku baru pertama kali dengernya. Selanjutnya, boleh nggak kamu bicara pake nada kamu yang tadi?” Cindy tersipu malu mendengar permintaan Tama, tapi lalu mengiakan.
“Aku mau bilang makasih soal yang tadi. Makasih ya, sudah ada untuk aku.” Tama juga menggunakan suara terlembutnya, yang membuat Cindy seperti terbang ke langit ketujuh.
“Iya, Kas. Oh iya, aku boleh nanya ngga, soal masa kecil kamu?” tanya Cindy yang tak sabar ingin mengkonfimasi identitas si bocah gatel. Tama mengiakan dengan santai.
“Waktu SD dulu, kamu sekolah di mana?” Cindy bertanya dengan jantung yang berdebar kencang. Dalam hatinya, dia begitu ingin Tama menjawab “SD Sukses Semesta”. Dirinya begitu menginginkan Tama sebagai si bocah gatel yang mengejar-ngejarnya sewaktu SD.
Hayoo, apa kira-kira jawaban Tama? yuk ditebak di kolom komentar.
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤
__ADS_1