Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Kartu Kedua


__ADS_3

“SD Sukses Semesta. Memangnya kenapa, Heat?” Tama bertanya karena heran. Cindy tak biasanya membicarakan hal-hal seperti ini.


Tanpa Tama ketahui, Cindy sedang melompat-lompat gembira karena jawaban yang barusan dia berikan.


“Nggak apa-apa, Kas. Aku akan kasih tahu alasannya nanti.” Pacar mungil Tama itu tak henti-hentinya tersenyum. Hatinya bahagia karena pria yang dia cintai ternyata adalah anak laki-laki yang sudah dikenalnya sejak kecil.


“Baiklah kalau begitu. Mm, aku mau pakai kartu kedua, ya?” Perkataan Tama itu membuat Cindy semakin bahagia. Karena kartu Cindy sudah habis, satu-satunya cara agar mereka bisa tetap berduaan adalah lewat kartu Tama.


Awalnya, Cindy lumayan gelisah karena mereka bisa saja berpisah kalau Tama tak mau menggunakan kartunya. Kenyataan kalau Tama mau memakai kartu kedua, secara tidak langsung adalah pernyataan kalau Tama ingin bersama Cindy lebih lama lagi.


Cindy berusaha menenangkan diri agar Tama tak curiga. Dirinya pun bertanya dengan ketenangan yang dipaksa, “Oke. Mau dipakai untuk apa?”


"Minggu depan, ada acara pernikahan kenalan aku. Aku ingin kamu pergi ke sana sama aku. Boleh, ya?” tanya Tama dengan nada memohon.


“Kamu nggak perlu memohon, Kas. Kamu kan pake kartu.” Tama yang mendengar penjelasan Cindy, langsung mengangguk setuju, walau gerakannya tak dilihat Cindy.


“Jadi, boleh, kan?” suara Tama menjadi lebih percaya diri.


“Iya, boleh.” Jawaban Cindy lalu berujung pada pembicaraan soal jam pelaksanaan acara dan pakaian yang akan dipakai.


Tama ingin Cindy memakai pakaian yang khusus disediakan stylist keluarga mereka. Bagaimanapun juga, Cindy akan bersanding dengan CEO perusahaan dan itu secara tak langsung akan mempengaruhi image perusahaan juga.


“Heat…” Tama menghentikan perkataannya tiba-tiba. Hanya ada keheningan dalam panggilan tersebut.


“Kalau larangan ‘dilarang jatuh cinta’ dicabut, boleh nggak?” Cindy yang mendengar permintaan Tama memejamkan mata dan menutup mulutnya sendiri agar tak keceplosan berteriak.

__ADS_1


“Heat, kamu nggak apa-apa?” Tama mulai khawatir karena Cindy tak kunjung bicara. Dirinya tak akan pernah tahu betapa ramainya isi pikiran Cindy saat ini hanya karena permintaannya barusan.


“Nggak apa-apa, Kas. Kalau begitu, larangan ‘dilarang minta uang’ juga bisa sekalian dicabut?” Cindy menggoda Tama untuk mencairkan suasana.


“Boleh, Heat. Kamu mau minta uang? Minta sama aku. Berapapun akan aku kasih.” Tama berkata dengan serius, seolah ini urusan hidup dan mati.


“Memangnya, kamu sudah cinta sama diri kamu sendiri?” Cindy kembali bertanya, untuk mengkonfirmasi syarat yang dia berikan saat di festival musik.


“Sudah,” jawab Tama singkat.


“Bohong.” Cindy tertawa terbahak-bahak dengan jawaban Tama tadi.


“Iya, aku bohong. Aku masih belajar, tapi aku nggak mau dilarang untuk jatuh cinta sama kamu.” Perkataan yang super gombal ini mampu menembus pertahanan Cindy sejak tadi. Wanita itu tak pernah menyangka kalau dirinya akhirnya berhasil merebut cinta Tama.


