
“Mau kemana, Mbak?” sopir taksi bertanya lewat kaca spion dengan full senyum. Tama mengerutkan wajah dan menyikut Cindy di dalam taksi. Tampaknya, dia masih kesal karena penampilan falsnya kemarin.
“Boleh nggak, kalo Bapak bawa kita ke lokasi penumpang sebelumnya?” Cindy bertanya dengan penuh semangat. Permintaan kelimanya adalah untuk mengunjungi lokasi yang tak terduga.
“Tapi Mbak, saya nggak yakin kalo Mbak bakal suka dengan tempatnya.” Pak sopir berusaha menolak dengan halus, tapi malah membuat Cindy makin penasaran. “Soalnya tempatnya ada di…” Cindy bergegas memotong karena tak ingin kejutannya dirusak.
“Bawa saja kami ke sana, Pak. Apapun resikonya, kami terima,” kata Cindy mantap. Pak sopir menatap Tama untuk mencari dukungan, tetapi hanya dibalas pria itu dengan bahu yang diangkat.
Setelah kejadian memalukan kemarin, Tama sudah terlatih menghadapi permintaan gila pacarnya itu. Sang sopir pun berakhir mengangguk dan tancap gas ke lokasi sebelumnya.
Dalam perjalanan, tangan Cindy mengipas kartu keenam di depan wajah Tama. “Cin, permintaan kelima saja belum selesai, masa sudah mau permintaan keenam?” Tama mengeluh, tapi tetap mempertahankan wajah datarnya.
Cindy menggelengkan kepala untuk menolak keluhan Tama. “Permintaan aku gampang, kok. Aku mau kita punya nama panggilan.” Tama mendecak dan memutar bola matanya.
“Tama dan Cindy kan nama panggilan. Untuk apa dibikin baru lagi.” Pria yang kesal karena harus menemani Cindy di minggu siang yang terik, tetap melemparkan keluhan. “Tam, ini hanya informasi, bukan bujukan. Toh, kamu harus tetap menurut juga, kan?” tanya Cindy dengan nada kemenangan. Tama menghela napas dan mengangguk.
“Ya sudah, panggil aku Yang Mulia.” Perkataan Tama langsung membuat Pak Sopir mengerem mobil secara mendadak.
"Ada apa, Pak?” tanya Tama, yang tetap mempertahankan wajah tanpa ekspresi walau jantungnya hampir copot.
"Nggak apa-apa, Yang Mulia. Eh, maksud saya, nggak apa-apa, Mas. Saya hanya tiba-tiba kaget saja. Maaf ya, karena saya ngerem tiba-tiba.” Pak Sopir menjawab dengan panik, sementara Cindy terkekeh mendengar panggilan “Yang Mulia” dari Pak Sopir.
Setelah keadaan kembali normal, Cindy melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya terhenti. “Nama panggilan itu dibuat si pasangan, bukan sama orang yang bersangkutan,” jelas Cindy. Tama lalu mengangguk dengan berat hati.
“Aku panggil kamu Kas, ya? kependekan dari kulkas.” Tama langsung berwajah cemberut. Yang Mulia dan Kulkas jelas berbeda bagai langit dan bumi.
Tama baru akan mengeluh, tapi langsung dipotong Cindy. “Kamu mau panggil aku apa?” Si pacar yang sedang tak terima dengan nama panggilan barunya, langsung menjawab, “Heat. Kependekan dari heater. Puas?”
Tama berharap, Cindy akan mengeluh dan membatalkan permintaan nama panggilan, tetapi pacar mungilnya itu justru langsung mengiakan. Pria yang tiba-tiba teringat pesan papanya soal harus bahagia dengan Cindy, lalu mengajak Cindy selfie dalam taksi, dan diposting di story.
Dirinya beberapa kali memeriksa handphone dan menemukan keanehan. Tama tak melihat profil Dhita, tapi justru melihat profil Ferdinand. “Ngapain Ferdinand muncul di sini?” tanya Tama dalam hati.
Belum sempat dirinya berpikir panjang, Pak Sopir sudah menghentikan mobil. Cindy dan Tama melongo melihat lokasi yang harus mereka kunjungi, yaitu : kuburan.
__ADS_1
Walau berat, mereka berdua turun dan segera mendekati seorang penggali kubur yang terlihat sedang duduk beristirahat.
“Pelayat juga? “ tanya penggali kubur bernama Pak Tono pada mereka berdua, yang segera menggeleng. “Bukan,Pak. Hanya datang melihat-lihat saja,” jawab Cindy, yang dibalas anggukan penuh keseriusan dari Pak Tono. Di dekat mereka, ada upacara pemakaman.
“BRO!!” panggil Pak Tono ketika melihat Rian, temannya, yang ikut mengantarkan jenazah. Rian pun mendekati Pak Tono untuk sekedar berbincang.
“Si Bos, ya?” Pak Tono bertanya dengan mata yang sibuk melihat orang-orang di upacara tersebut. Sudah merupakan hal yang biasa bagi penjaga kubur seperti Pak Tono untuk membicarakan penghuni tempat yang sudah lama dijaganya itu.
“Iya. Bos Sembako. Umur 65 tahun. Istrinya masih muda,loh.” Rian menjawab lengkap sambil mengusap peluh. Dirinya menganggukkan kepala pada Cindy dan Tama, juga pada remaja lelaki yang tiba-tiba bergabung.
“Istri kedua, ya? Atau ketiga?” tebak Pak Tono asal.
“Istri pertama. Si bos disuruh menikah di umur 62 tahun. Konon, kalau si Bos menikah sebelum 62 tahun, dia diramal akan jatuh miskin,” jawab Rian, yang lalu menunjuk lubang yang sedari tadi digali oleh Pak Tono.
