
“Dhita?” Tama kaget dengan kemunculan sosok yang dulu meninggalkannya. Dhita mengangguk. Wanita yang sehari-harinya hidup sebagai sosialita itu tersenyum ramah ke arah Tama dan Cindy.
“Tugas kamu sudah selesai. Kamu bisa pulang sekarang.” Dhita menatap Cindy dan mengatakan hal itu sembari tersenyum. Tak ada nada canggung sama sekali dalam perkataannya.
“Maksudnya? Tugas apa?” Cindy bertanya dengan bingung, lalu menarik lengan jas Tama untuk meminta penjelasan.
“Aku bukan wanita bodoh. Aku tahu apa yang kamu rencanakan. Kamu berhasil, Tam.” Dhita mengangkat handphone lalu melakukan panggilan. Setelah panggilannya diterima, Dhita langsung menyerahkannya ke Tama.
Tama yang masih shock, mengambil handphone Dhita dan mendengar suara papanya. “Tama, kamu memang hebat. Papa masih belum puas ngejekin mama gara-gara dia bilang kamu nggak bakalan mampu merebut Dhita kembali. Apa yang papa bilang benar, kan? Sekarang, tinggalkan pacar kamu dan kembali dengan Dhita.”
Tama hanya terdiam mendengar instruksi Pak Vincent, papanya. Pikirannya ramai dengan berbagai hal yang muncul gara-gara kemunculan Dhita. Di satu sisi, dia bisa membuat orang tuanya bangga dan bahagia bila dia kembali bersama Dhita.
Di sisi lain, apabila Tama melepas Cindy dan melanjutkan hubungan dengan Dhita, dirinya akan kehilangan satu-satunya wanita yang paling dia cintai. Kini, apa dia harus memilih antara orang tuanya dan Cindy?
Sementara Tama berperang dengan pikiran-pikirannya dan sibuk dengan panggilan dari sang ayah, Dhita mendekati Cindy.
“Singkatnya gini, Tama ngedeketin kamu cuma untuk bikin aku cemburu dan balik sama dia. Romantis, bukan? Aku mutusin kembali, dan ini saatnya kamu pergi.”
Cindy segera menarik Tama dan bertanya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. “Bener itu, Kas? Kamu nggak pernah suka sama aku? Selama ini, kamu hanya manfaatin aku?”
Dhita menarik tangan Cindy agar terlepas dari lengan Tama. “Kamu terima aja. Kita harus fair. Kamu sendiri sadar kan, kalau wanita seperti kamu nggak cocok dengan pria seperti Tama. Tama itu cocoknya sama aku.” Dhita menghela napas sembari melihat Cindy dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
“Atau, aku ngeremehin kamu dan mengira kalo kamu polos? Baik, aku bisa ganti rugi. Aku akan transfer berapapun uang yang sudah kamu keluarkan selama pacaran dengan Tama, dan sekalian bonus. Gimana? Sudah puas?” Dhita tersenyum penuh kemenangan.
Selama hidupnya, Dhita selalu menang, terutama dalam hal asmara, apalagi jika lawannya hanya seperti Cindy.
“Cindy?” sebuah suara yang familiar memanggil Cindy. Ferdinand muncul dengan wajah heran. “Kenapa kalian bertiga berdiri di sini?”
Dhita terkekeh saat melihat Ferdinand. “Oh, kamu kenal wanita ini? Hm, hebat juga ya kamu, bisa merayu dua pria kaya dalam waktu yang sama."
Ferdinand yang mendengar itu langsung marah. “Dhita! Jangan sembarangan! Cindy bukan wanita seperti itu!”
Cindy mengabaikan pertengkaran Ferdinand dan Dhita. Saat ini, yang dia butuhkan hanya penjelasan Tama. Sayang, Tama hanya diam dan menatapnya seperti orang bodoh. Tama benar-benar seperti anak hilang.
“Apa itu benar, Kas?” Cindy benar-benar tak ingin mendengar jawabannya, tapi dia harus kuat. Walaupun jawaban Tama akan menyakitinya setengah mati, dia harus tahu kebenarannya.
“Jawab sekarang juga. Aku ingin tahu, apa benar selama ini kamu bersama aku hanya untuk kembali bersama wanita itu?” Cindy mengusap air mata yang kini mengalir di pipi. Tama menggelengkan kepala, tapi tak mampu bicara.
“Kamu nggak perlu jawab. Aku mengerti. Aku bukan apa-apa dalam hidup kamu yang mewah. Seharusnya aku sadar kalau semua yang kamu katakan selama ini bohong. Harusnya aku sadar kalau aku nggak pantas bersanding dengan pria seperti kamu.” Cindy berkata pelan, tetapi menusuk.
Pacar Tama itu lalu berjalan menjauh. Ferdinand langsung berlari mengejar, sementara Tama hanya berdiri membeku. Dhita yang melihat itu semua, tersenyum puas dan merangkul Tama.
“Itulah resikonya kalau bermain-main dengan wanita kelas bawah, Tam. Jangan khawatir, dia akan pulih dan menemukan pria yang selevel dengannya.” Tama yang mendengar itu langsung marah.
__ADS_1
“Cindy adalah wanita baik-baik dan berhak mendapat pria manapun yang dia cintai dan mencintainya.” Tama melepas rangkulan Dhita.
“Kamu marah? aku akui, aku sedikit kasar tadi. Lain kali, aku akan bersikap lebih baik. Okay?” pertanyaan Dhita tak ditanggapi oleh Tama. Dirinya hanya berbalik untuk berjalan ke mobilnya.
“Aku pulang duluan karena nggak enak badan. Kamu masuk saja.” Dhita terkekeh saat menatap Tama yang berjalan menjauhinya.
“Menarik. Akhirnya, si manusia kulkas itu punya sisi yang menarik juga. Syukurlah, aku nggak akan bosan saat bersamanya lagi.” Dhita lalu memasuki lokasi acara, seolah tak terjadi apa-apa.
Di mobil Ferdinand, Cindy menangis sejadi-jadinya. Selama hidupnya, ini adalah luka yang paling sakit dan paling mempermalukan dirinya.
Jatuh cinta pada Tama adalah kesalahan terbesar dalam hidup Cindy. Tama seolah monster yang membenarkan segala perkataan teman-teman sekelasnya dulu.
Tama adalah monster berkedok pangeran, yang membuatnya bahagia, lalu menjatuhkannya saat berada di puncak. Dari awal, harusnya dia lebih tahu diri untuk tak memiliki rasa pada pria seperti Tama.
Tak lama kemudian, Ferdinand dan Cindy sampai di rumah Cindy. Ferdinand cukup paham dengan keadaan Cindy, sehingga tak bertanya apa-apa.
Kakak Dhita itu hanya diam sepanjang perjalanan. Walaupun begitu, Ferdinand tak mungkin diam saja saat Pak Surya tiba-tiba muncul di teras untuk menunggu mereka berdua keluar mobil.
“Cin, Kita harus bilang apa ke ayah kamu?” tanya Ferdinand dengan gugup.
Apa yang kira-kira mereka katakan ke Pak Surya setelah perjalanan pulang Cindy yang penuh tangisan? Yuk, ditebak di komentar
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