Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Hanya Kamu


__ADS_3

“Kamu tahu kenapa Om Surya marah banget hanya gara-gara kamu bikin Cindy sedih?” tanya Susi, saat Tama sudah duduk di sampingnya.


Pria yang ditanya hanya menggeleng dengan polos. “Kamu mau tahu pria-pria yang pernah mendekati Cindy?”


Tangan Susi menunjuk lapak pakaian yang lumayan ramai. “Salah satunya, anak si empunya lapak itu. Anaknya S2 dan kini tinggal di Amerika.” Susi mengingat-ingat sebentar lalu menunjuk lapak sepatu. “Anak si bapak itu sekarang General Manager Perusahaan Internasional.”


Susi menghela napas, lalu melanjutkan, “Jadi, bayangkan betapa kaget kita semua, karena di antara semua pria terbaik yang mengejar dia, teman bodohku itu malah memilih Toni, pria pengangguran yang sibuk memoroti dia.” Susi meninju meja karena masih menyimpan kekesalan.


“Itu pasti karena waktu Pak Surya bangkrut, teman-teman Cindy mengejeknya, dan bilang kalau dia tak pantas mendapat hal-hal baik. Semua hal baik yang dia punya akan direnggut. Makanya, dia merasa kalau dirinya hanya pantas mendapat seorang Toni. Aku sampai sekarang nggak percaya kalau anak-anak SD bisa sejahat itu.” Tama hanya diam saat mendengar cerita Susi. Dirinya semakin merasa bersalah karena peristiwa malam itu.


“Jadi, ketika tahu Cindy putus dengan Toni dan jadian dengan seorang pria baik dan tak terlihat memanfaatkan dia, kami semua sangat senang. Kami senang bukan karena kamu kaya, Tam, tapi karena Cindy akhirnya punya bukti kalau dia pantas mendapat yang lebih baik. Sayang, kamu malah mengacaukan segalanya.” Susi langsung menjitak kepala Tama.


“Maaf. Itu memang salah aku. Aku benar-benar bodoh.” Susi mengiakan perkataan Tama. “Cindy beruntung punya teman seperti kamu.”


Susi menggelengkan kepala saat mendengar pujian Tama. “Aku yang beruntung punya teman seperti Cindy.


Teman Cindy itu lalu bercerita saat-saat mereka berteman. “Kami berteman karena ayah dan Pak Surya mulai berteman baik. Saat kami mulai dekat, ada yang mencurigakan dari Cindy. Dia selalu membawa bekal, dan menolak jajan. Anak itu pun sering meminta kerjaan tambahan ke Pak Surya biar dapat uang. Ibunya sampe nanya ke aku, kenapa Cindy tiba-tiba butuh uang?” Tama mengangguk dengan wajah penasaran. Tampaknya, jiwa penggosip Pak Timo mulai menular padanya.


“Setelah sebulanan, akhirnya kami semua tahu untuk apa. Dia menabung untuk ngasih kejutan satu set komik yang sejak dulu aku inginkan.” Susi mengusap air matanya. Sampai saat ini, dia masih terharu kalau mengingat betapa Cindy memperlakukannya dengan baik.


“Saat itu, aku berjanji, kalau bisa, aku akan memberikan seluruh dunia ini ke sahabat terbaikku itu.” Susi lalu menepuk-nepuk pelan pipi Tama dengan nada mengancam. “Jadi, kalo sampe kamu menyakiti Cindy lagi, jangan harap kamu bisa selamat.”


Susi berpikir sebentar, lalu memberitahukan satu rahasia penting ke Tama. “Kamu tahu nggak, kenapa ayah yakin sekali sama kamu?” Tama menggeleng.

__ADS_1


“Karena kamu satu-satunya yang bisa membuat Cindy marah ketika dijahati. Selama ini, Cindy tak pernah marah pada siapapun yang berbuat semena-mena ke dia. Hanya kamu, Tam. Hanya kamu yang bikin dia merasa pantas untuk memberi hukuman ke orang lain saat dibuat kesal."


 


“Susi, ayah suruh ngasih ini ke kamu.” Perkataan Cindy yang tiba-tiba, mengejutkan Tama dan Susi seolah mereka melihat hantu. Susi mengangguk dan mengambil kain pemberian Cindy.


