Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Faktaku, Faktamu


__ADS_3

Cindy menarik Nathan masuk ke dapur. “Nathan, kenapa pakai fakta itu? Terus, di antara 3 itu, fakta mana yang salah?” Pacar si kulkas itu gugup karena Nathan tampaknya akan merusak segalanya dengan tiga fakta yang dibuat.


Nathan menjawab dengan santai, “ Fakta ‘Nathan sayang Lia’ “. Cindy hampir pingsan mendengar jawaban Nathan.


“Nathan mau bilang nggak sayang sama cewek yang mau ditembak?” Cindy berusaha menjaga nada bicaranya agar tak terlalu terlihat frustasi. Adik Tama yang sementara diinterogasi itu mengangguk dan tersenyum.


“Kan Nathan nggak sayang, tapi cinta. Lagian, Nathan juga bakal nembak Lia.” Cindy mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi.


“Nggak bisa seperti itu. Lia bisa marah sama Nathan karena itu, dan rencana kita bakal gagal total.” Cindy masih berusaha cari jalan keluar, saat Tama melangkah masuk ke dapur.


“Kamu mau bicara sama Nathan atau sekalian masak dan bersih-bersih dapur? Aku bingung mau bicara apa sama Lia. Dia bukan teman aku.” Si pria kulkas bertanya tanpa merasa bersalah karena dirinya malah menambah beban.


Nathan dan Cindy yang kebingungan hanya menatap si kulkas sebentar, lalu kembali bicara.


“Trus, Nathan harus bilang apa, Kak Cindy? Nathan nggak mungkin bilang kalau Nathan nggak sayang sama Kak Cindy. Hampir tiap hari Nathan cerita kalau Nathan suka dengan kak Cindy sejak makan bersama…mmpphh…” Mulut Nathan langsung ditutup Tama. 


“Jangan sembarang bilang suka ke pacar orang,” kata Tama kesal. Tangannya masih menutup mulut Nathan, tapi wajahnya terlihat berpikir keras.

__ADS_1


“Bilang saja yang salah itu ‘Nathan sayang Kak Tama’. Selesai. Cerita aja soal hubungan kita yang nggak harmonis.” Tama menjelaskan tanpa ekspresi sama sekali. Nathan mengangguk patuh.


Adik Tama itu melangkah keluar dapur, tapi langkahnya terhenti karena kerah bajunya ditarik Tama.


“Stop bilang ke orang-orang kalau kamu suka Kak Cindy. Kak Cindy itu milik Kak Tama, bukan milik Nathan." Tama berkata dengan nada mengancam, lalu melepas kerah sang adik.


Saat mendengar itu, Cindy berusaha sepenuh hati menahan senyum bahagia. Dia berkata dalam hatinya, “Ternyata ini rasanya diposesifin”.


Sekarang, empat anggota permainan kembali duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Nathan mengungkap jawabannya dan semua berjalan lancar.


Di babak itu, hanya Tama yang terbakannya benar. Tentu saja, itu bukan hal yang aneh, karena pacar Cindy itu yang mengusulkan jawaban untuk Nathan.


Tentu saja, Nathanlah yang berhasil menebak fakta salah, yaitu “Lia suka main basket.” Tama mendecakkan lidah lalu berbisik ke Lia.


“Harusnya, Nathan ngajak Lia pacaran di depan abang tukang bakso, seperti kakaknya.” Cindy langsung mendorong tubuh Tama yang barusan mendekatinya.


“Giliran Kak Cindy, ya. Tiga fakta Cindy. Kak Cindy sayang Nathan. Pernah diajak pacaran di depan abang tukang bakso. Pernah ke bulan.” Tama membuang muka saat mendengar tiga fakta itu. 

__ADS_1


“Di Indonesia, ada toko namanya bulan, ya?” tanya Nathan. Cindy hanya mengangkat bahu. “Ini bulan, maksudnya toko bulan? Atau? Soalnya nggak mungkin di dunia ini ada yang tega ngajak pacaran kak Cindy kesayangan Nathan di depan abang tukang bakso.”


Tama melirik Nathan tajam. Entah karena dirinya merasa disindir, atau karena Nathan menyebut Cindy sebagai kesayangannya. “Nggak usah aneh-aneh, Nathan. Tebak aja. Nggak mungkin kan, Cindy pernah ke bulan.” Tama berkata dengan ketus.


“Tapi, kayaknya ngga mungkin deh, wanita secantik Kak Cindy diajak pacaran di tempat seperti itu. Oh, Nathan tahu. Dia pasti fans Kak Cindy lalu terus ditolak, kan?” Nathan masih gigih menebak, sementara Cindy menahan senyum melihat Tama salah tingkah.


“Kenapa Kak Tama kesal? Apa karena Kak Cindy bicara tentang fansnya yang ngajak pacaran di depan abang tukang bakso? Kak Tama nggak perlu kesal. Nggak mungkin ajakannya diterima kan, Kak?” Nathan menatap Kak Cindy untuk meminta dukungan.


“Sebenarnya…” Cindy baru akan menjelaskan tentang dirinya, Tama dan abang tukang bakso, tapi langsung dipotong Tama.


“Kakak nggak tahu, soalnya itu bukan kakak. Kakak ngajak Kak Cindy pacaran pas di festival musik, tepat saat momen kembang api.” Cindy terkekeh mendengarnya. Si kulkas yang tak sadar melihat ke arah Cindy, langsung menatap lantai karena malu.


“Wah, Kak Tama romantis banget. Nathan juga pengen kayak kak Tama.” Nathan melirik Lia yang tak sadar dengan maksud tersembunyi Nathan, dan mengangguk setuju. Permainan ini semakin lama semakin membuka keburukan-keburukan Tama.


Selanjutnya, giliran Tama. Si kulkas menyebut tiga fakta yang langsung membuat pipi Cindy merona merah.


Hayoo, coba tebak tiga fakta Tama di komentar.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤


__ADS_2