Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Julukan


__ADS_3

“Nathan? Ngapain kamu di sini? Kamu nggak sekolah?” Tama bertanya dengan kesal karena Cindy langsung menjauhkan diri darinya. Nathan berjalan masuk ke ruangan Tama dengan senyuman lebar.


“Nathan lagi liburan, Kak Tama. Kak Cindy, apa kabar?” Cindy lalu berdiri, tapi ditahan Tama yang langsung menggenggam tangannya.


Wanita itu mengerutkan kening, tapi lalu memutar tangannya untuk melepaskan diri dari genggaman Tama.


Cindy langsung berjalan dan memeluk Nathan. Sejak pertama bertemu, Cindy memang sudah menganggap Nathan sebagai adik sendiri. Di sisi lain, Tama sangat cemburu melihat adiknya mendapatkan pelukan Cindy dengan begitu mudah.


“Kabar Kak Cindy baik, Nathan. Kak Cindy rindu banget sama kamu. Kamu kurusan, ya?” Cindy mencubit pelan pipi Nathan sementara anak itu mengangguk untuk mengiakan pertanyaan Cindy.


“Ehm, yang di sini juga kurusan.” Tama berusaha mengembalikan perhatian Cindy padanya. Cindy dan Nathan tersenyum melihat sifat Tama yang seperti anak-anak. Cindy lalu berjalan kembali untuk duduk di samping Tama.


Tanpa disangka-sangka, Cindy lalu menggenggam tangan Tama kembali, seolah ingin melanjutkan apa yang tadi dimulai Tama. Wajah pria yang kaget itu langsung memerah dan hanya melihat ke bawah.


“Makanya, perbanyak istirahat. Nanti aku bawakan makanan spesial biar kamu tambah lahap makannya.” Tama mengangguk saat mendengar perkataan Cindy.

__ADS_1


“Kak Tama memang pekerja keras. Dulu saja, waktu kuliah, nama julukan kak Tama 'Tama The Warrior', saking nggak pernah berhenti belajar.” Nathan menyebut julukan kakaknya dengan bangga.


Tama hanya menggaruk kepalanya karena malu. Saat ini, tangan Cindy menggenggam erat tangan Tama, ditambah dengan elusan dari ibu jari wanita itu. Hanya dengan sentuhan kecil itu saja, Tama sudah tak berkutik.


“Julukan Kak Cindy waktu kuliah apa?” tanya Nathan. Cindy berpikir sebentar, lalu menggeleng.


“Seingat Kak Cindy, nggak ada julukan khusus. Untuk orang dengan nama 'Cindy Sadja', nggak perlu nama tambahan. Namanya saja sudah aneh.” Cindy terkekeh mengingat masa kuliahnya.


“Tapi, kalau Kakak boleh pilih nama untuk ditambahkan ke nama Kakak, rasanya Mita akan jadi nama tambahan yang bagus.” Cindy tersenyum ke arah Tama saat menyebutkan itu.


“Kenapa Mita, Kak?” Cindy hanya mengangkat bahu saat ditanya oleh Nathan.


Sebelum Cindy keluar dari ruang Tama, dirinya berbisik pelan ke pria itu. “Aku bohong ke Nathan. Mita ada kepanjangannya : Milik Tama."


Setelah itu, Cindy bergegas keluar, meninggalkan wajah Tama yang tersenyum seperti orang bodoh.

__ADS_1


Bila harus menilai suasana hati Tama, biarpun hari ini kiamat, senyum Tama tetap akan terukir manis di wajahnya. Dalam hatinya, Tama berkata, “Om Timo benar. Dicintai oleh orang yang kita cintai itu seperti surga dunia.”


***


“Hari ini kok anak ayah aneh sekali, ya. Dari sejak pagi sudah memasak nasi goreng ikan asin, lalu kemudian lama sekali berdandan. Kamu mau singgah ke kondangan?” Cindy menatap ayahnya dengan cemberut, sehingga Pak Surya tak menggodanya lagi.


 


Di ruang Tama, Cindy menyerahkan nasi goreng yang sudah disiapkannya dengan sepenuh hati. “Kok bikin nasi goreng? Nanti kamu capek. Kita makan bubur ayam aja biar gampang.” Tama mengambil bungkusan nasi goreng dan berkata dengan nada khawatir.


Cindy menggeleng, lalu berkata, “Kamu suka ikan, bukan ayam. Aku ingin kamu makan yang kamu suka juga. Apa gunanya punya orang yang bisa bikin masakan dari ikan, kalau kamu terus-terusan pesan bubur ayam?”


Tama tersenyum senang mendengar itu. Cindy yang dulu dikenalnya kini kembali. Tama merasa hidupnya sangat bahagia saat ini.


Nun jauh di sana, Papa Tama sedang menerima panggilan di kantornya. “Wanita itu datang lagi ke kantor Tama? Biarkan saja. Saat ini, semua berjalan sesuai rencana. Nanti di saat yang tepat, kita akan pisahkan mereka berdua selama-lamanya.”

__ADS_1


Apa sebenarnya rencana papa Tama? 


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤


__ADS_2