
“Bilang saja ada masalah di pesta, jadi langsung pulang. Kalo ngga ditanya, nggak usah dijawab aja.” Cindy sibuk mengusap sisa air mata, dan berusaha supaya matanya tak terlihat terlalu bengkak.
“Nggak mungkin nggak ditanya, Cin. Itu ayah kamu sudah standby in action nunggu kamu keluar mobil.” Cindy mengangguk setuju.
“Ferdinand, makasih ya, untuk malam ini. Makasih karena biarin aku nangis dalam tenang. Makasih karena nggak menghakimi aku. Kamu nggak perlu sebaik ini sama aku, apalagi aku punya masalah dengan adik kamu.” Pacar mungil Tama itu menghela napas. Nama “Dhita” membuatnya mengingat kembali kejadian tadi.
“Aku suka kok, baik sama kamu. Kamu penting buat aku. Soal Dhita, aku minta maaf. Dia memang dimanja berlebihan sejak kecil, tapi tenang aja, aku nggak seperti dia.” Ferdinand menatap sebentar ke arah Pak Surya yang masih sabar menunggu, lalu melanjutkan, “Untuk selanjutnya, kamu bisa panggil aku Ferdi, nggak?”
"Bisa saja, tapi aku nggak mau beri harapan kosong ke kamu. Lagian, aku baru saja...” Perkataan Cindy buru-buru dipotong oleh Ferdinand.
“Aku ngerti. Aku nggak akan maksa. Kamu bisa tetap panggil aku Ferdinand, asal tolong izinin aku ada di samping kamu saat ini. Boleh?” Cindy terlalu lelah untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Tama, tapi akhirnya mengangguk. Mereka berdua lalu keluar dari mobil, dan mengucapkan salam ke Pak Surya.
“Kok pulangnya cepat, Cin? Kenapa pulangnya sama Nak Ferdinand?” Pak Surya langsung bertanya saat Cindy melewatinya. Sang ibu sedang duduk sembari mengamati
“Ada sedikit masalah, Yah. Aku capek banget. Aku izin ke kamar, ya?” Cindy berkata dengan sopan, lalu berjalan masuk ke kamar. Ferdinand yang takut ditanya, langsung bergegas minta izin untuk pulang.
Pak Surya berjalan masuk dengan lesu. Ini hal yang hampir sama ketika Cindy dulu dibully teman-temannya. Ayah Cindy itu selalu kecewa dengan dirinya, karena tak mampu memposisikan diri sebagai tempat bicara sang anak.
Dia mengutuk dirinya yang terlalu sibuk dengan kegagalan bisnis, sampai menjadi ayah yang gagal. Saat ini, dia adalah ketua Persatuan Pedagang Palugada, dan pedagang dengan penjualan yang cukup baik. Sayang, semua tak ada gunanya jika dia tak bisa membahagiakan sang anak semata wayang.
Pak Surya bahkan rela memberikan semua yang dia punya, untuk kembali ke masa Cindy dibully, dan duduk di samping anaknya sembari berbagi penderitaan.
Masa lalu memang tak bisa berubah. Karenanya, ayah Cindy itu bertekad mengubah masa depan dengan "memaksa" dekat saat Cindy ada masalah. Sayang, hal itu masih tak mampu dilakukannya karena takut kehilangan sang anak.
Cindy tak hanya tertutup pada Pak Surya, karena Bu Anita juga mendapat perlakuan yang sama. Pasangan itu benar-benar mengalami masa sulit setelah kebangkrutan Pak Surya, sampai kelabakan untuk meminta Cindy bicara lagi saat mengalami masalah.
__ADS_1
Mereka ingin bertanya pada Tama dan Ferdinand, tapi khawatir kalau itu langkah yang salah dan membuat Cindy semakin tertutup. Pak Surya dan Bu Anita ingin Cindy terbuka pada mereka perlahan-lahan, tapi sampai saat ini, belum membuahkan hasil yang baik.
***
Sesuai permintaan papanya, Tama pulang ke rumah. Saat sampai, papanya melihat dengan senyum bangga. “Anak papa sudah pulang. Kamu memang hebat, Nak. Tahu mana yang harus diprioritaskan.”
Perkataan Pak Vincent tiba-tiba berhenti karena sadar kalau Tama pulang terlalu cepat.
“Kenapa pulang cepat, Tam? Nggak sama Dhita?” Tama menggeleng sebagai jawaban pertanyaan Pak Vincent.
“Tama, jangan hanya menggeleng. Itu nggak sopan. Jawab pertanyaan papa kamu.” Bu Riyanti yang dari tadi duduk, menegur Tama.
