
“Siapa, Om?” tanya Tama penasaran.
“Netizen.” Pak Timo menjawab sembari melihat kedatangan Susi dengan senyuman.
“Biar gini-gini, Om punya banyak follower. Om bakal tunjukkin ini semua ke mereka. Kalau anak buah papamu datang lagi, kita tunjukkin lagi, sampai akhirnya terlacak oleh teman-teman netizen ke papa kamu.” Pak Timo tersenyum senang.
“Sekarang ini, selama kita benar, jangan takut. Kadang, jalannya berliku-liku, tapi pasti sampai. Jalani aja sesuai moto Om, ‘kalo belum happy, berarti belum ending.’ “ Tama mengangguk patuh mendengar petuah Pak Timo.
Setelah pembicaraan itu, Pak Timo lalu sibuk menyiapkan dan mempublish video di channelnya, dan tidur.
***
Jam setengah enam pagi, pintu Tama sudah diketuk oleh Pak Timo. “Waktunya kerja.” Pak Timo berkata singkat lalu meninggalkan Tama yang masih mengucek-ngucek mata.
Walaupun masih mengantuk karena kemarin telat tidur, Tama bersiap untuk cuci muka dan gosok gigi dengan penuh semangat.
Mulai hari ini, Tama akhirnya bisa mencintai Cindy dengan bebas, tanpa perlu khawatir. Mulai hari ini, Cindy harus bersiap untuk menerima dahsyatnya cinta Tama.
Saat keluar dari kamar dan melewati dapur, mata Tama membelalak kaget. Di sana, sudah ada beberapa ibu-ibu yang sibuk menyiapkan kue dan roti. Tampaknya, itu sudah menjadi kegiatan rutin, karena semua bekerja hampir tanpa instruksi.
Dapur itu bahkan sebenarnya lebih terlihat sebagai pusat gosip daripada tempat pembuatan kue dan roti. Dalam hati, Tama bertanya-tanya kapan Pak Timo tidur.
Setelah Tama selesai bersiap dan memperkenalkan diri sebagai pegawai baru, Pak Timo menyodorkan sapu dan pel ke Tama.
Pak Timo tahu kalau Tama tak biasa kerja seperti itu, makanya ayah Susi itu mencontohkan terlebih dahulu dengan arahan-arahan seperlunya, lalu bersiap meninggalkan Tama. Pria kesayangan Cindy itu segera menarik tangan Pak Timo sebelum beliau kembali ke pusat gosip.
“Om Timo, apa boleh bantu saya jual emas?” tanya Tama, yang membuat Pak Timo mengerutkan kening.
“Bukannya uang kemarin masih ada? Nggak usah aneh-aneh, deh. Jangan boros. Emas itu disimpan dulu.” Pak Timo menasihati dengan sedikit kesal karena dirinya merasa sudah ketinggalan gosip di dapur.
Tama menggaruk kepala dengan canggung dan menjawab, “Saya mau pakai untuk memanjakan Cindy, Om. Kalau ada yang dia butuh, saya mau belikan. Kalau ada yang dia mau, saya mau sediakan. Saya mau memberikan yang terbaik untuk Cindy. Saya mau menang melawan Ferdinand.”
Jawaban Tama membuat Pak Timo menggeleng. “Memangnya kamu pikir, Cindy suka kamu karena uang kamu? Berapa banyak sih, yang kamu keluarin waktu pacaran dengan dia?” Tama hanya diam mendengar pertanyaan Pak Timo.
“Stop berpikir kalo orang sayang dan cinta sama kamu karena uang. Kamu lebih dari itu, Nak Tama. Kalo Om Cuma melihat kantong kamu, nggak mungkin Om menerima kamu. Mengerti? Om menerima kamu karena…Om butuh mainan baru saja.” Pak Timo tertawa terbahak-bahak sampai air mata Tama yang tadinya menggenang di pelupuk mata langsung kering kerontang.
__ADS_1
Pak Timo melepaskan pegangan tangan Tama dan akan berjalan pergi, tapi tiba-tiba mengingat sesuatu,
“Nak Tama, tolong bedakan ya, ‘mau memberikan yang terbaik untuk Cindy’ dan ‘menang melawan Ferdinand’. Kalo kamu anggap ini permainan dan hanya mau menang dari Nak Ferdi, lebih baik kamu angkat kaki dari sini. Cindy bukan mainan.”
