
Angin berhembus begitu kencang, Barrow pun memundurkan duduknya. Makam yang meledak benar-benar membuat terkejut, asap tebal bahkan muncul dari dalam makam tersebut. Anna menarik tangan Barrow, mengajaknya untuk semakin mundur dan menjauhi makam.
Mereka berdua mundur dengan perlahan. Barrow menelan ludah, tatapan mata tidak lepas dari asap tebal yang semakin banyak. Bayangan akan hantu menakutkan yang muncul dari asap tebal itu memenuhi pikiran. Barrow bahkan mundur ke belakang Anna, semoga yang muncul bukan hantu dengan wajah mengerikan.
Asap tebal itu mulai memudar, sosok seorang wanita yang sedang membawa payung terlihat. Tidak diragukan lagi, itu adalah arwah di payung merah tapi sosoknya tidak mengerikan seperti yang biasanya dia tunjukkan. Robekan di wajahnya sudah tidak terlihat,.Natalie bahkan terlihat begitu cantik. Hanya satu yang tidak berbeda, payung merah yang selalu dia bawa.
"Apa? Apa aku sudah bebas?" arwahnya tampak tidak percaya.
"Benar, Natalie. Aku sudah membebaskan dirimu," ucap Anna.
"Kau?" Natalie melihat ke arah Anna lalu melihat payung yang menyegel jiwanya selama ini agar tunduk pada Mariana sudah hampir babis terbakar.
"Aku bebas," ucap Natalie. Arwahnya melayang ke atas, suara teriakannya pun terdengar, "Aku bebas, aku sudah bebas!"
Natalie sangat senang, dia terbang memutari daerah itu untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Mulai sekarang tidak ada yang bisa mengendalikan dirinya lagi.
"Apa dia adalah arwah yang selalu berbuat ulah itu?" tanya Barrow.
"Yeah, tapi apa yang dia lakukan atas perintah arwah Mariana. Dia hanya pion yang bertugas mengumpulkan jiwa untuk Mariana."
"Wow, arwah yang malang!"
Natalie masih juga terbang namun tidak lama, dia kembali ke makamnya. Entah bagaimana Anna Baker bisa menemukan payung terkutuk itu dan membebaskan dirinya tapi dia harus berterima kasih pada agen itu.
"Terima kasih, aku tidak tahu bagaimana kau menemukan keberadaan payung itu tapi aku sangat berterima kasih padamu," ucap Natalie.
"Tidak masalah, Natalie. Katakan padaku apa yang telah terjadi padamu?"
__ADS_1
"Aku begitu bodoh sudah terperdaya oleh pria tua sialan itu!" api kebencian terlihat dari sorot matanya.
"Kalian berdua memang bodoh, begitu mudahnya jatuh pada pelukan pria tua yang sok tampan itu padahal pria tampan sudah ada di depan mata kalian!" cibir Barrow.
"Yang tua lebih menggoda, Barrow!" ucap Anna.
"Sial, aku tidak percaya bisa kalah pada pria tua bangka yang menang rupa itu!" gerutu Barrow.
Anna hanya menggeleng tapi dia ingin tahu apa yang terjadi pada Natalie, dia juga ingin mengajak Natalie bekerja sama.
"Katakan, apa yang mereka lakukan sehingga kau dibunuh dan jiwamu disegel tidak seperti jiwa yang lainnya?"
"Aku seperti dirimu, Anna. Aku juga dilahirkan di dalam keluarga yang bisa mengusir iblis. Saat Nick mendekati aku, aku tahu ada yang salah tapi dia memperdaya aku. Sebelum aku dibunuh, aku hendak pulang tapi beberapa pengikutnya menangkap aku. Aku di bunuh di hutan ini, jiwaku ditangkap oleh Mariana dan dimasukkan ke dalam payung yang dia kutuk. Sebelum aku mati, mereka memperlakukan aku dengan keji, mulutku di gunting oleh Nick karena aku berteriak dan memaki dirinya. Aku dikubur dalam keadaan tidak utuh, lalu makam ini diberi mantera sehingga jiwaku terikat dengan Mariana dan hanya bisa menjalankan perintahnya saja. Aku berusaha memberontak dan melawan namun tidak bisa tapi saat melihat kemampuan yang kau miliki, aku tahu kau bisa menghentikan semuanya."
"Pria tua yang sangat keji!" ucap Barrow.
