Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Tentang Kita


__ADS_3

“Dhita? Kamu sudah pulang dari Amerika?” tanya Tama kaget. Di belakang Dhita, ada Ferdinand yang melambaikan tangan ke arah Cindy.


Pacar Tama itu membalas dengan lambaian singkat dan langsung kembali meletakkan tangan di meja. Cindy jelas tahu kalau Tama tak suka dia banyak berinteraksi dengan Ferdinand.


Tama baru akan berdiri untuk berbicara lebih lanjut dengan Dhita, tapi mantan-calon-istrinya itu langsung mendorong dirinya untuk kembali duduk.


“Aku nggak lama, kok. Cuma mau say hi ke kamu dan si pacar baru.” Dhita melihat Cindy sebentar dan menghela napas, lalu kembali menghadap Tama.


“Kamu mecat manajer tadi gara-gara dia?” Dhita menganggukkan kepala ke arah Cindy. Tama hanya diam, menunggu perkataan lanjutan Dhita. “Kamu yakin, wanita ini layak mendapat perhatian sebesar itu dari kamu?”


Tama masih berpikir mengenai langkah yang harus dia ambil. Dia tak bisa seenaknya memarahi Dhita, karena keluarga mereka butuh keluarga Dhita.


Pikirannya sampai jauh melayang ke hubungan mereka yang bisa diperbaiki dan orang tuanya akan kembali memperlakukannya dengan baik.


Sementara itu, Ferdinand menyikut Dhita. “Jangan aneh-aneh kamu. Cindy itu pacar Tama. Pastilah dia layak. Kalau dia pacar aku, pasti akan kubela juga.”


Tama menatap Ferdinand tajam. Entah sejak kapan, Ferdinand sudah masuk dalam daftar orang-orang yang dianggap mengganggu oleh Tama. Dhita yang melihat keheningan Tama, melanjutkan perkataannya,


“Kalau itu terjadi ke aku, kamu akan melakukan hal yang sama?” pertanyaan dari Dhita itu menarik bagi Cindy. Pacar Tama itu penasaran dengan jawaban si pria kulkas.

__ADS_1


Tama menghela napas dan menjawab, “Semua orang berhak untuk diperlakukan secara layak, termasuk Cindy dan kamu.”


Dhita tersenyum senang mendengarnya. “Berarti, wanita ini nggak spesial buat kamu.” Adik Ferdinand itu melirik Cindy dan tersenyum tipis.


“Dia spesial. Wanita paling spesial dalam hidup aku,” jawab Tama tegas. Dia tak bisa membiarkan pacarnya ditekan oleh Dhita lagi. Mantan-calon-istrinya itu hanya mengangkat bahu.


“Lihat saja nanti. Aku nggak akan mengganggu kalian lagi. Selamat menikmati makan malamnya.”  Dhita mengedipkan mata ke Tama lalu berlalu pergi. Setelah itu, hanya ada keheningan di meja makan.


“Cindy, aku…” Tama berusaha mencairkan suasana, tetapi tiba-tiba dipotong oleh waitress yang membawa pesanan. Mereka berdua lalu memperhatikan si waitress menyelesaikan pekerjaannya.


Tama bersiap-siap untuk menjelaskan lagi, tapi buru-buru dipotong oleh Cindy. “Aku nggak mau bicara tentang tadi. Kita bicara yang lain saja.” Pacar Tama itu lalu mengeluarkan kartu, tapi langsung ditolak Tama.


“Kamu nggak usah pake kartu untuk permintaan berikutnya. Aku akan ngabulin itu tanpa kartu,” kata Tama tulus.


Walaupun begitu, Cindy tetap saja sakit hati. Ini sudah kedua kalinya Tama diam ketika Cindy direndahkan. Pertama oleh ibu Tama, dan kedua oleh Dhita. Sungguh prestasi yang hebat untuk ukuran orang yang tadinya bilang tak ingin Cindy diperlakukan semena-mena.


“Kamu mau apa?” tanya Tama lembut. Wajah Tama yang penuh rasa bersalah serta kelembutan suaranya, mencairkan kekesalan Cindy.


“Aku mau kita berdua bikin lagu romantis bersama. Boleh?” tanya Cindy sambil tersenyum.

__ADS_1


Tama membalasnya dengan anggukan dan senyum lega. Dalam hatinya, ada rasa bersalah karena tak membela Cindy sejak awal. Dirinya diam-diam bersyukur karena masih bisa menyebut Cindy spesial di akhir pembicaraan.


Cindy lalu meminta pulpen dan kertas ke waitress untuk menulis lirik. Saat mereka mulai makan, Cindy menyebutkan kalimat pertama di lagu romantis khusus mereka berdua, “Aku sayang kamu apa adanya.”


Tama tertegun mendengarnya. Kalimat itu seperti obat untuk rasa kesepian dan sakit hatinya selama bertahun-tahun.


“Kenapa bengong, Kas? Sekarang giliran kamu.” Cindy memasukkan potongan ayam ke mulut sembari menunggu kalimat dari Tama. Pria kulkas itu berpikir sebentar.


“Karena kamu layak dicintai.” Kali ini, liriknya menyentuh hati Cindy. Selama ini, dia selalu merasa tak cukup baik dan tak cukup layak. Tak heran, satu-satunya pria yang dia anggap cocok dengannya di masa lalu adalah Toni.


Cindy tahu kalau Toni membuat dia rugi di segi keuangan, tapi hati kecilnya mengatakan kalau mungkin dia hanya pantas mendapatkan seorang Toni.


Lucunya, semesta justru menantang dirinya dengan mengirimkan seorang CEO yang bikin dia bahagia setiap detik. Walau begitu, selalu ada ketakutan kalau Tama akan memilih orang lain daripada dirinya.


“Aku mencintaimu tanpa syarat.” Cindy menuliskan kalimat tersebut di kertas. Dia bahagia karena bisa menyebutkannya di hadapan Tama, walau hanya sebagai lirik lagu yang mereka buat bersama.


“Walau semuanya dimulai dengan sebuah syarat.” Tama berkata lalu terkekeh. Mereka berdua tertawa seperti anak kecil, karena sadar kalau memang semuanya dimulai dengan berbagai aturan dan syarat yang dimulai oleh mereka berdua.


Cindy berpikir tentang kalimat selanjutnya, sementara Tama melihat layar handphone karena ada panggilan masuk. Wajahnya yang tadinya tersenyum, mendadak berubah menjadi datar. 

__ADS_1


Hayoo, panggilan dari siapa itu? Yuk ditebak di komentar


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤


__ADS_2