Tama tak berani melihat wajah Pak Timo saat mendengar teguran si Om. “Jika suatu saat, Cindy lebih bahagia saat bersama orang lain, kamu harus terima. Yang kita semua inginkan adalah kebahagiaan Cindy, bukan?”
Tama mengangguk. Walau dalam hatinya Tama setuju, hatinya terasa hancur hanya dengan membayangkan Cindy akan memilih orang lain.
***
Beberapa saat kemudian, Susi bangun dan menyiapkan sarapan. Yang menikmati sarapan buatan Susi ternyata bukan hanya Pak Timo dan Tama, tapi semua ibu-ibu tadi juga.
Tama yang sudah jelas tak kebagian tempat di meja dapur, duduk manis di kursi tanpa meja, dengan piring yang berisi nasi goreng.
“Hey, kalian tahu nggak, tukang gunting rambut kesayangan kita semua ternyata sudah punya pacar. Cantik pula.” Seorang ibu bertubuh gempal memulai gosip setelah menelan suapan pertama.
Pak Timo menyimak dengan serius seperti murid yang melihat gurunya, sementara Susi makan dengan wajah tak peduli.
“Trus, nama panggilannya tetap itu atau diganti? Kalo pacar saya punya nama panggilan ‘Jacky Chan’ mah, saya juga nggak mau.” Ibu lainnya dengan tubuh kurus menimpali dengan bersemangat.
“Loh, ‘Jacky Chan’ kan bagus? Kelihatan keren dan maskulin. Memangnya kenapa?” Pak Timo bertanya dengan penasaran sampai nasi gorengnya tak tersentuh sama sekali.
“Yaelah, Tim. Jacky Chan itu nama pendeknya. Nama panjangnya, Jacky Chantique.” Seisi dapur langsung tertawa terbahak-bahak. Tama juga ikut tertawa.
Setelah sarapan, toko pun buka. Tak perlu menunggu lama, Pak Timo langsung mulai bergosip dengan seorang driver online yang menjadi pelanggan pertama. Setelah selesai bergosip, driver tersebut menunjuk kue ulang tahun kecil di etalase.
“Wah, mantap nih. Pagi-pagi sudah ada yang order kue ulang tahun. Laris manis ya, Bud.” Pak Timo tersenyum ke pria bernama Budi itu sembari mengambil kue yang sebelumnya ditunjuk.
“Itu pesanan untuk anak saya, Om.” Si Budi menjawab dengan malu-malu.
“Anak kamu ulang tahun? Berani-beraninya kamu nggak bilang ke saya. Tama, ambilin kue ulang tahun paling ujung sana.” Pak Timo langsung menyuruh Tama tanpa mempedulikan penjelasan Budi. Tama lalu mengambil kue ulang tahun paling besar tersebut.
“Waduh, Om. Jangan yang ini. Saya nggak mampu bayar.” Si Budi langsung panik melihat kue yang harganya mahal itu.
“Ya iyalah kamu nggak mampu. Kan ini masih pagi, belum ada orderan. Ini gratis buat si kecil Lisa.” Kata-kata Pak Timo membuat si Budi lebih gugup lagi.
“Jangan, Om. Saya bayar aja, tapi yang kecil tadi.” Budi sampai memohon-mohon dan membuat Pak Timo menghela napas.
“Ya, sudah. Kita ambil jalan tengah saja. Kamu bayar kue ini dengan harga kue kecil tadi, gimana?” pertanyaan Pak Timo membuat Budi terdiam.
__ADS_1
“Tama, ngapain kamu berdiri di sana? Cepat ambil box kuenya sebelum si Budi berubah pikiran.” Tama bergegas mengambil box kue yang cocok dan menyerahkannya ke Pak Timo. Pada akhirnya, si Budi mengalah dan tersenyum penuh terima kasih ke Pak Timo.
“Nah, gitu dong. Pokoknya nggak usah merasa nggak enak. Kalo mau balas budi, bawa gosip saja ke sini tiap hari. Itu sudah lebih dari cukup.” Perkataan Pak Timo langsung disambut dengan anggukan penuh semangat dari Budi.
