
Anna semakin melangkah mundur, senter diturunkan lalu Anna menukar senjata apinya dengan senjata bius yang sudah dia siapkan. Dia sudah berjaga-jaga akan hal ini, oleh sebab itu dia membawa senjata bius yang dapat membuat seekor gajah akan langsung jatuh pingsan setelah terkena senjata bius itu. Senjata itu tentu dia ambil di rumahnya yang sudah diobrak abrik oleh Barrow.
Dia sudah memperhitungkan semuanya. Mariana pasti menggunakan Barrow untuk mencegat langkahnya karena roh neneknya sudah memberi peringatan apa lagi Barrow mengobrak-abrik isi rumah neneknya oleh sebab itu Anna menyiapkan sebuah senjata bius karena dia tidak mungkin membunuh Barrow apalagi dia tahu Barrow sedang diperdaya. Sekalipun dia harus melawan Barrow, dia pasti bisa membawa rekannya itu kembali.
Tatapan Barrow kosong, pandangannya seperti tertutup sehingga dia tidak mengenali Anna. Pengaruh Mariana begitu kuat sehingga membuatnya seperti itu apalagi sejak awal Barrow tidak memiliki pertahanan diri.
"Barrow, apa itu kau atau bukan?" tanya Anna.
"Mati!" hanya itu kata yang diucapkan oleh Barrow lalu senjata otomatis yang ada di tangan langsung aktif dan menghujani Anna dengan timah panas.
"Sadarlah, Barrow. Kau sedang diperdaya!" teriak Anna sambil berlari menghindari peluru-peluru dari senjata otomatis yang di tembakan oleh Barrow.
Peluru-Peluru itu menghancurkan apa saja. Pohon-Pohon kecil, semak belukar bahkan beberapa pohon besar tidak luput dari peluru dari senjata otomatis tersebut. Anna masih berlari mencari tempat berlindung. Barrow tidak juga berhenti menghujani Anna dengan timah panas.
"Sadarlah, Barrow!" Anna melompat ke balik sebuah pohon besar untuk bersembunyi. Dia harus mencari kesempatan untuk menembakkan sejata biusnya ke tubuh Barrow.
Senjata otomatis Barrow tidak berhenti, kini pemuda itu melangkah mendekati persembunyian Anna. Suara ranting yeng terinjak membuat Anna waspada, hutan yang gelap tidak menguntungkan dirinya tapi hutan yang gelap bukanlah kendala berarti bagi Barrow yang sedang berada di dalam pengaruh Mariana.
"Hentikan, Barrow. Sadarlah, aku tahu kau tidak menginginkan hal ini!" teriak Anna lagi. Sebisa mungkin dia akan menyadarkan Barrow agar dia bisa menembakkan senjata bius itu.
"Ayolah, Barrow. Aku tahu kau pasti mendengar suaraku jadi sadarlah," Anna mencoba mengintip tapi Barrow kembali menembak.
Anna mengumpat, ternyata tidak mudah melepaskan Barrow dalam kendali Mariana. Barrow kembali melangkah mendekati Anna, dia harus membunuh siapa saja yang mendekati rumah itu karena tidak ada yang boleh mendatangi rumah tua tersebut di saat kebangkitannnya yang tinggal sebentar lagi.
__ADS_1
Mariana juga tidak bisa melihat Anna karena jimat yang digunakan oleh Anna benar-benar menyamarkan keberadaannya namun dia tahu ada seorang wanita yang menyusup ke tempatnya.
"Sadarlah, Barrow. Please, kau pasti bisa mendengar aku, bukan? Aku merindukan dirimu, Barrow. Jadi kembalilah padaku!" pinta Anna memohon.
Di alam bawa sadarnya, Barrow mendengar suara Anna tapi samar karena seperti ada yang menghalangi pendengarannya.
"Barrow, sadarlah!" teriakan Anna kembali terdengar.
"Siapa, siapa yang memanggilku?" tanya Barrow, dia seperti sedang mencari.
"Bunuh dia, Barrow!" terdengar perintah Mariana.
"Barrow!" Anna berteriak begitu keras.
Barrow terus mencari, Anna. Dia yakin suara yang dia dengar adalah suara Anna. Anna terdengar seperti memohon dan menangis. Rasanya ingin meminta Anna untuk pergi tapi jika dia melakukannya maka Mariana akan melukai Anna.
Barrow yang tidak berdaya, kembali melangkah. Suara langkah kaki yang semakin dekat terdengar, Anna melangkah mundur mengitari pohon besar yang menjadi tempatnya berlindung.
Barrow semakin mendekat dan begitu tiba di balik pohon senjata api Barrow langsung aktif dan menembak tapi beruntungnya Anna sudah bersembunyi di balik sisi pohon yang lain.
