Merebut Cinta CEO Kulkas

Merebut Cinta CEO Kulkas
Silau, Men


__ADS_3

“Gimana, Tam? Bisa, nggak?” tanya Ferdinand, karena pertanyaan Cindy tak kunjung dijawab.


Secara efisiensi, Tama akan lebih cepat pulang dan istirahat, karena tak harus mengantar Cindy. Sayang, secara perasaan, hati Tama seakan tak terima kalau Cindy pulang dengan Ferdinand. Tama berusaha mengabaikan perasaan cemburu dan menganggap kalau jawabannya hanya supaya Ferdinand melihat kebahagiaan mereka.


Pacar Cindy itu lalu menarik Cindy dan menggeleng. “Dia pulang sama aku aja.”


Ferdinand merengut, tapi segera mengangguk. Dia tahu posisinya, tapi tetap berusaha mencoba dekat dengan wanita yang mencuri hatinya itu.


***


“Kenapa kamu pake minta ijin ke aku?” Tama masih kesal dengan Cindy yang tak langsung menolak permintaan Ferdinand. Bagaimanapun juga, Cindy datang dengan Tama. Dia harus pulang dengan Tama juga.


“Karena aku...milik kamu?” jawaban Cindy langsung membuat pipi Tama memerah. Cindy sangat suka Tama yang malu seperti ini. Rasanya, dia ingin memeluk pria itu, tapi dia tahu posisinya sebagai pacar kontrak.


Setelah jawaban Cindy, mobil menjadi hening. Pasangan yang masih bimbang dalam cinta itu, sibuk melihat ke sisi manapun asalkan selain ke arah pasangannya.


Cindy yang melihat penjual kaleng time capsule langsung buru-buru membuka tas, mengambil kartu ke-12, dan meminta Tama meminggirkan  mobilnya sebentar.


“Kamu mau apa lagi?" Suara Tama meninggi. Cindy heran mendengarnya.


“Kamu marah? Kenapa? Boleh bilang salahnya aku dimana?” tanya Cindy lembut. Tama jadi salah tingkah sendiri. Dia tak berharap kalau Cindy akan membalasnya dengan lembut, dan bukannya dengan nada tinggi juga.


“Aku nggak marah, kok. Nada bicara normal aku memang kayak gini.” Tama memelankan suaranya, lalu membuang muka. Cindy menghela napas mendengarnya.


“Aku mau kita bikin time capsule bareng. Bentar ya, aku beli dulu.” Cindy baru akan membuka pintu mobil, tapi langsung ditahan saja.


“Aku aja.” Tama membuka pintu mobil lalu mendekati si penjual. Wajah si penjual tampak cerah ceria saat Tama menyodorkan sejumlah uang. Tama sengaja memberi uang lebih supaya si penjual bisa memenuhi lebih banyak kebutuhan.


Dari jauh, Cindy melihat Tama dengan penuh cinta. Tama memang dingin, tapi sesungguhnya, Bapak Kulkas itu sangat hangat hatinya.


Setelah kembali ke mobil, Tama menyerahkan dua kaleng time capsule ke Cindy. “Memangnya mau ditanam di mana?” tanya si pria kulkas sebelum melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


“Di belakang rumah aku aja. Biar nanti kalo kamu nggak mau ikutan buka, aku bisa buka dua-duanya sendiri,” kata Cindy sambil memeluk kaleng time capsule seolah itu adalah harta karun.


“Aku bisa,kok. Pasti bisa.” Tama berkata pelan. Saking pelannya, sampai Cindy hampir mengira dirinya salah dengar.


“Kamu bilang apa, Kas?” Cindy mendekatkan diri ke Tama, tapi langsung didorong Tama menjauh. Setelah itu, Cindy hanya tertawa, sementara pacar kulkasnya berusaha tetap fokus berkendara.


***


“Selamat malam, Om.” Tama menyapa Pak Surya, yang sedang asyik berbincang dengan Pak Timo, ayah Susi. Kedatangan Tama disambut meriah, terutama oleh Pak Timo.


“Ini ya, pacar barunya Cindy. Ganteng juga ya, mirip Om waktu masih muda.” Pak Surya tertawa mendengar ocehan Pak Timo. Walaupun begitu, sohib Pak Surya itu tetap percaya diri melanjutkan omongan.  “Saking gantengnya, sampai dikejar sama cewek-cewek di kampung.”


Tama mengangguk sopan, walau perkataan Pak Timo terasa tak masuk akal. “Berarti, Om ganteng banget ya. Sampai dikejar-kejar segala.”


Pak Timo mengangguk bangga dan melanjutkan penjelasan, “soalnya om waktu masih muda dulu maling pakaian dalam.” Pak Surya yang dari tadi menahan tawa, langsung tertawa terbahak-bahak. Dua bapak itu seolah tak mempedulikan wajah bingung Tama dan Cindy di depan mereka.


