
“Setelah penderitaan di taman bermain, kita harus makan di sini?” Tama menampilkan wajah kesalnya tanpa ragu-ragu, saat Cindy mengajak mereka untuk makan di restoran yang dilayani hantu.
Aktivitas kencan hari ini seperti mencentang semua hal yang tak ingin dilakukan Tama, tapi toh dilakukan juga.
Sebenci-bencinya Tama untuk melakukan itu, tetap tak berhasil mengalahkan rasa senang pria itu karena bisa menghabiskan waktu dengan Cindy. Cinta memang sering membuat orang waras menjadi gila.
“Masa sih Kak, kita akan dilayani hantu?” Cindy mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan Lia, sementara Nathan sibuk melihat kesana kemari untuk mencari hantunya.
“Selamat siang…” Nathan dan Lia berteriak kaget saat Hantuti menyapa mereka. Sementara itu, Cindy tertawa geli, dan Tama tetap konsisten memasang wajah datar. Kali ini, dia tak berteriak lagi karena sudah mengantisipasi kedatangan Hantuti.
Seakan penderitaannya belum berakhir, seniman bernama Mas Anto, yang dulu melukis mereka kini datang lagi. “Kami sudah pernah dilukis, Mas Anto. Nanti kita ketemu lagi kalau lukisannya sudah luntur, ya.” Tama mencoba menolak, tapi Nathan justru bergegas meminta Mas Anto untuk melukis dirinya dan Lia.
Saat Mas Anto melukis, Tama menepuk lengannya yang tiba-tiba digigit nyamuk. Cindy langsung refleks mengelus lengan Tama dan mencari gel aloe vera di tas. Setelah itu, pacar Tama itu mengoleskan gel di tangan Tama. Hal sekecil ini saja sudah membuat hati Tama ingin meledak karena senang.
“Heran, kamu yang manis kok aku yang digigit ya?” tanya Tama, yang mengerahkan semua kemampuan gombalnya untuk membuat Cindy senang. Mas Anto terkekeh mendengarnya, dan berkata,
__ADS_1
“Pepet terus mas, jangan sampai kendor”. Tama lalu mengacungkan jempolnya ke arah Mas Anto. Lia tersenyum melihat kelakuan Tama, sementara Nathan hanya bisa menganga melihat kakak kulkasnya menggombal manis seperti itu di depan umum.
“Mungkin karena kamu lebih manis dari aku”. Cindy tak mau kalah, lalu melempar balasan yang membuat Mas Anto berkomentar seperti layaknya komentator bola,
“Dan...si mbaknya pun tak tinggal diam dan membalas serangan si mas”. Tama menggaruk kepalanya untuk memikirkan balasan dan berkata,
“Mungkin, nyamuknya nggak mau gigit kamu karena terlalu manis. Takut diabetes.” Nathan dan Lia menatap Tama saat mendengar jawaban dari si pria kulkas, lalu beralih menatap Cindy untuk menunggu balasan wanita itu.
“Biar nggak terlalu manis, semua nyamuknya mungkin tetap di kamu karena kamu...ngangenin...” Mas Anto tertawa geli sementara wajah Tama sudah memerah dan hanya menggeleng karena tak tahu mau membalas apa lagi.
Saat akan memberikan lembar lukisan ke Nathan, Mas Anto tiba-tiba menepuk lengannya sendiri, dan bergegas membuang nyamuk yang ditepuk ke tempat sampah. “Loh, kenapa jauh-jauh dibuang ke tempat sampah?” Nathan bertanya karena penasaran.
“Takut nanti teman-temannya datang melayat.” Jawaban yang aneh, tapi diiyakan saja. Setelah itu, makanan pun datang, dan semuanya makan sambil berbincang.
“Lia, kamu sudah pernah pacaran sebelumnya?” tanya Cindy, seolah ingin membuka jalan untuk Nathan. Tama menyikut Cindy karena merasa itu pertanyaan yang aneh, tapi diabaikan saja oleh wanita itu. Sejak yakin dengan perasaan Tama, Cindy jadi lebih santai dan leluasa berekspresi di depan Tama.
__ADS_1
Lia menggeleng sebagai jawaban untuk pertanyaan Lia. “Belum, Kak. Lia dilarang pacaran sebelum kuliah.” Cindy mengangguk dan akhirnya mengerti mengapa Lia menolak Nathan.
“Kalo kamu, Nathan, sudah pernah pacaran sebelumnya?” tanya Tama santai, lalu disikut Cindy. “Loh, supaya adil aja. Nanti kalo perlu, pas Hantuti datang, aku tanya juga.” Cindy menyerah dengan Tama yang semakin lama semakin sama anehnya dengan Pak Timo.
“Belum, Kak.” Tama mengangguk, lalu dengan lancangnya bertanya kembali.
“Kenapa belum pacaran?” Nathan melihat Lia dengan malu-malu, lalu menjawab,
“Karena gadis yang saya suka belum boleh pacaran sebelum kuliah.” Cindy hampir bertepuk tangan karena kagum dengan kemampuan gombal si Nathan. Sungguh berbeda dengan si pria kulkas, tapi Cindy tetap akan memilih pria itu walau saingannya adalah David Beckham.
“Kalo Kak Tama, kenapa belum menikah?” Cindy memuncratkan minuman yang sementara diminum, sementara Tama tak berekspresi sama sekali.
Kira-kira, apa jawaban Tama?
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤
__ADS_1