Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Tidak Spesial


__ADS_3

“Pak Tama?” Pria yang baru datang itu, bertanya dengan wajah pucat. Tama hanya menatapnya saja, tapi suruhan Pak Vincent itu sudah seperti melihat hantu.


Saat menjadi CEO dulu, Tama sangat ditakuti semua anak buahnya. Satu kesalahan kecil saja, seseorang bisa langsung dipecat, dan hidupnya bisa dipersulit.


Sebelum pria malang itu berlari, Pak Timo sudah menarik kerah bajunya. “Maafkan saya, Pak. Saya hanya mengikuti suruhan Pak Vincent.” Pria itu terus-terusan memohon, sementara Tama tetap menatapnya dengan marah tanpa berkedip sedikitpun.


Pak Timo yang melihat pandangan Tama langsung berkata, “Tama, cukup.” Pria yang mendadak dingin tadi itu mengalihkan pandangan ke Pak Timo dan mengangguk.


“Kamu mau menyampaikan pesan tambahan ke Pak Darto? Boleh. Bilang aja. Saya tahu kalo kamu hanya menjalankan perintah saja. Lakukan tugas kamu dan setelah itu, pulanglah dengan selamat.” Pak Timo mengarahkan pria yang tadinya ketakutan ke arah Pak Darto, si pemilik minimarket.


“Bu…Bukan, Pak. Saya hanya mau mengambil kunci motor yang ketinggalan.” Saking takutnya, si pria bahkan hanya berani menatap lantai. Setelah diizinkan untuk mengambil kunci, dia langsung berlari dan permisi pulang, tapi malah ditahan Pak Timo.


“Sa…saya benar-benar minta maaf, Pak. Tolong biarkan saya pulang untuk makan, Pak. Saya belum sempat makan dari pagi.” Pak Timo terkekeh mendengar suara ketakutan dari pria yang dia tahan.


“Siapa juga yang mau nahan kamu? Bikin beban aja kalo harus merawat kamu di sini. Ini, bawa pulang dua pak roti saya. Gratis.” Pak Timo menyodorkan dua pak roti, sementara pria itu galau antara menerima atau menolak.


“Bawa saja.” Pak Timo memaksa, lalu mendorongnya untuk berjalan keluar minimarket. “Kalau mau membalas budi, tolong saja seseorang yang butuh bantuan kamu. Oke?” Pria itu mengangguk dengan senang, sementara Tama melihatnya dengan heran.


“Om, dia kan ‘musuh’ kita. Kenapa malah dibantu?” tanya Tama yang kebingungan.


“Musuh? Dia itu hanya menjalankan perintah. Lagian, Om nggak enak juga kalo nyebut papa kamu musuh. Papa kamu itu hanya seorang ayah yang ingin anaknya kembali saja, cuma caranya memang aneh. Jalan pikiran orang kaya memang nggak bisa ditebak.” Pak Timo menatap Pak Darto yang sedang menghitung uang untuk dibayar padanya.

__ADS_1


“Darto, saya bikin video soal toko kamu dan bahas di channel saya, ya. Nanti saya tambah bumbu-bumbu ancaman terselubung biar nggak ada orang yang datang dengan permintaan aneh-aneh ke kamu, sekalian promosi juga.” Pak Darto tertawa dan mengiakan.


***


Malam itu, setelah mandi dan berpakaian rapi, Tama bersiap untuk melakukan panggilan videocall dengan Cindy. Dirinya tersenyum senang, dan hatinya seperti mau meledak karena bahagia saat mengetikkan nomor handphone Cindy.


“Ada perlu apa?” Kemunculan Ferdinand di layar benar-benar seperti mimpi buruk bagi Tama.


“Kok kamu yang terima?Mana Cindy?” Tama bertanya dengan wajah cemberut.


“Memangnya kenapa kalo aku yang terima? Kebetulan aku lagi lapar setelah pulang kantor, jadi Cindy menawarkan untuk masak.” Ferdinand tersenyum penuh kemenangan. Tama memejamkan matanya karena kesal.


Semua kegembiraan yang dia miliki hari ini seperti hilang, karena dia akhirnya menyadari, wanita yang dia impikan ternyata memperlakukan semua orang sama seperti dirinya. Tama sedih karena dirinya tak sespesial yang dia pikir.


Tama semakin kesal karena memikirkan kalau mereka berdua akan menghabiskan waktu bersama, tanpa Tama.


“Loh, aku sudah minta izin, kok. Kenapa? Kamu nggak pernah diizinin Cindy untuk jawab panggilan untuk dia pas pacaran?” Ferdinand sengaja menanyakan itu, karena ingin menekankan fakta kalau mereka berdua tak punya hubungan apa-apa lagi.


Tama mengepalkan tangan dengan kesal, apalagi ketika melihat Cindy mendekati Ferdinand dengan sepiring nasi goreng. Saking kesalnya, Tama sampai tak sadar menekan tombol mati saat Cindy mendekatkan diri ke layar.


Di masa lalu, Cindy-nya tentu akan menelepon dan membujuknya untuk bertanya kenapa dia mematikan panggilan.

__ADS_1


Di saat ini? Mematikan panggilan seperti mematikan kesempatannya untuk merebut Cindy dari cengkeraman Ferdinand. Tama menggaruk kepalanya dengan gugup, lalu kembali menelepon Cindy.


 


“Apa lagi?” Kali ini, masih Ferdinand yang menjawab. Tama bertanya-tanya dalam hati tentang apakah menjadi penerima telepon orang lain adalah cita-cita Ferdinand yang terpendam.


“Mana Cindy?” tanya Tama tanpa basa-basi.


“Lagi ngambil sambal sachet. Dia ingat kalo aku suka makan semuanya pakai sambal.” Ferdinand menjawab dengan wajah senang.


Tama mengacak rambutnya dengan frustasi, tapi lalu kembali merapikan diri saat melihat kedatangan Cindy.


Setelah muncul di layar, Cindy hanya diam. Wanita itu bahkan tak berusaha untuk membuka mulut, sama seperti Tama dulu, yang lebih banyak diam.


“Kamu lagi sakit?” tanya Tama lembut. Cindy menggeleng. Tama lanjut bertanya, “Kok nggak bicara?”


Cindy mengerutkan kening. “Kan, nggak ditanya.” Tama menghela napas. Di 26 kartu pertama, Tama terlalu terbiasa dengan Cindy yang selalu melangkah mendekatinya duluan. Makanya, dirinya masih belum terbiasa dengan sikap Cindy yang pasif.


“Iya. Aku salah. Mumpung ada Ferdinand, aku mau pakai kartu kelima.” Setelah itu, Cindy menutup mulutnya karena kaget dengan hal yang diminta Tama.


Kira-kira, apa ya, yang diminta Tama?

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih


__ADS_2