
“Nggak apa-apa kan, kalo aku ikut? Minggu depan, aku sudah harus balik ke Amerika. Takutnya, aku nanti nggak bisa ketemu sama kesayangan aku ini.” Jessica kembali mendekatkan diri ke Tama, dan langsung didorong menjauh tanpa kasih sayang.
“Kamu nggak usah ikut. Dari dulu, aku nggak suka sama kamu. Jadi, mari putuskan hubungan kekerabatan kita dan tak perlu saling kenal lagi.” Tama berkata dengan dingin.
“Loh, kok gitu? Tama memang dari dulu gengsian. Suka tapi bilang benci. Kalo menurut kalian berdua, bagaimana? Aku boleh ikut, kan?” Jessica bertanya pada Cindy dan Ferdinand dengan penuh keceriaan, tanpa sadar kalau situasi sudah berubah genre menjadi horor
“Terserah.” Cindy menjawab, lalu diikuti dengan jawaban yang sama dari Ferdinand.
“Terserah berarti iya. Kamu kalah suara, Tam.” Jessica tersenyum penuh kemenangan.
“Kalo aku tetap keberatan, gimana?” tantang Tama, berusaha menyelamatkan keadaan.
“Kalo keberatan ya diet lah, itu aja perlu ditanya.” Jessica kembali tertawa bahagia.
“Cindy, aku batalin aja ya, kartu yang ini. Aku nggak nyaman kalau ada...” Perkataan Tama terpotong oleh kata singkat Cindy yang diucapkan dengan nada tinggi.
“PAKAI SAJA!” Cindy lalu bergegas mengajak untuk mengatur pertemuan sebentar malam, supaya mereka cepat berpisah.
***
“Ngapain sih, pake mau ikut segala?” tanya Tama kesal, setelah mereka sepakat untuk ke bioskop di dalam mal sebentar malam.
Menurut Ferdinand, seminggu ini dia mungkin agak sibuk, jadi malam ini adalah waktu yang tepat. Sungguh nahas nasib Tama, yang PDKTnya ke Cindy saja harus mengikuti jadwal saingan.
“Loh, kita kan sudah lama nggak ketemu. Aku rindu.” Jessica bersiap merangkul Tama dengan manja, dan langsung ditepis Tama.
__ADS_1
“Jangan aneh-aneh, ya. Nanti aku laporin ke pacar kamu. Kamu masih sama si botak sialan itu, kan?” Jessica cemberut karena sebutan Tama untuk pacarnya.
“Justru ini pembalasan karena kamu dulu meninju dia pas mabuk.” Teman Tama itu terkekeh saat mengingat masa lalu mereka di Amerika.
“Itu salah kamu. Sudah aku bilang kalo aku nggak kuat minum.” Jessica menutup telinga dan bernyanyi untuk mengabaikan penjelasan Tama. Pria yang kesal karena diabaikan itu, lalu berjalan menjauh untuk kembali ke toko Pak Timo.
“Tam, kamu suka sama wanita itu?” pertanyaan Jessica membuat langkah Tama terhenti.
“Iya. Aku suka. Jadi, jangan aneh-aneh sebentar malam,” ancam Tama.
“Seorang Pratama Bagaskara jatuh cinta ke pengusaha katering? Mama kamu nggak jantungan waktu tahu?” Tama mengepalkan tangan dan langsung mendekati Jessica.
“Nggak usah bawa-bawa mama. Kamu cukup bersikap normal, dan jangan membuat dia tambah benci sama aku. Oke?” Jessica masih belum puas menggoda teman kulkasnya itu, tapi tiba-tiba teringat pesanan yang harus dibawa, jadi harus bergegas pergi.
***
Tama ingin mengganti uang Ferdinand dan langsung ditolak. Semakin lama, Tama merasa kalau dirinya semakin jauh dari garis kemenangan.
Saat memikirkan itu, Tama langsung menggeleng. Dia sudah bertekad untuk mencintai Cindy dengan berani, tanpa takut kehilangan. Pikiran Tama lalu teralihkan ke Cindy, yang sibuk bermain mesin mainan capit.
Mesin mainan itu sengaja dipasang di situ untuk promosi film animasi yang disukai Cindy. Karenanya, Cindy begitu berdedikasi untuk memperoleh boneka itu. Sayang, setelah koinnya habis dan penonton dipanggil masuk, Cindy tak berhasil mendapatkannya.
“Tam, aku ke toilet dulu, ya.” Jessica berkata sembari menyodorkan tas untuk dipegang teman kulkasnya itu. Tama mengangguk, dan langsung berkata,
“Kalau begitu, aku masuk duluan sama mereka.” Jessica langsung pura-pura cemberut.
“Kamu nggak nungguin?” tanya Jessica dengan wajah memohon.
__ADS_1
“Apaan, sih? Biasanya kan memang ngga?” Tama menjawab dengan kesal.
“Biasanya?” tanya Cindy tiba-tiba.
“Eh, maksud aku, dulu pas kita berdua nonton bioskop yang hanya sekitar sekali per dua tahun itu, aku nggak pernah nungguin dia,” jawab Tama gugup.
“Nggak, ah. Kita berdua sering kok, nonton bareng. Iya kan, Tama sayang?” Ferdinand terkekeh dengan kata-kata Jessica, sementara Tama dan Cindy sama-sama memasang muka menahan amarah.
Setelah itu, mereka lalu menonton bersama. Selama film berlangsung, Tama terus melihat ke arah Cindy. Jessica melihat Tama sembari menggeleng. Sungguh dahsyat cinta yang dimiliki Tama sampai pria kulkas itu menjadi begitu berubah.
Setelah selesai menonton, Tama dan Ferdinand ke toilet dan meninggalkan Cindy dan Jessica untuk menunggu.
“Boleh nggak, kalo aku deketin Tama?” tanya Jessica.
“Nggak.” Cindy menutup mulut karena kaget dengan jawabannya sendiri. “Eh… maksud aku, boleh saja. Aku dan Tama bukan siapa-siapa, kok.”
“Tapi, dia sukanya sama kamu.” Wajah Cindy langsung memerah mendengar perkataan Jessica.
“Cin, aku tadi bercanda. Aku sudah punya pacar, tapi aku nggak bercanda soal dia suka sama kamu. Oke?” Percakapan dua wanita itu terhenti saat Tama dan Ferdinand kembali.
Besoknya, Cindy kembali ke bioskop yang dikunjunginya kemarin. Temannya ingin bertemu di mal, tapi agak terlambat. Karenanya, Cindy pergi ke bioskop untuk melanjutkan perjuangannya di mesin mainan capit.
Secara mengejutkan, Cindy justru melihat seseorang yang sedang sibuk bermain di mesin tersebut.
Siapa ya, kira-kira?
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤
__ADS_1