Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Jujur


__ADS_3

“Pilih aku atau Victoria Beckham?” Cindy bertanya sembari menatap Tama yang sedang melihat file di meja yang ada di ruangannya.


“Kamu.” Tama mengangkat kepala, lalu tersenyum dan menjawab singkat.


“Aku atau Dian Sastrowardoyo?" Tama menjawab nama Cindy lagi. Kali ini, dirinya tak mengangkat kepala. Cindy menghela napas, lalu berjalan ke arah Tama, dan memegang wajah pria itu untuk diarahkan ke wajahnya.


“Kamu menjawab tanpa melihat aku? Kamu bosan sama aku?” Cindy menggoda Tama yang langsung panik.


“Aku nggak mungkin bosan sama kamu. Tadi ada angka yang aneh, jadi aku sampai lupa angkat kepala.” Cindy menggelengkan kepala untuk menunjukkan kalau dia tak menerima jawaban Tama.


“Aku nggak mau gangguin kamu lagi. Karena itu, izinin aku pulang, ya. Aku juga ada kerjaan lain.” Wanita itu memohon seraya melekatkan kedua tangan. Tama masih berat hati untuk mengabulkannya.


“Yang telat datang hari ini kan kamu. Kamu baru 10 menitan di sini, dan mau pulang? Nggak bisa. Aku mau kamu ada di sini minimal setengah jam.” Tama menggenggam tangan Cindy dan menolak melepaskannya, lalu kembali melihat laporan keuangan yang sedari tadi membuatnya sibuk.


“Itu bukan salah aku. Ikan yang aku pesan nggak bisa dibawa pakai motor ke rumah, jadi aku harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengambil ikannya ke supplier pakai mobil.” Cindy menjelaskan dengan nada merajuk.


“Ikannya nggak bisa pakai motor? Kenapa? Memangnya dia nggak biasa hidup susah dari kecil, sampai harus dibawa pakai mobil?” Cindy terkekeh lalu mendorong kepala Tama karena responnya yang di luar nalar.

__ADS_1


“Kamu itu, terlalu banyak terpapar Om Timo, sampai jadi receh kayak gini. Ikannya terlalu banyak untuk dibawa pakai motor, Tam.” Tama terdiam mendengar kata-kata Cindy.


“Kamu bisa nggak, panggil aku Kulkas seperti dulu?” Tama bertanya dengan wajah memohon yang paling maksimal.


Cindy mengangguk dengan enteng. “Bisa. Asal kamu izinin aku pulang. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku batal ketemu Ferdinand hari ini.” Tama tiba-tiba kesal saat mendengar nama Ferdinand, tapi langsung ditenangkan oleh Cindy.


“Jangan berlebihan, deh. Aku sudah bilang soal ini ke kamu kemarin. Aku ingin ketemu untuk memberikan kejelasan hubungan. Aku nggak enak kalau kita berdua seperti ini tanpa sepengetahuan Ferdinand.”


Tama masih belum bisa tenang, dan langsung membalas, “Ferdinand itu bukan siapa-siapa kamu. Kenapa dia harus tahu tentang ini? Nanti kasih tahu dia aja pas kita sudah menikah.” Cindy tertawa kecil saat melihat Tama yang sudah melupakan pekerjaannya. Penyebutan nama Ferdinand memang selalu mengacaukan Tama.


“Tapi, dia yang menemani aku saat kamu tinggalin.” Tama hanya bisa diam saat Cindy menjawab dengan hal yang sampai saat ini masih dia sesali.


***


“Maaf ya, udah mengganggu waktu kerja kamu.” Cindy berkata dengan wajah  bersalah saat duduk di seberang pria yang sudah datang lebih dulu.


Cindy sebenarnya datang tepat waktu, tapi Ferdinand ingin datang lebih awal karena tak mau wanita yang dicintainya itu menunggu. Sebenarnya, waktu luang Ferdinand juga tak banyak, tapi selalu saja ada waktu untuk Cindy.

__ADS_1


“Nggak apa-apa. Kalau begitu, apa kita pesan sesuatu dulu?” Cindy mengangguk. Ferdinand langsung memesan minum untuk mereka berdua. Seperti biasa, Ferdinand selalu tahu minuman kesukaan Cindy.


Setelah berbicara cukup lama, Cindy akhirnya mengatakan maksud yang sebenarnya. “Ferdinand, makasih ya, kamu selalu ada untuk aku.” Ferdinand tersenyum dan menggeleng. Jantungnya berdebar kencang, karena merasa Cindy akhirnya akan membuka diri untuk menerima cintanya.


“Aku senang ada untuk kamu. Kamu penting untuk aku.” Cindy mengangguk, lalu melanjutkan perkataannya dengan berat hati.


“Aku nggak ingin ada salah paham di antara kita, karena sejak awal, aku hanya menganggap kamu teman. Sampai saat ini, hanya Tama yang ada di hati aku, dan rasanya tak akan berubah dalam waktu yang lama.” Mata Ferdinand membelalak mendengar itu.


“Tapi, Tama sudah menyakiti kamu. Dia nggak pantas untuk kamu. Aku lebih baik dari dia. Aku akan bikin kamu bahagia.” Tak biasanya, Ferdinand kehilangan ketenangannya seperti itu.


Dirinya begitu putus asa saat tahu kalau tak ada lagi kesempatan baginya untuk bersama dengan Cindy sebagai kekasih.


Cindy menggeleng dengan sedih. “Aku minta maaf, tapi aku nggak bisa menganggap kamu lebih dari teman. Ini semua salah aku, jadi, kalau kamu nggak mau jadi teman aku…” Perkataan Cindy langsung dipotong Ferdinand.


“Kamu nggak usah khawatir. Kita bisa tetap jadi teman.” Ferdinand tersenyum untuk menenangkan Cindy. Walau hatinya hancur, dirinya tak tega melihat Cindy sedih seperti itu. Ferdinand pun lalu mengalihkan pembicaraan ke hal lain yang lebih ceria, lalu mengantar Cindy pulang.


Setelah itu, Ferdinand menelepon adiknya, Dhita, yang masih ingin merebut cinta dari Tama. Pria itu lalu berkata, “Aku setuju untuk melakukan rencana kamu. Kamu akan mendapatkan Tama, dan aku akan mendapatkan Cindy.”

__ADS_1


Kira-kira, apa rencana Dhita, ya?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2