“Tumben kamu pakai lipstik. Biasanya nggak.” Susi menggoda temannya yang pipinya kini sudah memerah. Cindy langsung menunjukkan wajah mengancam ke Susi.


“Aku pergi ke toko sebentar, ya. Tama, kamu jaga saja di sini. Gampang, kok. Semua harganya sudah ada di depan etalase.” Susi langsung meninggalkan Cindy dan Tama. Situasi langsung menjadi hening seketika.


“Aku mau pakai kartu keempat,” kata Tama pelan.


Cindy menatapnya sebentar lalu berkata, “Aku kan sudah bilang, harus ada Ferdinand. Nanti aku tanya kalau dia bisa datang.”


“Oke, tapi stop panggil aku heater. Panggil saja Cindy. Kita bukan siapa-siapa lagi.” Tama mengangguk patuh, walau hatinya sakit mendengar permintaan Cindy. Dirinya terus mengutuk kebodohannya di malam itu. 


“Aku ingin kamu membalas chat dan menerima panggilan aku, bisa?” Tama bertanya dengan wajah memohon. Dirinya sedih karena Cindy selalu mengabaikan chat dan panggilannya.


Cindy membuang muka, dan terlihat tak peduli, walau sebenarnya dia hanya ingin menahan hatinya agar berhenti menyuruh dia kembali ke pelukan Tama.


Cindy menghela napas dengan berat hati, lalu mengiakan. Tak lama setelah itu, Susi datang untuk meminta mereka berdua ikut menurunkan beberapa boks pesanan dari mobil.


Tama dan Cindy pun berlari cepat, sampai Cindy tak sengaja menubruk dan melekatkan bibir di punggung Tama. “Eh, maaf, maaf.” Cindy berkata dengan gugup lalu mengusap punggung Tama dengan gugup karena bekas lipstiknya tertempel di bagian belakang kaos Tama.

__ADS_1


Tama tersenyum melihat kegugupan Cindy. “Nggak apa-apa, Cin. Harusnya tadi nggak di punggung, tapi di sini.” Tama meletakkan telunjuk di pipi kanannya, dan langsung membuat wajah Cindy memerah. Wanita itu langsung berlari duluan ke arah mobil Pak Timo.


Setelah selesai menurunkan barang, Pak Timo meminta Tama menemaninya mengantar pesanan, sekalian membawa Tama membeli pakaian. Ternyata di sana, mereka malah mendengar kabar mengejutkan.


“Tim, ada cerita seru. Tadi ada yang datang ke saya. Katanya, kalo saya setuju untuk ngga pesan roti sama kamu, mereka akan beli semua dagangan saya selama setahun. Asyik nggak, tuh?” Pak Darto, si pemilik minimarket bercerita dengan penuh semangat.


“Tentu saja saya tolak, dong. Harganya nggak sebanding dengan gosip-gosip harian yang top markotop dari kamu, Tim.” Dua om-om itu tertawa terbahak-bahak, seolah bangga dengan hobi menggosip mereka berdua.


“Tam, ngapain diam? Sana ke lantai dua, bajunya bagus-bagus dan murah, asal kamu ambil yang warna item aja.”


Mendengar itu, Tama dan Pak Darto menatap Pak Timo dengan heran, tapi Pak Timo lalu menunjuk banner promosi yang bertuliskan “Diskon 50% all item.”


Pak Timo dan Pak Darto kembali tertawa sementara Tama hanya menatap nanar. Sungguh lelucon bapack bapack sekali.


“Tam, lapor ke Om Timo kalo ada yang harganya di atas dua puluh ribu, biar nanti kita pindah tempat. Kemarin Om liat ada yang jual celana panjang 15.000, sampai ada yang 6.500 per kilo.”


Pak Darto langsung menatap Pak Timo dan membalas, “itu bukan toko, tapi laundry, budak iblis.” Ternyata, julukan Pak Timo sudah terkenal di kalangan pergosipannya.


“Eh Tim, itu dia yang tadi datengin saya dan bilang supaya nggak ambil roti dari kamu.” Pak Darto menunjuk seorang pria yang berusia akhir 20-an dan menunjukkan wajah terkejut.


Gimana kira-kira reaksi Tama?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤

__ADS_1


__ADS_2