
“Ada apa lagi?” Tama bertanya saat Nathan meneleponnya pada suatu sore. Adik Tama itu tahu kakaknya kesal karena ini sudah kedua kalinya dia menelepon hari ini.
“Nathan ingin bicara dengan Kak Tama. Tadi Nathan lewat toko buku, dan ada majalah yang memakai kakak sebagai cover. Kakak hebat.” Tama mengucapkan terima kasih yang singkat, lalu bersiap mengakhiri panggilan.
“Tunggu dulu, Kak. Aku masih ingin bicara. Aku sekarang lagi sama Lia.” Tama mengerutkan keningnya. Dirinya bertanya-tanya mengapa anak ingusan itu harus menceritakan aktivitas kencannya dan membuat Tama iri.
“Iya. Selamat, ya. Kamu perlu uang? Nanti kakak transfer uang jajan untuk kamu pakai bersama Lia.” Nathan menolak saat mendengar tawaran Tama, bahkan sempat-sempatnya membuat lelucon kalau dirinya pernah memberikan beberapa batang emas ke Tama.
“Kamu merasa dekat dengan kakak, jadi mulai berani, ya?” Tama mulai mengancam, tetapi kemudian terdiam saat mendengar suara Cindy.
“Kok kamu ngancem Nathan?” Tama menggigit bibir bawahnya karena gugup mendengar suara yang sudah tak didengarnya selama beberapa hari itu.
“Kamu lagi sama Nathan?” Cindy mengiakan, lalu menceritakan aktivitas mereka sejak tadi. Tama hanya tersenyum mendengar betapa bersemangatnya Cindy menjadi obat nyamuk saat sang adik bersama pujaan hatinya.
__ADS_1
Dirinya tak tahu kalau alasan Cindy ikut jalan-jalan bersama Nathan dan Lia adalah karena wanita itu akan punya kesempatan untuk menelepon Tama.
“Kalau ada yang mau kamu beli, ambil aja. Nanti pakai kartu Nathan. Aku akan ganti uangnya dia pas pulang.” Cindy merengut saat mendengar perkataan Tama yang diucapkan super lembut itu.
“Nggak, ah. Aku juga punya uang sendiri. Kamu mau aku beliin apa? Nanti aku titip ke Nathan.” Tama menggeleng seakan tak percaya mengapa adik dan wanita kesayangannya begitu berat menerima uang darinya.
“Aku cuma mau kamu.” Secara tak sadar, Tama mengucapkan kata-kata itu. Cindy hanya diam, lalu menjawab dengan suara parau.
“Kalau hanya aku yang kamu mau, datang dan temui aku sekarang.” Hati Tama seakan hancur mendengar permintaan Cindy yang diucap seperti menahan tangis. Dirinya mengepalkan tangan agar menahan emosi dalam diri.
Saat sibuk mengasihani diri, handphone Tama berbunyi dan muncul nomor yang dikenal Tama. “Bagaimana hasilnya? Kalian sudah bisa memastikan kecurigaan saya?” Tama bertanya dengan tak sabar.
Pria yang menelepon Tama, menjawab dengan bersemangat, “Saat ini, kami bisa memastikan 100% kalau dugaan Pak Tama benar adanya.” Tama tersenyum mendengar hasil yang sejak lama ditunggunya.
__ADS_1
Pria itu langsung meninggalkan kantor, dan pergi mengunjungi mal tempat Cindy, Nathan dan Lia jalan-jalan.
***
“Kak Cindy, coba lihat ini. Cantik, kan?” Lia memperlihatkan aksesoris rambut berwarna pink yang cantik pada calon kakak ipar kesayangan Nathan. Cindy mengangguk dan bersama-sama mengagumi benda yang diperlihatkan Lia.
Walau hari ini berprofesi sebagai obat nyamuk, Cindy merasa nyaman. Sebagai anak tunggal, Nathan dan Lia sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.
“Kakak belikan ini untuk kamu, ya.” Cindy berkata dengan senyum saat melihat Lia tak henti-hentinya memuji keindahan aksesoris itu.
Wanita itu tahu kalau keluarga Lia hampir sama kaya dengan keluarga Tama, tapi itu tak menghentikannya untuk memberi hadiah pada Lia.
Saat mengatakan itu, Cindy tiba-tiba melihat sosok yang selama ini dirindukannya.
__ADS_1
Hayoo, siapa coba?
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