“Nggak, Pa, Ma. Tama pulang lebih dulu karena nggak enak badan. Tama minta izin masuk kamar, ya.” Pria kulkas itu lalu berjalan lesu ke kamar.
Bu Riyanti berdiri dan mau menghentikan Tama, tapi tangannya langsung ditarik Pak Vincent. “Nggak usah, Ma. Tama sudah bilang dia capek. Lagian, dia juga sudah kembali bersama dengan Dhita.” Bu Rianti mengangguk patuh.
Pria kulkas itu merasa kalau Cindy tak akan memaafkannya. Kini, apakah dia akan melanjutkan hidup dengan Dhita seperti robot? Apakah harus sesulit ini hanya untuk mendapat kasih sayang dan kebanggan orang tua?
***
Saat pagi datang, Tama berjalan lesu ke meja makan. Walau sedih dan patah hati, Tama tak sudah dibiasakan harus ikut makan pagi bersama. Di sana, sudah ada ada Pak Vincent, Bu Riyanti, Nathan, dan Dhita.
Nathan melihat Tama dengan khawatir. Adik Tama itu tahu benar kalau kakaknya sangat mencintai Cindy, dan berita di pagi hari bahwa Tama dan Dhita kini kembali bersama membuat sang adik kaget setengah mati.
Walaupun begitu, Nathan tak berani berkata apa-apa di meja makan. Dirinya takut kehilangan kasih sayang papa dan mamanya kalau menentang kebersamaan Tama dan Dhita.
__ADS_1
“Tama, kamu sudah bangun? Calon istri kamu ini sudah datang sejak pagi untuk membantu menyiapkan sarapan.” Pak Vincent berkata dengan semangat.
Kemarin malam, ayah Tama itu tertidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya sejak ada masalah dalam bisnis mereka
Satu-satunya penyelamat Pak Vincent adalah bantuan keluarga Dhita. Kembalinya Tama dan Dhita akan membantunya memperluas bisnis dan memberikan pelajaran pada pihak yang menolak membantu untuk mengekspor produk.
Tama hanya menatap semuanya dengan lesu, lalu duduk. Dhita melihatnya dengan tersenyum. “Kamu sakit, Tam? Ini aku buatin sup ayam untuk kamu.” Dhita menyiapkan sup dalam mangkuk, lalu memberikannya pada Tama.
“Makasih.” Tama berkata singkat. Dirinya kembali teringat pada wanita yang baru disakitinya, yang tahu jelas kalau dirinya suka sup ikan, bukan sup ayam. Wanita itu juga pasti akan memeluknya kalau dia berada dalam masalah.
“Papa senang sekali karena Tama dan Dhita sudah kembali bersama. Kini, keluarga kita lengkap sudah. Bisnis pun menjadi tambah kuat karena penerus-penerus hebat akan bersatu dalam ikatan pernikahan.” Pak Vincent berkata dengan bahagia, sementara Bu Riyanti mengangguk sebagai tanda setuju dengan perkataan sang suami.
“Dhita juga senang, Om.” Dhita berkata malu-malu. Dirinya senang karena berhasil merebut kembali Tama yang sebelumnya digoda wanita kelas bawah.
Bersama dengan Tama sebenarnya cukup menguntungkan. Dia jadi bisa punya suami ganteng, membahagiakan orang tua, dan tetap hidup foya-foya seperti sebelumnya.
“Jangan panggil Om dong, Dhita. Panggil papa saja.” Pak Vincent tertawa, yang juga disusul sang istri.
Melihat Tama yang tanpa ekspresi, Pak Vincent melanjutkan “Maaf ya, Dhita. Anak Om memang sedikit pendiam, tapi seiring berjalannya waktu, dia pasti akan jadi pasangan yang romantis. Buktinya, waktu SD, dia sampai dijuluki bocah gatel gara-gara hobi ngejar anak orang."
Perkataan Pak Vincent membuat Tama berhenti makan. Si kulkas merasa julukan “Bocah Gatel” agak familiar. Dia sudah lupa tepatnya bagaimana, tapi dia ingat kalau pernah dimarahi seseorang dan dipanggil nama itu gara-gara tak bisa lepas dari si anak.
Semua tertawa dengan lelucon itu, sampai-sampai Bu Riyanti melanjutkan lelucon lebih jauh. “Saya agak lupa namanya, tapi waktu itu saya marah sekali sama ayah si cewek. Berani-beraninya dia kasih nama begitu ke anak saya yang terhormat. Namanya kalau nggak salah….”
Hayoo, apa ingatan Bu Riyanti benar? Yuk ditebak di kolom komentar
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, subscribe dan share biar author semangat upload ya. Terima kasih ❤