
Tama kesal melihat notifikasi yang menunjukkan profil Ferdinand. “Aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan Ferdinand,” kata Tama tegas, lalu menyambung, “Dia bukan pria baik-baik. Dia pasti punya agenda tersembunyi.”
“Agenda tersembunyi? Seperti pura-pura sakit supaya punya alasan meluk?” goda Cindy. Tama cemberut mendengarnya.
“Jangan samakan aku dengan dia.” Cindy tertawa kecil mendengar sanggahan Tama. Pacar kulkasnya itu kembali memakai nada merajuk yang menggemaskan.
“Jadi, kamu beneran pura-pura sakit?” Cindy masih ingin menggoda si kulkas.
“Aku sudah hampir mati, Heat. Apa tadi dokter Bayu ngga menjelaskan betapa parahnya kondisi aku?” Cindy menghela napas mendengar ke-lebay-an Tama. Dirinya pun tak mengungkit Ferdinand lagi, dan membiarkan Tama memeluknya dalam diam.
“Kamu harum.” Tama menghirup aroma tubuh Cindy lewat lehernya. Bulu kuduk Cindy berdiri dengan pergerakan halus Tama. Cindy bingung harus berkata apa, tapi tiba-tiba teringat sesuatu, “Kamu…jangan marah ya, kalau dengar permintaan ke-17 aku.”
“Aku sudah akan mati. Aku nggak akan marah sama apapun yang kamu bilang, Heat.” Tama berbisik lembut di telinga Cindy.
“Baguslah kalau begitu. Aku ingin kita double date dengan Nathan.” Cindy berkata dengan pelan, tapi langsung ditanggapi dengan suara kesal Tama yang memuncak.
“Aku nggak mau, Heat. Kamu tahu kan, aku nggak suka sama Nathan.” Tama menjauhkan diri dari Cindy. Dalam hatinya, Cindy menyesal karena perkataannya memotong masa berpelukan mereka.
“Katanya tadi nggak akan marah.” Cindy pura-pura merajuk. Posisi mereka berdua masih dalam keadaan wajah Tama menghadap punggung Cindy. Pacar si kulkas itu masih takut melihat langsung wajah Tama, karena permintaannya memang sedikit beresiko.
__ADS_1
“Aku nggak mau. Lagian, sejak kapan kamu dekat sama Nathan? Kok aku nggak tahu?” Tama melipat tangan dan memoyongkan mulut seperti anak kecil.
Cindy akhirnya berbalik menghadap si kulkas dan berkata, “Ini penting bagi Nathan, Kas. Dia butuh alasan untuk keluar dengan gadis yang dia suka. Aku pengen bantu dia.” Tama tak menunjukkan ekspresi apapun saat mendengar penjelasan Cindy, tapi langsung melotot saat mendengar sambungannya,
“Kalau kamu nggak mau, aku pergi sama Ferdinand aja.” Tama langsung menggaruk kepalanya dengan kesal saat mendengar Cindy menyebut nama Ferdinand.
“Ferdinand lagi. Ferdinand lagi. Kamu jelas tahu siapa-siapa saja yang aku nggak suka, tapi selalu saja libatin mereka dalam hidup kita. Kamu mau aku mati karena stress?” Ferdinand baru saja akan melanjutkan keluhannya, tapi terhenti karena Cindy menangkup dua pipinya.
“Maaf, Kas. Aku nggak akan nyebut nama Ferdinand lagi. Kamu jangan marah, ya? Aku nggak mau kamu mati.” Cindy menggoyang pipi Tama dengan gemas. “Kalau kamu mau ngabulin permintaan aku, aku izinin kamu meluk aku sepanjang hari. Gimana?”
“Aku mau kita pelukannya sambil tidur. Bisa, kan? Kaki aku capek kalau harus pelukan sambil duduk.” Tama memohon dengan wajah imutnya. Cindy tertawa dan mengangguk.
***
Setelah sembuh, Tama kembali ke mode kulkas. Saat ini, Cindy dan Tama sedang duduk berhadapan dengan Nathan dan Lia.
__ADS_1
Nathan pernah curhat ke Cindy kalau Lia adalah teman baiknya sejak kecil. Adik Tama itu sudah lama suka dengan Lia, tapi tak berani mengungkapkan. Karenanya, ajakan main keluar membuat hati Nathan riang gembira. Apalagi, kakak kulkas kesayangannya juga ada.
“Kalian sudah lama kenal?” tanya Cindy pura-pura tak tahu.
“Iya, Kak. Kita kenal sejak kecil,” jawab Lia dengan senyum terbaik. Teman Nathan itu berbadan mungil dan berambut panjang. Gadis itu bermata bulat dan punya lesung pipi yang muncul setiap dirinya tersenyum. Tak heran kalau Nathan menyukainya.
“Ini milkshake yang dipesan tadi, ya. Silahkan menikmati,” ujar si waitress ramah. Cindy langsung menarik gelas milkshake sementara Tama sibuk membuka plastik pembungkus dari sedotan.
“Kenapa cuma buka satu?” tanya Cindy heran. Tama lebih heran lagi saat mendengar pertanyaan Cindy.
“Kan, gelasnya cuma satu. “ Tama meletakkan sedotan di dalam gelas.
“Tapi, pesanan kita sama.” Cindy tetap gigih dengan kemauannya. Tama mulai kesal dengan pertanyaan Cindy, apalagi hari ini juga mereka pergi ke restoran pilihan Cindy. Tama tak tahu makanan dan minuman terbaik di restoran itu, jadi memesan menu yang sama dengan Cindy.
Cindy membuka plastik dari satu sedotan lagi, dan menaruhnya dalam gelas milkshake. Dirinya mendekatkan diri ke Tama dan berbisik, “Permintaan ke-18, minum dari gelas yang sama”.
Tama cemberut, dan dengan berat hati mengiakan. Nathan tersenyum melihat mereka berdua, lalu melihat Lia. Dalam hatinya, Nathan berharap, suatu hari, dia dan Lia bisa seperti kakaknya dan Cindy.
Cindy yang melihat Nathan tiba-tiba memiliki ide agar remaja tersebut punya waktu lebih dengan gadis yang disukai. Kini, dia tahu apa permintaan ke-19nya.
__ADS_1
Kira-kira, apa permintaan ke-19 Cindy? Yuk ditebak di komentar
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share untuk mendukung author ya ❤