Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Suka


__ADS_3

“Kamu sudah gila, menulis seperti ini?” Cindy bertanya dengan kesal sementara Tama tertawa terbahak-bahak. Entah mengapa, dirinya begitu mudah tersenyum dan tertawa bila berada di dekat wanita itu.


“Tapi, bagus kan? Aku nggak begitu jelas dengan perasaan aku waktu itu, dan memutuskan untuk menyamakan keadaan saja. Kalau kamu nggak suka, aku nggak akan maksa.” Tama menjelaskan sambil sesekali tertawa.


“ ‘Sama dengan Cindy?’ Kamu hanya menulis tiga kata sementara aku menulis dari hati aku yang paling dalam.” Tama langsung memeluk Cindy.


“Maaf ya, Heat. Aku yang dulu masih bodoh. Aku yang sekarang sudah pintar. Mari kita saling suka, saling jaga dan saling rawat dalam waktu yang lama.” Cindy hanya diam saat berada dalam pelukan Tama.


Wanita itu bahagia karena pacarnya semakin fasih menunjukkan rasa sayang. “Kamu suka aku? Memangnya apa bagian dari diri aku yang paling kamu suka?” tanya Cindy, yang masih betah dipeluk Tama.


Pria itu berpikir, lalu menjawab. “Mata. Kamu punya mata cokelat yang cantik. Aku suka.” Tangan Tama kini mengelus rambut Cindy dengan sayang. “Kalau kamu, apa bagian dari diri aku yang paling kamu suka?”

__ADS_1


Cindy melepaskan diri dari pelukan Tama dan mengevaluasinya dengan serius. “Pasti susah ya, memilih satu di antara ribuan bagian di tubuh aku yang sempurna ini.” Cindy mencibir saat mendengar perkataan Tama.


“Aku suka ginjal kamu. Soalnya mahal.” Tama kembali tertawa, lalu mengacak-acak rambut Cindy. Bila Tama bisa meminta satu hal saat ini juga, dirinya akan meminta agar situasi bahagia yang dia rasakan saat ini, bisa berlangsung selamanya.


Bersama Cindy, Tama mendapat bahagia. Bersama Cindy, Tama akhirnya merasakan punya “rumah” tempat tinggal dan kembali dari kepenatan hidup.


“Kas, ini sudah hampir jam 12 malam. Sebaiknya kamu pulang.” Tama mengangguk, lalu bergegas menutup lubang galian, dan menghabiskan es buah.


“Kenapa kita harus menunggu lama? Kita bukan anak SD lagi. Mari kita menikah.” Cindy tersenyum melihat semangat Tama, lalu memeluk pacar kesayangannya itu.


“Kita memang bukan anak SD lagi, bocah gatel. Walaupun begitu, bukan berarti kita bisa segera menikah. Kita baru saja bersama, dan aku mau kita lebih mengenal satu sama lain sebelum melangkah ke jenjang berikutnya. Lagian, kamu juga belum sepenuhnya diterima ayah.”

__ADS_1


Tama mengangguk saat mendengar penjelasan Cindy, lalu bertanya, “Kamu tahu kalau kita berdua sudah kenal sejak SD?” Cindy mengangguk.


“Aku ingin bilang soal itu ke kamu saat di pesta, tapi kamu keburu diklaim oleh wanita lain.” Cindy melepaskan diri dari pelukan Tama, dan membuat pria itu panik.


“Itu…itu…itu…aku memang bodoh.” Tama menyerah. Dia tak punya alasan apapun untuk membela diri. Cindy lalu merangkul pria itu, dan memberikan senyum terbaik.


“Aku tahu kamu bodoh, tapi kamu itu pria bodohnya aku.” Tama mengangguk dengan patuh. Cindy lalu melanjutkan kata-katanya dalam bentuk ancaman. “Jangan berani-berani kamu lakukan lagi. Aku nggak akan maafin kamu dengan mudah.” Pria itu segera memberi hormat, dan membuat Cindy tertawa geli.


Setelah itu, Tama pamit dan pulang dengan riang gembira ke apartemennya. Sayang, rencana itu gagal karena papanya tiba menelepon dan memintanya segera pulang ke rumah.


Kira-kira, apa yang ingin dikatakan oleh Papanya Tama?

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2