
Tama mengusap pelipisnya saat membaca laporan keuangan yang kacau balau. Tiba-tiba, konsentrasinya buyar karena suara ribut-ribut dari luar. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dengan kasar.
“Bu Cindy, sudah saya bilang kalau Pak Tama sedang kerja, dan tak bisa diganggu. Mengenai masalah pemutusan kontrak, bisa lewat saya saja.” Cindy mengabaikan perkataan Pak John, dan berjalan ke arah Tama dengan marah.
Tama melihat Cindy dengan ekspresi heran tapi bahagia. Hari itu, Cindy sangat cantik. Rambutnya diurai dan wajahnya dihiasi makeup tipis. Tama penasaran dengan apa yang akan dilakukan pacar mungilnya itu.
“Ada apa ini? Kenapa Bu Cindy bisa masuk ke dalam sini?” tanya Tama dingin, yang membuat Pak John ketar ketir.
Sebenarnya, Tama agak kasihan melihat Pak John yang sudah pucat dan hampir pingsan, tapi dia harus melakukan itu agar tak dicurigai. Pada saat ini, semua orang bisa saja adalah mata-mata Pak Vincent.
Tama menghela napas, lalu berkata ke Pak John, “Kalian ini. Hal seperti ini saja harus saya yang urus. Kalau begitu, kamu keluar saja dan lanjutkan pekerjaan. Biar saya yang bicara dengan Bu Cindy.”
__ADS_1
“Ta…tapi, saya diminta Pak Vincent untuk mengawasi setiap tamu yang datang, terutama Bu Cindy.” Tama mengangguk paham saat mendengar penjelasan Pak John. Dia tak ingin membuat hidup pegawainya itu lebih susah lagi.
Setelah itu, perhatian Tama teralih ke Cindy. “Bu Cindy, penjelasannya kan sudah jelas. Kami juga akan memberi uang ganti rugi. Apa lagi yang Ibu mau?” Tama pura-pura bertanya degan wajah kesal.
Cindy membanting kertas di meja Tama. Pria itu tertawa geli dalam hati, tapi tetap memasang wajah dingin. “Apa maksudnya ini? Saya nggak terima.” Cindy lalu mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu untuk dibaca oleh Tama.
Tama mendekatkan diri untuk melihat tulisan Cindy. Dirinya hampir tertawa saat melihat tulisan itu : “Kamu ganteng hari ini. Aku suka.”
“Bu Cindy, mencoret dokumen seperti ini bukanlah tindakan yang pantas. Kalau anda seperti ini terus, kami bisa menuntut katering anda.” Tama berkata dengan tenang, saat melihat Pak John shock karena dirinya merobek kertas tadi.
“Menuntut kami? Apa anda masih punya hati nurani? Mentang-mentang orang kaya, lalu berbuat seenaknya. Saya nggak terima kalau dilakukan pemutusan kerja sama secara sepihak tanpa alasan jelas.”
__ADS_1
Tama kembali menghela napas saat mendengar penjelasan Cindy. Dirinya lalu menatap Pak John. “Pak John, coba jelaskan ke Bu Cindy, kenapa kita berhenti melakukan kerja sama.”
Pak John kembali panik. Hal yang paling dia inginkan saat ini adalah keluar dari ruangan, tapi itu mustahil. “Sudah…sudah ada pilihan baru yang lebih menarik, baik dari segi harga maupun kualitas makanan.” Pak John menatap Cindy dengan takut.
Cindy mengangguk, lalu melakukan panggilan ke seseorang. “Bu Cindy, mari kita ke ruangan saya saja. Ini bukan urusan Pak Tama.” Perkataan Pak John itu hanya diabaikan oleh Cindy yang meminta salah satu stafnya datang ke ruangan Tama.
Melihat itu, Tama malah makin penasaran. Apa kira-kira yang akan dilakukan Cindy selanjutnya. Tak lama kemudian, datang seorang pria berbadan besar dan berwajah muram. Tama tak pernah melihat orang ini sebelumnya.
Cindy berbisik sebentar ke pria itu, dan dijawab dengan anggukan. Tak lama kemudian, si pria mengucapkan sesuatu yang membuat Tama dan Pak John menganga.
Kira-kira, apa yang dikatakan pria itu, ya?
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