“Loh, yang bikin larangan itu kan kamu?” Cindy terkekeh, sementara Tama hanya terdiam.


“Boleh kok, Kas. Aku izinin.” Mendengar itu, Tama langsung bersorak kegirangan, seolah lupa kalau dia sedang berada dalam panggilan telepon.


Cindy juga tak kalah bahagia. Selama ini, dia sering berpikir kalau dirinya layak mendapatkan cinta seorang CEO, tapi Tama membuktikan kalau dia salah.


Saat dia pindah sekolah gara-gara ayahnya bangkrut dan tak mampu membayar biaya sekolah sebelumnya, teman-teman barunya mengejek dia setiap hari.


Saat mereka tahu kalau Cindy pindah karena ayahnya bangkrut, mereka terus-terusan berkata kalau alasan Cindy dan keluarganya bangkrut adalah karena dia tak pantas mendapat kekayaannya yang sebelumnya.


Cindy dibilang hanya pantas hidup biasa-biasa saja, dan tak usah memaksa. Pada akhirnya, dia akan jatuh dan kembali ke kehidupan biasa, karena dia tak pantas untuk itu. Saat Pak Surya akhirnya tahu tentang itu, beliau sangat marah.

__ADS_1


Pak Surya langsung memindahkan Cindy ke sekolah yang baru, yang mempertemukan Cindy dengan Susi. Pak Surya juga mulai berkenalan dengan para pedagang, dan sejak saat itu, hidup mereka penuh dengan keakraban bersama Persatuan Pedagang Palugada.


Cindy berusaha melupakan masa lalunya yang buruk, tapi tak mudah untuk mengubah apa yang sudah tertanam dalam pikirannya. Pak Surya sangat sedih karena hal ini, tapi beliau tak bisa berbuat apa-apa, karena Cindy sangat tertutup soal itu.


“Heat, kamu udah ngantuk?” Tama bertanya karena Cindy terdiam selama beberapa saat. Cindy lalu mengiakan dan akhirnya mereka saling mengucapkan selamat malam. Sayang, ucapan dari Tama malah akhirnya membuat Cindy tak bisa tidur semalaman.


“Selamat malam, Cin…taku.” Tama lalu bergegas mengakhiri panggilan.


***


Besoknya, rumah Cindy dikunjungi oleh stylist dan sopir kepercayaan Tama. Tak butuh lama bagi si stylist dan stafnya untuk memilih outfit terbaik untuk Cindy.


“Yang ini sudah oke menurut saya. Kalau menurut Bu Cindy gimana?” stylist yang bernama Alan itu bertanya dengan sopan.


“Saya suka yang ini, Alan, tapi agak sesak di bagian pinggang. Maaf ya, malah ngerepotin gara-gara aku gemukan.” Cindy berkata dengan penuh sesal. Hal itu membuat si stylist melihat ke arah sopir Tama dan panik.


“Ja…jangan minta maaf. Bu Cindy nggak salah. Bu Cindy nggak akan pernah salah. Yang salah itu saya dan ukuran bajunya.” Alan berkata dengan gugup sementara sopir Tama hanya melihatnya tanpa ekspresi.


“Maaf kalau ukuran bajunya nggak nyaman, Bu. Saya akan segera sesuaikan ukurannya biar pas saat acara. Bu Cindy jangan marah, ya.” Alan masih sibuk meminta maaf. Entah apa yang sudah dikatakan Tama ke Alan, sampai dia ketakutan seperti itu.


Setelah puas meminta maaf dan mengambil ukuran terbaik, Alan meminta ijin untuk pulang. Sopir Tama yang bernama Beno juga melakukan hal yang sama. Cindy yang tak bisa menahan rasa penasarannya, menarik kemeja Beno dan bertanya,


“Beno, apa yang dibilang Tama ke Alan sampai dia ketakutan seperti itu?”


Hayoo, apa coba yang dibilang Tama? yuk ditebak di kolom komentar.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih


__ADS_2