Barrow yang begitu sigap dari pada biasanya lebih sulit dia hadapi karena Barrow yang saat ini sangatlah berbeda.
Barrow mencari keberadaan Anna, sesuai dengan perintah Mariana. Anna sedang berusaha bersembunyi. Dia harus membuat Barrow menganggapnya sudah pergi dari tempat itu. Anna masuk ke dalam semak-semak dengan perlahan, dia melakukannya dengan sehati-hati mungkin namun Mariana yang marah karena ada orang yang mendekati rumah tersebut justru memerintahkan Barrow untuk menghancurkan apa saja yang ada sehingga Anna tidak bisa bergerak sama sekali.
__ADS_1
"Sadarlah, Barrow. Kau sedang diperbudak oleh Mariana," ucap Anna peelan. Dia benar-benar tidak tega melihat keadaan Barrow. Entah dia makan atau tidak, yang pasti baju yang dia kenakan masih menggunakan baju terakhir kali mereka bertemu.
Di alam bawah sadar, Barrow berusaha mengumpulkan kekuatannya. Dia harus bisa, harus bisa terlepas dari belenggu Mariana namun sangatlah sulit. Suara yang memanggilnya waktu itu, yang menyadarkan dirinya. Dia ingin mendengar suara itu lagi tapi kenapaa suara itu sudah tidak bisa dia dengar lagi.
Barrow yang terus menembak tidak juga berhenti, peluru yang terselempang di dada terus berkurang. Kerusakan akibat timah panasnya semakin banyak, pohon-pohon sudah berantakan dan tidak beraturan. Anna masih bersembunyi sambil memegangi kepalanya agar tidak terkena senjata api yang terus di tembakan oleh Barrow.
Satu kesempatan, dia hanya butuh satu kesempatan saja. Sepertinya tidak ada jalan lain selain menunggu peluru senjata api milik Barrow habis karena jika dia salah maka dia akan terkena peluru senjata api Barrow.
"Musnahkan semua!" teriak Mariana marah sehingga Barrow semakin menggila menghancurkan sekitarnya.
"Kau gila, Mariana. Kau benar-benar gila. Aku akan menggagalkan kebangkitanmu, akan aku gagalkan!" Anna benar-benar kesal, air mata yang mengalir sedari tadi pun dihapus dengan kasar.
"Aku juga akan membunuh keturunan murnimu, aku bersumpah akan hal itu!" ucapnya lagi. Sungguh dia tidak terima Barrow dimanfaatkan sampai seperti itu.
Peluru senjata api Barrow semakin menipis, Anna menantikannya habis. Biarkan saja tempat itu hancur, dia memang berniat menghancurkan rumah tua itu jika semua sudah berakhir. Suara tembakan memecahkan heningnya malam. Mesin yang terus mengeluarkan timah panas akhirnya mati. Barrow sudah selesai menghancurkan hutan yang ada di sekitar rumah tersebut tapi dia tidak membunuh apa pun.
"Sial, ke mana larinya!" teriak Mariana marah. Dengan kekuatannya dia mencari tapi dia tidak menemukan siapa pun. Sepertinya orang yang menerobos masuk itu sudah pergi, dia yakin itu.
"Kembali berjaga dan ambil senjata lainnya!" perintah Mariana.
Barrow mengikuti perintah Mariana, mengambil senjata otomatis lain dan kembali berjaga seperti tadi. Mariana mulai membuat pelindung agar tidak ada yang bisa masuk lagi ke dalam tempat itu. Karena pelindung yang dia buat, rumah tua itu tidak akan bisa dilihat oleh orang awam.
Mariana benar-benar tidak menyadari, Anna berada di dalam dan berkat bantuan jimat dan roh pelindung, Mariana tidak bisa merasakan kehadirannya lagi di sana.
__ADS_1
Barrow sudah kembali ke posisi, Anna mengintip di balik semak. Dia mencoba merangkak dari dalam semak untuk mendekat. Kali ini tidak boleh gagal, dia harus bisa membius Barrow.
Jarak Anna semakin dekat, pistol bius sudah siap di tembakan. Anna masih berusaha membidik, gelapnya malam membuatnya sulit melihat target. Seharusnya dia membawa kaca mata infrared tapi dia harus mengambil di kantor jika menginginkan benda itu. Anna berusaha fokus, cahaya bulan sudah cukup untuk membuatnya melihat Barrow. Kini dia sudah siap dan dalam satu tarikan napas, Anna menembakkan senjata bius ke arah Barrow yang memiliki kewaspadaan tinggi. Dia harap senjata bius itu tidak meleset dan tepat sasaran karena hanya itu kesempatannya.