"Dia memang tidak sebaik yang terlihat, rupanya bagaikan malaikat tapi sesungguhnya dia adalah iblis. Aku berusaha memperingati dirimu saat di pantai, aku harap kau tidak terperdaya seperti aku tapi sebelum aku mengatakan kebenarannya, Mariana mengetahui apa yang hendak aku lakukan. Jiwaku dibelenggu olehnya, sehingga aku tidak berdaya. Ketahuilah, sesungguhnya kotak terkutuk itu memang sengaja agar kalian temukan karena kotak itu yang akan mengambil peran ku untuk mengambil sisa korban yang seharusnya aku kumpulkan karena waktu yang sudah tidak banyak. Kau dipancing ke rumah tua itu agar kau bisa mendapatkan kotak itu."
"Kotak berharga seperti itu, apa kau kira Mariana akan menaruhnya di sembarang tempat? Kalian diperdaya, kotak itu sengaja diberikan pada kalian agar kotak itu bisa melakukan perannya."
Anna dan Barrow saling pandang, apakah benar? Tapi tidak ada yang mustahil apalagi setelah kotak itu mengambil tumbal, kotak itu pun menghilang dan kembali pada Mariana. Jika demikian, bukankah selama ini mereka hanya dibuat sibuk saja oleh Mariana demi tujuannya? Sungguh penyihir jahat yang cerdik.
"Baiklah, kita benar-benar bodoh terpedaya olehnya. Sekarang aku sudah membebaskan dirimu, Natalie. Aku harap kau mau bekerja sama denganku," pinta Anna karena memang inilah tujuannya.
"Apa yang kau inginkan, Anna?"
"Tetaplah berpura-pura kau masih berada di bawah belenggu Mariana, kembalilah ke tempatmu sebelum aku membebaskan dirimu. Cari tahu di mana ritual itu akan dilaksanakan lalu beritahu aku. Aku harus memiliki mata-mata yang bisa memberikan aku informasi oleh sebab itu aku butuh bantuanmu."
__ADS_1
"Itu perkara mudah, kau sudah membebaskan aku maka aku akan bekerja sama denganmu. Lagi pula aku ingin membalas dendam pada pria tua yang sudah menjebak dan membunuh aku!"
"Terima kasih, sekarang berpura-puralah tidak terjadi apa pun malam ini!" Pinta Anna.
Natalie mengangguk, arwahnya mulai menipis. Dia akan kembali dan berpura-pura masih berada di bawah belenggu Mariana untuk mengelabui penyihir jahat itu.
Anna mengajak Barrow membereskan tempat itu sebelum mereka pergi. Tujuan mereka sudah tercapai walau mereka tidak tahu makam siapa yang ada di sana tapi mereka menebak jika semua itu adalah makam korban dan memang demikian. Semua makam yang ada adalah makam korban yang tidak ditemukan oleh pihak berwajib.
"Sekarang, apa yang akan kita lakukan, Anna?" tanya Barrow.
"Pulang, istirahat. Kita harus memiliki tenaga ekstra untuk menghadapi Mariana. Apa kau tidak mau pulang dan mau menginap di sini?"
"Oh, tidak. Aku justru sudah tidak sabar untuk segera pergi dari sini!" ransel diambil, Barrow sudah tidak sabar untuk pergi.
"Setelah kita tiba di rumah, aku akan menyiapkan kolam susu untuk kita berendam berdua," goda Barrow.
"Sebaiknya tidak berpikir mesum di makam, ketahuilah para arwah penasaran akan mengikuti dirimu sampai di rumah," Anna mulai menakuti.
"Ada dirimu, aku tidak takut!" ucap Barrow.
"Yeah, dan hantu itu akan menyamar jadi aku lalu masuk ke dalam kamarmu untuk tidur denganmu!"
"Jangan asal bicara, Anna!" Barrow mengusap tengkuk, merinding.
"Semoga tidak ada yang mendatangimu menyerupai aku, Barrow," Anna semakin sengaja.
"Sial, aku tidak takut!"
__ADS_1
"Let's go!" ajak Anna karena mereka sudah harus pergi.
Mereka melihat makam itu sejenak sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Satu misi selesai, tinggal menanti malam bulan purnama untuk menghentikan kebangkitan Mariana tapi sebelum itu, mereka butuh istirahat sebelum melakukan pertarungan yang sesungguhnya.