Tama benar-benar terkesan dengan dedikasi Pak Timo terhadap gosip. Bayangkan saja, bukannya minta dibawakan customer, malah minta dibawakan gosip. Tama bahkan berpikir bahwa toko ini sebenarnya bukan toko kue, melainkan toko pengumpul gosip.
“Pokoknya awas ya, kalo sampe ada gosip baru trus ada orang lain yang tahu lebih dulu dari saya.” Budi menggeleng sekuat tenaga saat mendengar ancaman Pak Timo.
“Pokoknya, kalo ada yang fresh-fresh, saya langsung ke sini.” Pak Timo tersenyum puas mendengarnya.
“Anak kamu suka boneka? Ada boneka si Susi yang sudah nggak kepake. Kamu mau?” Budi mengangguk penuh semangat, tapi langsung cemberut saat mendengar lanjutannya. “Tapi boneka jelangkung, kamu masih mau?”
Setelah mendekati makan siang, Pak Timo menyuruh Tama untuk mengambil bungkusan makan siang mereka di rumah Cindy. Tama senang bukan main. Tama bahkan tak peduli dengan fakta kalau dirinya belum sempat beli baju dan masih memakai baju Pak Timo.
Sebenarnya, Pak Timo juga menyuruh Tama untuk ikut membantu Susi jualan selama menunggu bungkusan, tapi Tama memilih untuk langsung menunggu di ruang tamu Cindy.
Sayang, Tama tak disambut dengan hangat. Semua hanya berjalan kesana kemari tanpa mempedulikan dirinya. Kabar tentang Tama meninggalkan Cindy pulang dengan orang lain jelas sudah tersebar luas.
Cindy yang keluar dari dapur sempat melihat Tama di ruang tamu, tapi lalu membuang muka.
Walau diabaikan, Tama tetap senang bisa melihat wajah Cindy, tapi tawa Tama tiba-tiba berubah menjadi khawatir saat melihat semacam luka bakar kecil di tangan Cindy. Pria kesayangan Cindy itu langsung bergegas ke apotek untuk membeli krim luka bakar.
Saat akhirnya Cindy keluar dan menyerahkan bungkusan yang ditunggu Tama, pria itu menyodorkan krim yang baru dibelinya. “Untuk tangan kamu. Dipakai, ya? Aku nggak bisa lihat kamu sakit.” Cindy hanya melihat krim itu dengan wajah datar.
Tama langsung mengeluarkan kartu ketiganya. “ Aku mau kamu pakai krim ini, oke?” Cindy memejamkan mata karena kesal dirinya kalah. Tangannya langsung meraih krim yang diberikan Tama, dan berjalan masuk. Tama terus menguatkan dirinya agar tetap semangat.
Pria itu lalu berjalan ke pusat perbelanjaan PPP dan melihat Susi di lapak kue-kue kecil. Wajah wanita itu terlihat kaget saat melihat bungkusan makanan yang dibawa Tama.
“Cepat amat? Ini baru jam 11 siang, kok sudah ada?” Susi lalu memicingkan mata lalu menghela napas. “Tama, kamu sering maag kalau terlambat makan?” Tama mengangguk.
“Harusnya aku nggak cerita kalo kamu sudah kerja di toko aku. Pantesan tadi Cindy cepat-cepat ke dapur buat nyiapin masakan. Ternyata ada yang sakit maag kalau terlambat makan.” Tama agak sedikit bingung, tapi hatinya bahagia mendengar ada sedikit harapan kalau Cindy masih menyimpan rasa untuknya.
“Cindy masih heran dengan alasan kamu kerja di toko ayah. Dia pikir, kamu lagi main-main. Gara-gara cerita tentang kamu, dia sampe nggak peduli sama jualan makanannya dia tadi.” Susi menunjuk lapak jualan Cindy yang berada di samping lapaknya.
Tama tersenyum senang melihatnya. Pak Timo sempat bilang kalau Susi kadang harus meninggalkan lapak jualan karena ada urusan. Ketika itu terjadi, Tama akan dengan senang hati berjaga di sana.
“Ngapain kamu senyum-senyum?” pertanyaan Susi membuat senyum Tama semakin merekah. Untuk memuluskan usahanya, dia akan memakai kartu keempatnya.
__ADS_1
Apa ya, permintaan dari kartu keempat Tama?
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