***


Setelah meminta ijin pada duo bapak tadi, Cindy dan Tama berjalan ke taman belakang rumah. Cindy yang sudah siap dengan pulpen dan kertas, membagikannya pada Tama.


“Apa lagi ini, Heat?” Tama melirik Cindy yang masih kukuh menyodorkan kartu.


“Hari ini, aku mau kita videocall sebelum tidur. Bisa?” tanya Cindy dengan lembut. Tama sungguh lemah dengan nada Cindy yang seperti itu. Konon, kata orang-orang, ketika kita saling berbicara lembut, hati kita dekat satu sama lain. Sebaliknya, ketika kita saling berteriak, hati kita jauh satu sama lain.


Tama mengiakan permintaan Cindy, tapi buru-buru bertanya, ”Trus, kita berdua ngomong apa?”


Cindy berpikir sebentar dan menjawab, “tentang masa depan kita aja, gimana?”


Tama terlihat shock mendengarnya. “Tapi, kita dilarang saling jatuh cinta.”


Cindy yang mendengar sanggahan Tama, langsung membalas, “Aku nggak minta kamu cinta sama aku. Aku minta kita bicara soal masa depan kita.” Cindy segera mengambil kartu ke-14nya. “Kamu nggak boleh menolak. Kamu juga nggak harus punya aku di masa depan kamu. Oke?”

__ADS_1


Tama mengangguk dengan berat hati, lalu bertanya, “Aku ada nggak di masa depan kamu?”


Cindy terkekeh mendengar pertanyaan Tama. “Kamu ada, karena kamu penting buat aku.”


Penjelasan Cindy membuat hati Tama hangat. Tanpa sengaja, dia berkata dengan pelan, “kalau begitu, kamu juga akan ada di masa depan aku."


***


“Aku videocall sambil tiduran, bisa kan?” tanya Cindy yang terlihat mengantuk. Seperti biasa, Tama tak berkata apa-apa dan hanya menganggukkan kepala. Dirinya lalu menegakkan tubuh agar terlihat keren saat duduk di tepi tempat tidur.


“Sebagai pembuka, tadi ayah minta aku bilang kalo kamu diundang ke ulang tahun beliau minggu depan.” Tama terkesima dengan wajah Cindy yang tidur menghadapnya. Walau dalam posisi tidur, pacar mungilnya itu tetap cantik.


“Kas? Kamu lagi mikir apa?” Cindy heran dengan pacarnya yang hanya bengong. Tama bergegas menggeleng.


“Aku lagi mikirin soal masa depan,” jawab Tama dengan wajah yang bersemu merah.


“Kok muka kamu merah? Kamu mikirin yang nggak-nggak ya?” goda Cindy, yang hanya dibalas Tama dengan tatapan salah tingkah. Cindy jadi ikut-ikutan salah tingkah. Apakah mungkin pacar kulkasnya itu benar-benar berpikiran yang aneh-aneh tentang masa depan dia?


Cindy berusaha mencairkan suasana dengan bertanya, “Trus, apa yang ada di masa depan kamu.”


“Yang pasti, ada kamu.” Jawaban singkat, padat dan jelas Tama sukses membuat jantung Cindy berdetak tak karuan, walau sambungannya tak memuaskan. “Belum tahu juga sebagai apa. Yang pasti, kamu akan ada di sana.” Cindy mengangguk, lalu berpikir sebentar saat Tama menanyakan pertanyaan yang sama.


“Aku akan punya suami yang baik, yang hangat ke aku dan anak-anak.” Tama mengangguk paham. Semua wanita di dunia ini pasti berharap menikahi pria yang baik.


“Berarti bukan aku ya, soalnya aku orangnya nggak hangat,” kata Tama pelan seraya menggaruk pelan pelipis kirinya dengan telunjuk.


“Mungkin saja. Kamu bisa kan, jadi hangat untuk aku?” tanya Cindy, dan secara mengejutkan dibalas dengan anggukan pelan Tama.


Cindy tak ingin bertanya lebih lanjut untuk membuat Tama lebih salah tingkah. Mereka pun mulai membahas tentang karir dan pekerjaan. Cindy terkesan dengan pemikiran Tama yang dewasa, dan mau mendukung karir istrinya setelah menikah. Sementara itu, Tama sibuk berpikir tentang betapa beruntungnya pria yang menikahi Cindy di masa depan.


Pikiran Tama yang mengembara segera kembali ke bumi saat Cindy menanyakan sebuah pertanyaan sakti.

__ADS_1


Hayooo, apa coba yang ditanya Cindy?


Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤


__ADS_2