Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Kejutan


__ADS_3

“Datanglah ke apartemen kakak minggu depan. Kita bisa bicara lebih banyak.” Perkataan Tama membuat Cindy menutup mulut dan Nathan tak bisa berkata-kata.


Lia melihat mereka dengan heran, karena itu sebenarnya hal yang normal terjadi antara kakak dan adik. Sayangnya, hubungan Tama dan Nathan tak normal.


Nathan mengangguk dengan penuh semangat. “Kak Cindy juga bakal datang minggu depan, kan?”


Tama merengut mendengar pertanyaan Nathan, dan langsung menarik Cindy. “Tentu saja Cindy ada. Nggak mungkin lah, kalau hanya kita berdua di apartemen.” Nathan mengangguk dengan penuh pengertian.


Sepanjang hari, senyum Nathan terulas lebar. Cindy merasa, remaja itu sedang menjalani hari terbaiknya. Cindy melirik Tama dan tersenyum lalu berbisik, “terima kasih.”


Tama menatap Cindy dengan heran. “Terima kasih untuk apa? Beli dan topup kartu?”


Cindy menggelengkan kepala. “Terima kasih karena bikin Nathan bahagia”.


Tama terdiam sebentar, lalu berkata pelan. “Itu sudah seharusnya. Dia adik aku.”


***


Kunjungan yang seharusnya hanya berupa bincang-bincang, ternyata malah berujung rencana pengakuan cinta Nathan ke Lia.


Cindy sangat bersemangat merencanakan segalanya dengan Nathan, sampai sering mengabaikan panggilan Tama.


Pada saat hari kerja, pacar Cindy itu memang komitmen untuk fokus kerja, dan tak banyak mengontak Cindy.

__ADS_1


Lucunya, akhir-akhir ini, walau tak melakukan kunjungan, si pria kulkas sering sekali menelepon, dan bahkan video call.


Bayangkan betapa kesalnya Tama, saat Cindy sibuk menulis saat divideo call atau cepat-cepat mematikan panggilan untuk bicara dengan Nathan.


“Kamu marah?” tanya Cindy saat melihat wajah kesal Tama.


“Sejak kapan kamu peduli kalau aku marah? Urus Nathan sana!” Kekesalan si pria kulkas benar-benar full power.


“Cuma minggu ini kok, Kas. Kasian, ini pertama kalinya Nathan mengungkapkan cinta ke pujaan hati. Aku harus bantu bikin semuanya sempurna biar jadi momen yang berkesan. Memangnya kamu mau Nathan seperti kamu, ngajak pacaran di depan abang tukang bakso?”


Tama menggaruk kepalanya setelah mendengar penjelasan Cindy. Sejak tadi, Tama sudah mengancam akan mengakhiri panggilan, tapi sampai saat ini, pria tinggi itu masih bertahan ngobrol dengan Cindy. Sejak Tama sakit, dirinya menjadi semakin terikat dengan pacar mungilnya itu.


***


Dekorasi mereka terbilang minimalis. Hanya desain spanduk“Will You be My Girlfriend?” yang ditempel di jendela, lalu ditutup dengan gorden. Rencananya, Nathan akan menembak Lia sebelum makan malam.


“Nggak usah terlalu semangat. Bukan kamu yang ditembak Nathan, tapi Lia.” Tama menyikut pelan bahu Cindy.


“Pria kulkas seperti kamu nggak akan pernah mengerti arti kata romantis. Kok bisa ya, pria seperti kamu punya adik seromantis Nathan.” Tama menggaruk kepalanya, dan menunjukkan wajah kesal saat mendengar balasan Cindy.


Cindy jadi merasa bersalah saat melihat reaksi Tama. Dia sadar kalau bercandanya sedikit berlebihan. “Sebaik-baiknya Nathan, aku akan tetap pilih kamu, kok.”


Seulas senyum tampil di sudut mulut Tama, tapi pria kulkas itu segera kembali memasang wajah dingin.

__ADS_1


“Kapan Lia datang?” Tama melipat tangan di dada sembari melihat adiknya yang sibuk merapikan perlengkapan yang dipakai tadi.


“Harusnya, saat ini sudah sampai.” Cindy melihat jam yang sudah menunjukan pukul 11 siang. Tak lama kemudian, bel berbunyi dan Nathan bergegas membuka pintu. Cindy juga jadi ikut-ikutan panik dan menarik Tama duduk di sofa.


“Ngapain panik? Kita berdua nggak ada urusannya dengan pengakuan cinta…mmphhh…” Cindy segera membekap mulut Tama agar tak ada suara yang keluar.


“Selamat siang, Kak Tama, Kak Cindy,” sapa Lia sambil tersenyum. Di belakangnya, ada Nathan yang melihatnya dengan tatapan memuja. Hari ini, Lia memakai overall rok pendek dengan gaya rambut half ponytail.


“Selamat siang, Lia. Kamu cantik sekali hari ini.” Cindy membalas sapaan Lia dengan full senyum, sementara Tama hanya mengangguk tanpa ekspresi.


Saat Lia berbalik untuk berbicara dengan Nathan, Cindy langsung mengeluarkan kartu ke-21 dari tas.


“Aku mau kita main game 3 fakta.” Tama menghela napas dan mengiakan. Pacar mungilnya itu benar-benar punya terlalu banyak ide.


“Nathan, Lia, yuk kita main game 3 fakta.” Ajakan Cindy diiyakan dua remaja yang tadi sibuk berbincang. Mereka berempat pun duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


“Game ini cukup mudah. Masing-masing tulis tiga hal tentang diri masing-masing. Dua diantaranya fakta dan satu sisanya adalah kebohongan. Supaya nggak curang, semua fakta bohong harus ditandai dengan pulpen bertinta merah ini.” Tama mendengar penjelasan Cindy dan agak terkesan dengan persiapan pacarnya itu.


Setelah penjelasan selesai, Cindy mulai membagikan pulpen bertinta hitam dan kertas untuk ditulis. Setelah semua selesai menulis dan mengumpulkan pulpen merah ke Cindy, permainan pun dimulai.


Nathan yang mulai duluan, dan membaca, “ Tiga fakta Nathan. Nathan sayang kak Tama, Nathan sayang Kak Cindy, Nathan sayang Lia.


Cindy langsung saling menatap dengan Tama. Apa sebenarnya rencana Nathan dengan membuat tiga fakta seperti itu?

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤


__ADS_2