“Gali sendiri, bos?” tanya Rian terkekeh.
“Iya,nih. Yang lain sedang ada urusan.” Pak Tono menjawab dengan kesal, lalu kemudian kembali bertanya kepada Rian, “Berapa umur istrinya?"
“Masih 20-an tahun. Nekat juga istrinya. Tapi, wasiatnya besar loh. Saat mendekati 62 tahun, si bos langsung bikin sayembara mencari istri. Pake syarat ini itu dan sebagai hadiahnya, wanita yang jadi istrinya akan mendapatkan bagian atas wasiatnya. Tuh sana, istrinya,” tunjuk Rian ke sosok perempuan cantik yang berdiri di dekat peti jenazah sambil terus-terusan mengusap air mata.
“Dasar anak laki-laki. Nggak bisa lihat perempuan cantik,” kata Pak Tono sambil tergelak dan mereka pun tenggelam dalam tawa.
“Eh om, Papa dan mama saya beda umur 20 tahun, tapi saling mencintai dan bahagia. Jadi, siapa tahu saja istrinya memang bahagia saat menikah, dan sedih saat si bos meninggal,” bela si anak muda.
Cindy dan Tama hanya menyimak dengan diam, karena tak tahu bagaimana cara menyambung percakapan.
“Halaaah. Nggak mungkin. Pernikahan mereka kan diawali dari sayembara, jadi pasti karena istrinya mata duitan. Nggak usah membela dia karena dia cantik,” sanggah Rian dan membuat anak muda itu tersenyum. Tama melirik Cindy yang juga adalah pacar kontraknya.
“Tapi, si Bos memang aslinya baik,kok. Buktinya, tiap kali minta sumbangan, pasti langsung dikasih segepok. Makanya, jangan heran kalau pelayatnya cukup banyak.” Rian berkata sambil melihat ke arah kerumunan orang yang sedih dengan berpulangnya sang bos.
“Siapa,tuh?” tanya Pak Tono tiba-tiba, seraya menunjuk seorang pria yang sibuk mengatur upacara.
“Anak angkat si bos. Orangnya baik, sebaik bapaknya,” puji Rian, dan kini menatap remaja yang sedari tadi ikut dalam pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Sudah jarang lo, saya bertemu dengan anak muda seperti Haris, anaknya Pak Bos. Beliau itu baik, penurut, pintar cari uang pula. Memang si Bos jago melihat bibit yang bagus. Kamu juga ya, harus jadi anak muda yang baik seperti Haris. Omong-omong, nama kamu siapa?”
“Nama saya Haris juga, Kak,” jawab anak muda itu dan membuat mereka semua terkejut.
“Kok kebetulan sekali, ya? Tapi, kamu memang kelihatan baik,kok.” Pak Tono memuji sambil tersenyum ke arah Haris.
“Mumpung masih muda, harus belajar dan bekerja keras, tapi harus jaga kesehatan juga. Jangan sampai nasib kamu seperti Dedi.” Pak Tono kini menunjuk ke arah yang cukup jauh jadi, sudah pasti kuburannya berada jauh dari lokasi mereka duduk.
“Kasihan dia. Masih muda sudah meninggal karena sakit. Saya sedih sekali saat penguburannya. Mamanya sampai pingsan karena terlalu sedih,” kata Pak Tono muram, namun kemudian terkejut saat melihat lubang penggaliannya yang belum selesai.
“Saya harus kembali bekerja. Ada yang berminat membantu?” tanyanya sambil tersenyum nakal. Rian langsung menggelengkan kepala, dan segera bangkit berdiri untuk pamit sehingga membuat semuanya tertawa.
Rian kemudian bergabung dengan rombongan pelayat lainnya. Di saat yang sama, Haris pun pamit dan berkata penuh hormat,
“Pak, saya pergi dulu,ya. Terima kasih atas ceritanya. Semua pesan bapak akan senantiasa saya ingat.” Haris pun pergi meninggalkan Pak Tono, Cindy dan Tama.
Tak lama kemudian, sepasang suami istri yang tampak sangat sedih datang mendekati mereka.
“Sudahlah,Ma. Haris sudah pergi selama-lamanya. Kita harus merelakannya,” kata sang suami sambil menahan tangis, dan membuat Pak Tono terkesima. Hari ini terasa ajaib, karena sudah terdapat tiga sosok Haris yang berhubungan dengan tempat kerjanya itu.
“Yang tabah ya, Bu. Saya tahu rasanya memang sakit, tapi kita harus merelakannya. Kita hanya perlu ingat bahwa mereka yang meninggalkan kita tetap hidup di hati kita,” hibur Pak Tono. Cindy dan Tama jadi ikut sedih.
“Terima kasih, Pak. Kami memang sangat sedih. Usia saya dan istri terpaut cukup jauh jadi, Haris adalah harta kami yang…kini meninggalkan kami.” Kini, si suami sudah tak mampu menahan tangis.
“Usia kami yang terpaut 20 tahun dan kondisi kesehatan saya yang kurang baik membawa kami dalam pergumulan yang panjang karena tak mampu memiliki anak. Sayang sekali, saat kami memiliki Haris, di usianya yang masih sangat muda, dia sudah pergi meninggalkan kami,” jelas sang suami yang kini terisak.
“Beda 20 tahun?” tanya Tama gugup. Pak Tono yang mendengar pertanyaan Tama, langsung menatap lubang yang dari tadi digalinya dengan raut wajah ketakutan.
Cindy dan Tama tak kalah pucat dengan informasi yang baru mereka terima itu. Keheningan itu tiba-tiba pecah dengan suara panggilan handphone Tama yang berasal dari mamanya.
Hayoo, kenapa tiba-tiba Bu Riyanti menelepon Tama?
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